Kesehatan

Mengenal Henti Jantung Mendadak: Risiko, Gejala, dan Cara Mencegahnya

Selasa, 27 Januari 2026 | 13:00 WIB

Mengenal Henti Jantung Mendadak: Risiko, Gejala, dan Cara Mencegahnya

Ilustrasi penyakit jantung. (Foto: Freepik)

Jakarta, NU Online

Kabar meninggal dunia secara mendadak Lula Lahfah empat hari lalu menyita perhatian publik. Penyebab wafatnya selebgram tersebut, warganet awalnya menduga karena penyalahgunaan obat-obatan. Belakangan, pihak medis klinik di Depok, Jawa Barat menyatakan bahwa kematian Lula terjadi akibat henti jantung mendadak atau sudden cardiac arrest (SCA). Namun, polisi terus menyelidiki kasus kematian tersebut.


Adapun terkait henti jantung, dokter spesialis jantung Rumah Sakit Universitas Airlangga (RS Unair) Surabaya, Dian Paramita, menjelaskan bahwa henti jantung mendadak merupakan kondisi gawat darurat ketika jantung tiba-tiba berhenti berdetak akibat gangguan listrik atau irama jantung yang bersifat fatal. Akibatnya, aliran darah ke otak dan organ vital lainnya terhenti secara mendadak.


“Henti jantung mendadak berbeda dengan serangan jantung. Serangan jantung terjadi akibat penyumbatan pembuluh darah jantung oleh plak lemak yang pecah, sehingga menimbulkan gejala seperti nyeri dada,” ujar Dian kepada NU Online, Senin (26/1/2026).


Meski berbeda, Dian menegaskan bahwa serangan jantung juga dapat memicu terjadinya henti jantung mendadak. Penyebab utama SCA umumnya adalah aritmia fatal yang muncul secara tiba-tiba, sering kali dari penyakit jantung yang belum terdeteksi, seperti penyakit jantung koroner subklinis, kardiomiopati, kelainan elektrolit, kelainan genetik, hingga miokarditis.


“SCA dapat terjadi kapan pun dan di mana pun, termasuk di luar fasilitas kesehatan. Karena itu, edukasi masyarakat awam dan pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) menjadi sangat penting,” jelasnya.


Hingga kini, Indonesia belum memiliki data registri nasional khusus terkait SCA. Namun secara global, angka kejadian out-of-hospital cardiac arrest (OHCA) berkisar antara 30 hingga 100 kasus per 100.000 penduduk per tahun, dengan rata-rata sekitar 55 kasus. Di Amerika Serikat, tercatat sekitar 55 kematian akibat henti jantung mendadak setiap hari.


Dian menambahkan, seluruh faktor risiko penyakit jantung berkontribusi terhadap risiko SCA. Faktor tersebut meliputi kebiasaan merokok, konsumsi tinggi garam dan lemak trans, alkohol berlebihan, kurang aktivitas fisik, obesitas, hipertensi, dislipidemia, serta diabetes.


“Peran faktor risiko ini sangat berkaitan dengan terjadinya henti jantung mendadak,” katanya.


Ia menekankan pentingnya pemahaman masyarakat awam mengenai langkah awal Bantuan Hidup Dasar. Saat menemukan seseorang tiba-tiba tidak sadar, langkah pertama adalah mengamankan korban, memberi ruang, mengecek respons, dan segera memanggil bantuan medis atau ambulans.


“Jika memungkinkan, masyarakat awam dapat melakukan resusitasi jantung paru atau pijat jantung (hands-only CPR) sampai bantuan datang atau tersedia orang yang dapat mengoperasikan alat automated external defibrillator (AED),” paparnya.


Menurut Dian, otak hanya mampu bertahan sekitar empat menit tanpa oksigen. Bila henti jantung berlangsung lebih dari 10 menit, risiko kerusakan otak permanen sangat tinggi. Peluang hidup pasien akan menurun sekitar 7 hingga 10 persen setiap menit jika tidak dilakukan CPR atau defibrilasi dini.


“CPR membantu mempertahankan aliran darah minimal ke organ vital, sementara AED dapat menghentikan aritmia mematikan sehingga sirkulasi darah kembali,” terangnya.


Langkah preventif

Dian menyebut, langkah pencegahan paling efektif untuk menurunkan risiko SCA meliputi pemeriksaan kesehatan rutin, penerapan gaya hidup sehat, pengaturan pola makan rendah garam, olahraga teratur, serta edukasi keluarga pasien berisiko dan masyarakat awam terkait penanganan awal SCA. Selain itu, peningkatan ketersediaan AED di fasilitas umum dinilai sangat mendesak.


Mayoritas kasus OHCA terjadi di luar rumah sakit dan sering kali tanpa saksi terlatih. Bahkan di negara maju, tingkat kelangsungan hidup OHCA masih rendah, sekitar 7 persen. Oleh karena itu, peningkatan literasi publik tentang BHD, CPR, dan AED, serta penempatan AED di kantor, kampus, pusat olahraga, dan simpul transportasi diyakini dapat meningkatkan peluang hidup pasien secara signifikan.


Ia menambahkan, Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) bersama rumah sakit pendidikan terus mendorong pelatihan Bantuan Hidup Dasar sejak dini.


Sebagai rekomendasi kebijakan, Dian mendorong pemerintah dan lembaga publik untuk membentuk registri nasional SCA dan OHCA, menyusun kurikulum BHD, menggelar pelatihan massal, menyediakan AED di ruang publik, membuat peta digital nasional AED, serta mengintensifkan kampanye pencegahan penyakit jantung.