Warga Geruduk Pesantren Ndholo Kusumo Pati, Tuntut Pengusutan Dugaan Pelecehan Seksual
NU Online · Senin, 4 Mei 2026 | 06:00 WIB
Pati, NU Online
Ratusan massa menggeruduk Pondok Pesantren Ndholo Kusumo di Desa Tlogosari, Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati, Sabtu (2/5/2026) lalu. Massa aksi merupakan gabungan dari warga setempat, Aliansi Santri Pati untuk Demokrasi (Aspirasi), dan GP Ansor Pati.
Diberitakan NU Online Jateng, aksi ini merupakan puncak kegeraman warga atas dugaan tindakan pelecehan seksual yang dilakukan oleh oknum pengasuh pesantren tersebut terhadap puluhan santriwatinya.
Warga datang dengan membawa berbagai spanduk berisi tuntutan dan kecaman. Tulisan-tulisan seperti "Sang Predator", "Anak-anak adalah Masa Depan Bangsa, Bukan Objek Kepuasan", hingga "Perempuan Bukan Objek Seksual" mewarnai jalannya aksi protes di depan gerbang pesantren.
Ahmad Nawawi, salah satu perwakilan pemuda dan santri setempat, menyatakan bahwa tindakan oknum berinisial A tersebut telah mencoreng nama baik desa, institusi pesantren serta organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Meskipun belakangan diketahui bahwa pesantren Ndholo Kusumo tidak berafiliasi secara resmi dengan Rabithah Ma'ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU).
"Kami sangat resah karena yang bersangkutan membawa-bawa nama pesantren. Ini merusak citra pesantren, nama NU, dan nama baik desa kami," ungkap dia dalam laman NU Online Jateng.
Nawawi menambahkan, kabar mengenai perilaku menyimpang sang kiai sebenarnya sudah lama terdengar. Namun, selama ini para korban maupun orang terdekat tidak berani melapor karena adanya intimidasi.
"Banyak ancaman dari pihak pengasuh (pelaku). Dia sering mengancam bahkan memfitnah pihak-pihak yang mencoba mengungkap ini," ucap dia.
Mirisnya, dugaan perilaku menyimpang ini disebut-sebut sudah terjadi dalam rentan waktu yang sangat lama, yakni sejak tahun 1995. Pelaku dikabarkan sempat diusir dari lingkungan sebelumnya namun kembali menjalankan praktiknya di lokasi saat ini.
"Sosok A ini sebenarnya sudah lama tidak diterima masyarakat lokal. Pengikut atau simpatisannya justru banyak dari luar daerah. Dia juga merasa punya 'dekengan' (pelindung) yang membuat korban takut melapor," tegas Nawawi.
Selain dugaan pelecehan seksual, massa juga menuding adanya praktik penyimpangan lain yang dilakukan oknum tersebut, mulai dari dugaan penipuan hingga pemerasan.
Sementara itu, Koordinator Lapangan Aliansi Santri Pati untuk Demokrasi (Aspirasi), Cak Ulil, menegaskan bahwa kehadiran pihaknya adalah untuk memberikan pendampingan bagi para korban sekaligus menjaga marwah pesantren secara umum.
“Hari ini kami menyuarakan bahwa tindakan yang meresahkan masyarakat harus dilawan. Kami resmi membuka posko aduan bagi para santri yang mengalami pelecehan atau perlakuan tidak pantas di sana,” tegas Cak Ulil.
Sebagai bentuk keseriusan, Aspirasi juga menyediakan bantuan hukum secara gratis bagi para korban. Langkah ini diambil agar para korban yang selama ini merasa terintimidasi atau terbebani biaya bisa mendapatkan keadilan yang layak.
“Kami akan mengawal kasus ini sampai tuntas. Siapa pun korbannya, jangan takut, kami siap memberikan bantuan hukum gratis,” imbuh dia.
Saat ini, kasus dugaan pelecehan seksual di ponpes tersebut dilaporkan telah masuk ke ranah hukum dan tengah diproses oleh pihak kepolisian. Aliansi berkomitmen untuk memantau setiap tahapan proses hukum guna memastikan tidak ada intervensi.
Di sisi lain, Cak Ulil mengajak masyarakat untuk lebih berani melapor apabila mengetahui atau mengalami tindakan serupa. Hal ini dinilai penting untuk memutus mata rantai predator seksual yang bersembunyi di balik institusi pendidikan.
Meski kasus ini menyita perhatian publik, masyarakat dan Aliansi Santri menegaskan bahwa aksi mereka bukan untuk menyerang institusi pesantren, melainkan oknum yang merusaknya. Mereka tetap berkomitmen menjaga nama baik pesantren sebagai lembaga pendidikan agama yang sakral.
“Pesantren di Kabupaten Pati ini sangat banyak dan memiliki peran penting dalam mencerdaskan bangsa. Jangan sampai karena ulah satu oknum, kepercayaan masyarakat terhadap pesantren secara keseluruhan menjadi rusak,” tandas dia.
Terpopuler
1
Diduga Tertipu Program MBG, 13 Pengasuh Pesantren Minta Pendampingan ke LBH Ansor
2
Jadwal Puasa Sunnah Selama Mei 2026
3
Pelaku Pelecehan Santriwati di Pati Sudah Dinonaktifkan
4
KPAI Desak Proses Hukum Tegas Kekerasan Seksual terhadap 17 Santri di Ciawi Bogor
5
Hari Buruh 2026: Prabowo Wacanakan Penurunan Potongan Aplikator Ojol hingga di Bawah 10 Persen
6
10 Tuntutan BEM SI dalam Aksi Hari Pendidikan Nasional 2026 di Jakarta
Terkini
Lihat Semua