Jateng

RMINU Pati: Pesantren Harus Benar-Benar Ramah Anak dan Bersih dari Kekerasan Seksual

Selasa, 5 Mei 2026 | 15:00 WIB

RMINU Pati: Pesantren Harus Benar-Benar Ramah Anak dan Bersih dari Kekerasan Seksual

Ketua RMINU Pati, KH M. Liwauddin, didampingi Ketua Tanfidziyah PCNU Pati, KH Yusuf Hasyim, dan jajaran pengurus saat berikan keterangan kepada wartawan di Mapolresta Pati (Foto: LTNNU Pati/Angga Saputra)

Pati, NU Online

Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pati menegaskan komitmennya mengawal kasus dugaan pelecehan di Pesantren Ndholo Kusumo, Kecamatan Tlogowungu, hingga tuntas. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga citra Pati sebagai daerah religius dan cinta damai.

 

Ketua RMINU Pati, KH M. Liwa'uddin, menyatakan bahwa pesantren tersebut tidak berada di bawah naungan RMI. Meski demikian, pihaknya tetap aktif melakukan koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah pusat.

 

“Pesantren itu tidak di bawah RMI. Namun kami sudah berkoordinasi dengan Kemenag pusat, wilayah, dan kabupaten. Insyaallah dalam satu dua hari ini akan ada penutupan operasional sekaligus pencabutan izin,” ujarnya usai pertemuan PCNU dengan Kapolresta Pati di halaman Mapolresta, Senin (4/5/2026) diberitakan NU Online Jateng.

 

RMI juga mendesak aparat kepolisian segera menahan tersangka yang saat ini masih dalam proses pemanggilan. Menurutnya, percepatan penahanan penting agar perkembangan kasus dapat segera dilaporkan ke PBNU yang berkoordinasi dengan Mabes Polri.

 

“Kami meminta agar tersangka segera ditahan. Ini penting karena kami harus menyampaikan perkembangan kepada PBNU yang bekerja sama dengan Mabes Polri,” tegasnya.

 

Lebih lanjut, RMI bersama PCNU dan badan otonom NU membuka ruang pengawasan seluas-luasnya terhadap pesantren di wilayah Pati. Upaya ini bertujuan menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, bersih, dan ramah anak.

 

“Kami ingin pesantren di Pati benar-benar bersih dari kekerasan dan menjadi tempat yang ramah bagi anak. Kasus ini akan kami kawal sampai tuntas,” lanjutnya.

 

Terkait nasib santri, RMI menyebut mayoritas telah dipulangkan kepada orang tua. Sementara itu, bagi santri yatim piatu, RMI menyiapkan solusi penempatan sementara di pesantren yang aman.

 

“Santri yang yatim piatu sudah ditangani, sebagian diambil keluarga. Jika belum memungkinkan, kami siapkan pesantren untuk mereka,” jelasnya.

 

Ia menambahkan, kondisi pesantren saat ini telah kosong dan tertutup. Seluruh santri telah dipulangkan tanpa kendala berarti.

 

RMI berharap dukungan doa dari masyarakat agar proses hukum berjalan lancar serta pendampingan terhadap santri dapat segera tertangani dengan baik.

 

“Kami bersama NU dan badan otonom akan terus mengawal kasus ini agar cepat selesai dan memberi keadilan,” pungkasnya.