Kesehatan

Keteledoran Juri LCC 4 Pilar di Kalbar Dinilai Berdampak pada Mental dan Psikis Anak

Kamis, 14 Mei 2026 | 09:00 WIB

Keteledoran Juri LCC 4 Pilar di Kalbar Dinilai Berdampak pada Mental dan Psikis Anak

Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar Kebangsaan di Kalimantan Barat. (Foto: tangkapan layar MPR RI)

Jakarta, NU Online

Keteldoran dewan juri dalam kompetisi Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar Kebangsaan di Kalimantan Barat dinilai menyisakan dampak psikologis bagi peserta didik dan berpotensi memengaruhi perkembangan mental anak.


Psikolog Windy Rainata menjelaskan, kompetisi seperti LCC bagi remaja bukan sekadar ajang perlombaan, melainkan ruang untuk membuktikan kemampuan diri sekaligus memperoleh pengakuan sosial.


“Pada usia SMP atau SMA, anak mulai membentuk konsep diri, rasa bersaing, dan kepercayaan terhadap diri sendiri maupun lingkungan. Ketika mereka merasakan dugaan ketidakadilan secara langsung, mereka bisa merasa usaha yang selama ini dilakukan tidak dihargai,” ujar Windy kepada NU Online, Selasa (12/5/2026).


Menurutnya, para peserta kemungkinan telah menjalani proses belajar dan latihan secara serius bersama guru mereka. Karena itu, ketika muncul penilaian yang dianggap tidak adil, anak dapat merasa hak-haknya tidak terpenuhi.


Windy mencontohkan salah satu alasan penilaian yang menyinggung persoalan artikulasi peserta. Menurutnya, hal tersebut berpotensi menurunkan rasa percaya diri anak, terutama apabila peserta merasa memiliki keterbatasan tertentu dalam pelafalan.


“Anak bisa merasa bingung, malu, kehilangan motivasi, bahkan mengalami tekanan emosional, terutama bagi mereka yang perfeksionis atau memiliki tekanan tinggi terhadap prestasi,” tambahnya.


Ia menilai pengalaman tersebut juga dapat memunculkan krisis kepercayaan (trust issue) pada anak. Dalam jangka panjang, anak bisa kehilangan motivasi karena merasa hasil tidak ditentukan oleh usaha yang sungguh-sungguh.


“Anak bisa menjadi pasif, menarik diri, dan merasa kerja keras tidak ada gunanya. Pada anak yang sensitif terhadap penilaian sosial, kondisi ini dapat berkembang menjadi learned helplessness,” ungkap Windy.


Selain peserta yang merasa dirugikan, Windy juga menyoroti dampak terhadap peserta lain yang dinyatakan menang oleh dewan juri. Menurutnya, mereka juga berpotensi menjadi sasaran perundungan karena dianggap memperoleh kemenangan yang tidak adil.


Karena itu, ia menegaskan pentingnya peran orang tua, guru, dan orang dewasa di sekitar anak untuk memberikan perlindungan serta pendampingan emosional kepada seluruh peserta.


“Anak-anak tidak bersalah dalam situasi ini. Karena itu, penting bagi orang dewasa untuk bersikap adil dan memberikan perlindungan kepada semua anak yang terlibat,” ujarnya.


Kecurangan Berisiko Memicu Stres hingga Trauma

Windy menambahkan, pengalaman seperti ini dapat memicu stres, kecemasan, bahkan trauma pada sebagian anak, tergantung usia, kepribadian, tingkat kematangan emosional, dan dukungan sosial yang dimiliki.


Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain anak menjadi gelisah ketika membahas lomba, menghindari pembicaraan terkait kasus tersebut, mudah marah, sulit berkonsentrasi, terus-menerus memikirkan kejadian lomba, hingga mengalami keluhan fisik seperti sakit kepala atau sakit perut tanpa sebab yang jelas.


“Tanda-tanda tersebut dapat menjadi indikasi awal stres, kecemasan, atau trauma dan perlu mendapatkan penanganan lebih lanjut,” katanya.


Pandangan serupa disampaikan Psikolog Klinis Alifa Fadia Ainaya. Ia mengatakan, ketika anak merasa diperlakukan tidak adil dalam sebuah kompetisi, dampaknya bukan sekadar soal kalah atau menang, melainkan menyangkut rasa kecewa, bingung, marah, dan merasa usahanya tidak dihargai.


“Pada anak dan remaja, pengalaman seperti ini bisa membekas karena mereka sedang berada pada fase membangun rasa percaya diri, harga diri, dan kepercayaan terhadap lingkungan sekitar,” ungkap Alifa kepada NU Online, Rabu (13/5/2026).


Ia menjelaskan, apabila situasi tersebut tidak diproses dengan baik, anak dapat menjadi lebih sensitif, mudah berpikir berlebihan, hingga takut gagal pada kesempatan berikutnya.


Dalam beberapa kasus, anak bahkan dapat mengalami gangguan seperti sulit tidur, kehilangan semangat belajar atau berlatih, serta takut mengikuti kompetisi kembali.


“Respons emosional seperti ini sebenarnya wajar ketika seseorang merasa diperlakukan tidak adil. Yang penting adalah bagaimana lingkungan membantu anak memproses emosinya agar tidak berkembang menjadi luka psikologis yang lebih dalam,” tegasnya.


Menurut Alifa, pengalaman dicurangi juga dapat membentuk pola pikir pesimis dan sinis apabila anak merasa kerja keras tidak lagi menentukan hasil.


“Anak bisa kehilangan kepercayaan terhadap sistem, terhadap orang lain, bahkan terhadap kemampuan dirinya sendiri,” ujarnya.


Meski demikian, ia menekankan bahwa dampak tersebut sangat dipengaruhi oleh respons orang dewasa di sekitar anak. Apabila anak mendapatkan pendampingan yang baik dan ruang untuk mengekspresikan perasaannya, pengalaman tersebut justru dapat menjadi proses pembelajaran tentang resiliensi.


Pentingnya Validasi Emosi Anak

Alifa menilai langkah pertama yang perlu dilakukan orang tua adalah menjadi tempat aman bagi anak untuk bercerita. Orang tua diminta tidak langsung fokus pada hasil kompetisi, melainkan mendengarkan emosi yang dirasakan anak.


“Biarkan anak marah, kecewa, sedih, atau menangis tanpa langsung dihakimi atau disuruh melupakan masalah,” paparnya.


Menurutnya, anak tidak selalu membutuhkan solusi cepat, tetapi membutuhkan perasaan bahwa emosinya dipahami dan diterima.


Ia juga menegaskan pentingnya validasi emosi dalam proses pemulihan psikologis anak. Kalimat sederhana seperti “wajar kalau kamu kecewa” atau “Mama paham ini pasti membuat sedih” dinilai dapat membantu anak merasa tidak sendirian menghadapi emosinya.


“Validasi bukan berarti membenarkan semua reaksi anak, tetapi membantu anak memahami bahwa perasaannya valid dan bisa diproses dengan cara yang sehat,” pungkasnya.