Kesehatan

Kesadaran Masyarakat untuk Medical Check-Up Rendah, Psikolog Ungkap Faktor Penyebabnya

Kamis, 9 April 2026 | 17:30 WIB

Kesadaran Masyarakat untuk Medical Check-Up Rendah, Psikolog Ungkap Faktor Penyebabnya

Iustrasi periksa kesehatan. (Foto: Freepik)

Jakarta, NU Online

Kesadaran masyarakat untuk melakukan medical check-up atau pemeriksaan kesehatan rutin masih tergolong rendah. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai stigma dan nilai yang berkembang di masyarakat terkait kesehatan, baik fisik maupun mental.


Masyarakat cenderung memiliki pola pikir bahwa berobat ke dokter hanya dilakukan ketika sudah ada keluhan. Akibatnya, medical check-up sebagai upaya pemeliharaan kesehatan secara berkala belum menjadi prioritas. Dari sudut pandang psikologi kesehatan, kondisi ini berkaitan dengan cara individu memandang risiko dan kebutuhan dirinya.


Risma Amelia Widyawati, psikolog klinis di Rumah Sakit Prima Husada Sukorejo, Pasuruan, Jawa Timur, menyampaikan bahwa seseorang cenderung melakukan perilaku kesehatan jika merasa dirinya berisiko dan memahami manfaat dari tindakan tersebut.


“Sementara di masyarakat kita, banyak yang masih merasa baik-baik saja sehingga belum merasa perlu untuk check-up. Di sisi lain, individu juga belajar melalui modelling atau observational learning,” ungkap Risma kepada NU Online, Kamis (9/4/2026).


Ia menjelaskan, berbagai penelitian di bidang perilaku kesehatan menunjukkan bahwa keputusan melakukan pemeriksaan kesehatan tidak hanya dipengaruhi oleh pengetahuan, tetapi juga kebiasaan, norma sosial, serta cara lingkungan memandang hal tersebut.


Secara psikologis, masalah utama bukan sekadar kurangnya informasi, melainkan karena medical check-up belum terbentuk sebagai kebutuhan dan kebiasaan di masyarakat.


“Contohnya, saat kondisi ekonomi stabil tetapi belum ada keyakinan secara psikologis bahwa medical check-up itu penting, pada akhirnya seseorang tetap enggan melakukannya,” tambahnya.


Lebih lanjut, Risma menilai kebiasaan menunda pemeriksaan juga dipengaruhi faktor ekonomi dan akses sebagai pendukung, sementara faktor psikologis menjadi penentu utama.


“Dalam Health Belief Model, dijelaskan bahwa keputusan seseorang untuk melakukan pemeriksaan kesehatan sangat dipengaruhi oleh persepsi pribadi terhadap risiko dan kebutuhannya,” imbuhnya.


Pengaruh faktor psikologis ini sering kali lebih dominan. Meskipun akses dan biaya bukan hambatan, tanpa kesadaran dan kesiapan secara psikologis, individu tetap tidak melakukan pemeriksaan rutin.


Di samping itu, pola penyangkalan (denial) juga menjadi faktor yang cukup berpengaruh. Dalam psikologi, denial merupakan bagian dari defense mechanism, yaitu cara individu melindungi diri dari kecemasan dengan menolak realitas yang dirasa mengancam.


Ia juga menekankan bahwa sebagian orang masih memandang pemeriksaan ke tenaga profesional sebagai hal yang tidak terlalu perlu, bahkan dianggap berlebihan serta membuang waktu dan biaya.


“Kombinasi antara denial sebagai mekanisme internal dan stigma sebagai faktor sosial ini akhirnya membuat perilaku menunda pemeriksaan terus terjadi,” paparnya.


Faktor lain yang turut memperkuat adalah rasa takut dan kecemasan, seperti takut didiagnosis penyakit serius atau menghadapi hasil pemeriksaan. Beberapa individu juga cenderung menghindari hal yang menimbulkan ketidaknyamanan secara emosional.


“Selain faktor internal, ada pula faktor eksternal seperti lingkungan sosial, ekonomi, latar belakang pendidikan, serta akses layanan yang turut memengaruhi keengganan masyarakat untuk melakukan medical check-up secara rutin,” lanjutnya.


Keputusan seseorang sangat dipengaruhi oleh cara ia memandang kondisi dirinya. Persepsi merasa sehat sering membuat individu mengabaikan sinyal-sinyal kecil dari tubuh karena dianggap tidak serius. Akibatnya, pemeriksaan baru dilakukan ketika gejala sudah semakin berat.


“Persepsi merasa sehat ini menjadi salah satu faktor kuat yang membuat seseorang tidak melakukan pemeriksaan rutin, karena tidak muncul rasa kebutuhan atau urgensi dari dalam dirinya,” ujarnya.


Jika dibiarkan dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi membentuk pola pikir fixed mindset, yakni merasa selalu sehat dan baik-baik saja, yang justru tidak dianjurkan.


“Dampaknya bukan hanya keterlambatan penanganan kesehatan, tetapi juga terbentuknya pola pikir dan perilaku yang kurang adaptif dalam jangka panjang,” jelas Risma.


Karena itu, ia menegaskan pentingnya membangun kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin dengan mengubah pola pikir yang lebih sehat. Pembiasaan ini perlu dilakukan secara bertahap serta didukung pendekatan emosional agar medical check-up tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang mengancam.


“Bukan hanya soal memberikan informasi, tetapi juga membentuk pola pikir, kebiasaan, dan lingkungan yang mendukung agar medical check-up menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari,” pungkasnya.