Nasional

3 dari 23 Orang Terinfeksi Hantavirus di Indonesia Meninggal Dunia, PDNU: Perlu Penanganan Serius

Selasa, 19 Mei 2026 | 14:00 WIB

3 dari 23 Orang Terinfeksi Hantavirus di Indonesia Meninggal Dunia, PDNU: Perlu Penanganan Serius

Ilustrasi Hantavirus. (Foto: NU Online/Freepik)

Jakarta, NU Online

 

Kementerian Kesehatan mencatat terdapat 23 kasus Hantavirus di Indonesia dengan tiga kematian atau sekitar 13 persen kasus sepanjang 2024-2026 yang tersebar di sembilan provinsi.

 

Ketua Perhimpunan Dokter Nahdlatul Ulama, dr Muhammad S Niam mengungkapkan bahwa penyakit zoonosis atau penyakit yang menular dari hewan ke manusia tersebut telah menjadi ancaman nyata bagi kesehatan masyarakat dan membutuhkan penanganan serius.

 

Ia menjelaskan bahwa mayoritas penularan Hantavirus berasal dari tikus dan celurut melalui urine, feses, saliva, gigitan, maupun debu yang telah terkontaminasi.

 

“Ditemukannya 23 kasus Hantavirus di Indonesia dengan tiga kematian harus menjadi warning. Penyakit yang penularannya melalui hewan seperti Hantavirus telah menjadi ancaman nyata bagi kesehatan masyarakat yang perlu penanganan serius,” ujar Niam kepada NU Online pada Senin (18/5/2026).

 

Niam menegaskan bahwa kesiapsiagaan sistem kesehatan nasional perlu segera diperkuat melalui tiga langkah krusial. Pertama, meningkatkan deteksi dini dengan memperkuat kewaspadaan klinisi terhadap gejala hantavirus yang hingga kini masih belum familiar bagi sebagian besar dokter layanan primer maupun masyarakat umum.

 

“Tanpa dugaan klinis yang baik, banyak kasus akan lolos dari surveillance,” katanya.

 

Kedua, ia menekankan pentingnya pemerataan fasilitas diagnosis penyakit. Menurutnya, pemeriksaan spesifik seperti PCR maupun serologi masih belum tersedia secara luas di berbagai daerah. Padahal alat tersebut sangat penting untuk memastikan diagnosis.

 

“Karena itu, perlu prioritas pengadaan alat di daerah dengan risiko tinggi terutama wilayah padat, sanitasi buruk, dan paparan tikus tinggi,” ujarnya.

 

Ketiga, Niam mendorong edukasi luas kepada masyarakat, khususnya kelompok pekerja yang memiliki risiko tinggi terpapar Hantavirus, seperti petani, petugas kebersihan, pekerja konstruksi, pengendali hama, hingga pembersih saluran air.

 

Ia mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran Hantavirus dan menjaga kebersihan lingkungan.

 

Niam menyampaikan bahwa gejala awal Hantavirus memiliki kemiripan dengan berbagai penyakit infeksi lain sehingga berpotensi menyebabkan keterlambatan diagnosis apabila kewaspadaan tenaga kesehatan tidak ditingkatkan.

 

“Karena banyaknya kemiripan gejala dengan banyak penyakit infeksi parasit lain pada fase awal penyakit maka tanpa kampanye kewaspadaan dini, kesigapan tenaga, dan pengadaan alat penentu diagnosis di fasilitas kesehatan pada daerah-daerah risiko tinggi, maka potensi keterlambatan diagnosis dengan segala akibatnya akan sangat besar,” katanya.

 

Niam mendesak pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk mencegah penyebaran kasus lebih luas. Langkah tersebut antara lain menggalang kampanye kewaspadaan terhadap Hantavirus, mengusahakan ketersediaan alat laboratorium untuk penentuan diagnosis, meningkatkan program sanitasi dan kesehatan lingkungan.

 

“Memperketat pengawasan pekerja kebersihan di area berisiko tinggi, serta meningkatkan peran masyarakat melalui pelatihan deteksi dini dan pelaporan penyakit kepada petugas kesehatan,” imbuhnya.