Nasional

8 Ragam Pendapat Ulama mengenai Waktu Peristiwa Isra Mi'raj

Jumat, 16 Januari 2026 | 18:00 WIB

8 Ragam Pendapat Ulama mengenai Waktu Peristiwa Isra Mi'raj

Ilustrasi Isra Miraj. (Foto: NU Online)

Jakarta, NU Online

Umumnya umat Islam meyakini bahwa peristiwa Isra Mi'raj terjadi pada tanggal 27 Rajab. Namun ternyata, ada ragam pandangan dari para ulama mengenai waktu peristiwa Isra Miraj tersebut.


Setidaknya, ada delapan ragam pandangan ulama mengenai waktu Isra Mi'raj terjadi. Hal ini sebagaimana dijelaskan Ustadz M Alvin Nur Choironi dalam tulisan berjudul Benarkah Isra dan Mi'raj Terjadi pada Bulan Rajab? yang dikutip NU Online pada Jumat (16/1/2026).


Artikel tersebut merujuk pada tiga kitab, yakni (1) Rakhiqul Makhtum karya Syekh Sofiyurrahman Al-Mubarakfuri, (2) Umdatul Qari karya Imam Badaruddin Al-Aini, dan (3) Al-Minhaj karya Imam An-Nawawi


Pertama, pendapat yang mengatakan bahwa Isra dan Mi'raj terjadi pada tahun kedua setelah diutusnya Nabi Muhammad sebagai Nabi. Kedua, Isra dan Mi'raj terjadi pada tahun ke-5 setelah diutusnya Nabi. Pendapat ini didukung oleh An-Nawawi dan Al-Qurthuby.


Ketiga, pendapat yang lazim diyakini umat Islam, yakni 27 Rajab tahun ke-10 setelah diutusnya Nabi. Pandangan ini dipilih oleh Al-Manshur Faury.  


Keempat, bukan di bulan Rajab, melainkan di bulan Rabiul Awal tahun ke-13 setelah diutusnya Nabi atau setahun sebelum hijrahnya Nabi ke Madinah. Pendapat ini disampaikan Amam Al-Baihaqi yang mengutip pendapat Az-Zuhri.


Kelima, Isra dan Mi'raj terjadi pada bulan Zulqa’dah, tepatnya 19 bulan sebelum peristiwa Hijrah. Pandangan ini berasal dari As-Sa'di.


Keenam, peristiwa Isra dan Mi'raj terjadi pada tanggal 27 Rabiul Akhir, satu tahun sebelum Nabi berhijrah ke Madinah. Ini menurut pandangan Al-Harby.


Ketujuh, ada yang berpendapat peristiwa tersebut terjadi pada bulan Ramadhan tahun ke-12 setelah kenabian, bertepatan dengan 16 bulan sebelum hijrahnya Nabi. 


Kedelapan, peristiwa istimewa itu terjadi pada bulan Muharram 13 tahun setelah kenabian, yaitu bertepatan dengan satu tahun dua bulan sebelum hijrahnya Nabi.


Dari berbagai pandangan itu, Ustadz Alvin menyampaikan bahwa perbedaan ini disebabkan adanya keragaman gaya perhitungan dari masing-masing pendapat tersebut. Ada pendapat yang mendasarkan pada sebuah kejadian, seperti sudah tersebarnya Islam di Makkah dan lain sebagainya. Namun, ada juga yang mengacu pada jumlah bulan setelah diutusnya Nabi ataupun sebelum hijrahnya nabi. Karenanya, wajar jika menimbulkan banyak pendapat.


"Secara pasti memang tidak bisa disimpulkan pendapat mana yang paling benar. Hanya saja, semua pendapat-pendapat tersebut mengarah kepada dua hal, yakni Isra dan Mi'raj terjadi setelah diutusnya Nabi Muhammad sebagai nabi dan sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah,” bebernya.


Oleh karena itu, Ustadz Alvin menyampaikan, tidak perlu bingung mengenai kapan seharusnya memperingati Isra Mi'raj. Pasalnya, hal yang paling penting pada momen peringatan Isra dan Mi'raj adalah semangat untuk selalu mengingat usaha dan jerih payah Nabi Muhammad untuk umatnya.


“Terlebih dalam hal bilangan shalat fardhu. Serta kisah-kisah pertemuan nabi dengan berbagai kejadian yang mengiringi Isra dan Mi'raj,” jelasnya.


"Karena yang paling penting adalah belajar dari kejadian-kejadian tersebut dan muhasabah diri agar menjadi umat Nabi Muhammad saw yang taat terhadap semua tuntunan-tuntunannya,” pungkasnya.