Direktur Gempa dan Tsunami BMKG Daryono Ajukan Pensiun Dini karena Distrofi Kornea, Kenali Penyakitnya
Sabtu, 21 Februari 2026 | 16:00 WIB
Jakarta, NU Online
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Daryono, mengajukan pensiun dini untuk fokus menjalani perawatan kesehatan. Ia menyampaikan tengah menderita distrofi kornea yang membutuhkan penanganan medis intensif.
Hingga 1 Mei 2026, Daryono masih tercatat sebagai pegawai BMKG, namun tidak lagi aktif menjalankan tugas struktural. “Hingga 1 Mei (2026) saya masih berstatus pegawai BMKG,” kata Daryono, dikutip dari Antara.
Meski demikian, ia menyatakan tetap berkomitmen berkontribusi dalam edukasi kebencanaan kepada publik.
Apa Itu Distrofi Kornea?
Distrofi kornea merupakan penyakit mata langka yang bersifat genetik. Menurut American Academy of Ophthalmology (AAO), kondisi ini adalah sekelompok gangguan turunan yang menyebabkan penumpukan materi abnormal di kornea, yakni lapisan bening di bagian depan mata yang berfungsi memfokuskan cahaya. Akibatnya, kornea dapat kehilangan kejernihan dan menyebabkan penglihatan kabur.
National Eye Institute (NEI) menjelaskan bahwa distrofi kornea umumnya diwariskan secara genetik, sering menyerang kedua mata, dan berkembang secara bertahap. Pada tahap awal, gejala bisa tidak terasa. Namun seiring waktu, penderita dapat mengalami gangguan penglihatan, silau berlebihan, nyeri, hingga sensasi seperti ada benda asing di mata.
Sementara itu, Mayo Clinic menyebutkan bahwa penyakit ini tidak disebabkan oleh infeksi, peradangan, atau cedera, melainkan kelainan genetik yang memengaruhi struktur atau fungsi lapisan kornea.
Beberapa jenis distrofi kornea yang dikenal antara lain distrofi Fuchs, lattice dystrophy, dan map-dot-fingerprint dystrophy. Pada distrofi Fuchs, terjadi gangguan pada lapisan endotel kornea yang berfungsi menjaga keseimbangan cairan. Kondisi ini dapat menyebabkan pembengkakan kornea dan penglihatan buram, terutama pada pagi hari.
Distrofi kornea diklasifikasikan berdasarkan lapisan kornea yang terdampak, yakni epitel (lapisan luar), stroma (lapisan tengah), dan endotel (lapisan dalam). Gejala umumnya meliputi penglihatan kabur, sensitivitas terhadap cahaya (fotofobia), mata berair, serta nyeri berulang akibat erosi kornea.
Penanganan bergantung pada tingkat keparahan. Pada kasus ringan, dokter dapat meresepkan tetes mata hipertonik atau salep untuk mengurangi pembengkakan. Pada kondisi lebih berat, terapi laser atau transplantasi kornea dapat menjadi pilihan untuk memperbaiki atau mengganti jaringan yang rusak.
Karena bersifat progresif dan sering tanpa gejala pada tahap awal, pemeriksaan mata rutin dianjurkan, terutama bagi yang memiliki riwayat keluarga dengan gangguan serupa.