Nasional

Tak Perlu Panik, Epidemiolog Sebut Kebersihan Kunci Cegah Hantavirus

NU Online  ·  Selasa, 12 Mei 2026 | 11:00 WIB

Tak Perlu Panik, Epidemiolog Sebut Kebersihan Kunci Cegah Hantavirus

Ilustrasi Hantavirus. (Foto: NU Online/Freepik)

Jakarta, NU Online

Munculnya kasus Hantavirus di kapal pesiar MV Hondius yang menyebabkan tiga orang meninggal dunia dan lima lainnya terkonfirmasi terpapar memicu kekhawatiran publik. Epidemiolog Universitas Indonesia dr Syahrizal Syarif mengimbau masyarakat Indonesia untuk tidak panik karena karakteristik Hantavirus di Indonesia berbeda dengan yang ditemukan di kawasan Amerika.


Menurutnya, masyarakat perlu memahami bahwa Hantavirus memiliki beberapa jenis dengan dampak yang berbeda terhadap tubuh manusia. Ia menjelaskan bahwa terdapat jenis Hantavirus yang menyerang paru-paru dan ada pula yang menyerang ginjal.


“Hantavirus sesungguhnya situasinya tidak terlalu parah untuk Indonesia. Di Indonesia, memang, Hantavirus ini penyakit yang baru muncul. Penyakit baru sekitar 2015. Nah, yang mesti kita pahami ini ada dua jenis ya,” ujarnya kepada NU Online, Senin (11/5/2026).


Syahrizal menjelaskan jenis Hantavirus yang menyerang paru-paru umumnya ditemukan di kawasan Amerika. Virus tersebut ditularkan melalui tikus dan dapat menyebabkan gangguan serius pada sistem pernapasan. Sementara jenis yang ditemukan di Indonesia cenderung menyerang ginjal.


“Ada yang menyerang paru-paru, ada yang menyerang ginjal. Perbedaannya yang menyerang paru-paru itu umumnya Hantavirus yang ditularkan dari tikus di Amerika dan Amerika Selatan. Sementara yang di Indonesia, jenisnya itu yang menyerang ginjal,” jelasnya.


Meski sama-sama berasal dari tikus, Syahrizal menilai pola penularannya berbeda. Ia menyinggung kasus di kapal pesiar MV Hondius yang diduga memungkinkan adanya penularan antarmanusia karena terdapat pasangan suami istri yang sama-sama terinfeksi.


“Dari bukti yang ada di kapal pesiar karena ada suami istri yang terkena, kemungkinan besar bisa ditularkan dari orang ke orang. Sementara yang di Indonesia tidak menular dari orang ke orang,” tuturnya.


Ia menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu terlalu khawatir karena jumlah kasus di Indonesia relatif kecil. Dalam dua tahun terakhir, kasus yang tercatat disebut hanya sekitar 23 kasus.


“Orang Indonesia tidak usah terlalu khawatir. Jenis Hantavirusnya berbeda, ya. Kasusnya selama dua tahun paling 23 kasus, kecil sekali ya,” ujarnya.


Lebih lanjut, Syahrizal menjelaskan gejala Hantavirus di Indonesia umumnya berupa demam, nyeri, lemas, hingga gangguan ginjal.


Pelaksana Tugas (Plt) Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) itu mengimbau masyarakat agar menjaga kebersihan lingkungan rumah, terutama area gudang yang berpotensi menjadi sarang tikus.


Ia menambahkan, masyarakat agar tidak langsung menyapu kotoran tikus karena dapat berubah menjadi debu dan berisiko masuk ke saluran pernapasan. Penggunaan cairan desinfektan dan masker disebut menjadi langkah sederhana namun penting untuk mencegah penularan.


“Penyakit ini sangat berkaitan dengan kebersihan terutama kalau di rumah ada gudang dan ada tikusnya. Jadi, kalau bisa nyapu-nyapu gudang pakai masker untuk mencegah penyakit masuk ke tubuh kita,” pungkasnya.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang