Nasional

Wabah Hantavirus, Epidemiolog UGM Paparkan Penularannya dari Tikus ke Manusia

NU Online  ·  Rabu, 13 Mei 2026 | 08:00 WIB

Wabah Hantavirus, Epidemiolog UGM Paparkan Penularannya dari Tikus ke Manusia

Tangkapan layar Zoom akademisi Universitas Gadjah Mada, dr. Riris Andono Ahmad dalam Webinar Hantavirus: Ancaman Lama yang Kembali Mencuri Perhatian Dunia pada Selasa (12/5/2026).

Jakarta, NU Online

Dosen Departemen Biostatistik, Epidemiologi, dan Kesehatan Populasi Universitas Gadjah Mada (UGM), dr. Riris Andono Ahmad menyoroti wabah Hantavirus yang terjadi di kapal pesiar internasional dan kini menjadi perhatian dunia kesehatan global.

 

Kasus tersebut kembali membuka ancaman penyakit zoonosis yang berasal dari hewan pengerat seperti tikus dan berpotensi memicu kepanikan publik apabila tidak ditangani secara cepat dan terkoordinasi.


Ia menjabarkan sebanyak delapan orang terinfeksi, terdiri atas enam kasus terkonfirmasi dan dua kasus suspek. Dari jumlah tersebut, tiga orang meninggal dunia, dengan tingkat kematian mencapai sekitar 37,5 persen. Kasus ini melibatkan warga dari berbagai negara, yakni Belanda, Afrika Selatan, Inggris, Jerman, Swiss, dan Argentina.


“Virus penyebabnya adalah Virus Andes, salah satu jenis hantavirus yang berasal dari Amerika Selatan,” ujar Andono dalam Webinar Hantavirus: Ancaman Lama yang Kembali Mencuri Perhatian Dunia pada Selasa (12/5/2026).


Andono mengatakan virus Andes dikenal sebagai penyebab Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), yakni penyakit yang menyerang paru-paru dan memiliki tingkat kematian tinggi hingga sekitar 40 persen.


“Virus ini menjadi salah satu hantavirus paling mematikan yang pernah teridentifikasi, khususnya di Amerika,” katanya.


Ia mengungkapkan bahwa penyebaran hantavirus terbagi menjadi dua kelompok besar. Old World Hantaviruses atau hantavirus Dunia Lama ditemukan di Asia dan Eropa, seperti virus Hantaan dan Seoul, yang umumnya menyebabkan gangguan ginjal atau Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS).


“Sementara, New World Hantaviruses atau hantavirus Dunia Baru ditemukan di kawasan Amerika, seperti virus Sin Nombre, yang umumnya menyebabkan gangguan paru-paru atau HPS,” je;asnya.


Andono menjelaskan bahwa jalur utama penularan hantavirus terjadi dari tikus ke manusia. Hantavirus termasuk dalam famili Bunyaviridae. Berbeda dengan virus Bunyavirus lain yang ditularkan melalui serangga atau arthropoda, hantavirus justru ditularkan melalui hewan pengerat atau rodensia.


“Penularan paling umum terjadi melalui menghirup partikel virus dari urin dan feses tikus, kontak dengan permukaan yang terkontaminasi, serta gigitan tikus meski kasusnya jarang terjadi,” ucapnya.


Ia menyampaikan mengenai jalur inhalasi sebagai pintu masuk virus ke tubuh manusia. “Ketika kotoran tikus yang telah mengering terganggu, misalnya saat proses menyapu ruangan, virus yang tidak terlihat ini dapat beterbangan ke udara dan kemudian terhirup masuk ke paru-paru manusia,” ujarnya.


Selain penularan dari hewan ke manusia, Virus Andes disebut sebagai satu-satunya hantavirus yang dapat menular antar manusia. “Penularan antar manusia dapat terjadi melalui kontak dekat dalam waktu lama dan paparan cairan tubuh penderita,” ujarnya.


Andono menegaskan bahwa risiko pandemik global akibat kasus ini relatif rendah. “Risiko hantavirus dengan jenis Andes ini rendah,” katanya.


Ia menyampaikan bahwa Virus Andes di Indonesia penularan antar manusia masih terbatas, penularan hanya terjadi saat pasien bergejala, tidak adanya reservoir tikus di banyak negara lain, pelacakan kontak berjalan efektif, serta respons internasional yang dinilai cepat dan terkoordinasi.

 

Meski Hantavirus di Indonesia tidak sebanyak negara lain, Andono menghimbau masyarakat agar menghindari paparan tikus, dan rajin mencuci tangan.


“Walau keberadaan tikus yang beragam di Indonesia kita juga perlu waspada. Sanitasi dan pengendalian populasi tikus juga masih menjadi tantangan serius dalam sistem kesehatan global,” ujarnya.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang