AI Teaching Power Batch 3 Cetak Guru dan Sekolah Inspiratif Berbasis AI
Selasa, 5 Mei 2026 | 19:00 WIB
Fauzan, pendidik sekaligus pengelola MTs dan Pondok Pesantren Assasul Muttaqin di Sumenep, Madura, yang ditetapkan sebagai Teacher of the Batch Batch 3. (Foto: dok NU Care Global)
Jakarta, NU Online
Program AI Teaching Power Batch 3 kembali menunjukkan dampak nyata dalam dunia pendidikan, khususnya di lingkungan pesantren dan madrasah. Program ini merupakan inisiatif kolaboratif yang digagas Microsoft Elevate bersama NU Care Global dan NU Care-LAZISNU sebagai mitra pelaksana.
Melalui penetapan Teacher of the Batch dan School of the Batch, program ini tidak hanya memberikan apresiasi, tetapi juga menampilkan praktik baik pemanfaatan artificial intelligence (AI) yang adaptif, kontekstual, dan tetap berlandaskan nilai-nilai pendidikan.
Salah satu sosok inspiratif adalah Fauzan, pendidik sekaligus pengelola MTs dan Pondok Pesantren Assasul Muttaqin di Sumenep, Madura, yang ditetapkan sebagai Teacher of the Batch Batch 3. Penghargaan ini diberikan atas konsistensinya selama program, peran aktif dalam implementasi, serta kemampuannya memanfaatkan AI secara kontekstual dan beretika di lingkungan pesantren.
Sebelum mengikuti pelatihan, Fauzan mengaku hanya mengenal AI secara terbatas, sebatas penggunaan chatbot untuk kebutuhan pribadi. Namun, melalui program ini, cara pandangnya berubah. Ia mulai melihat AI sebagai alat strategis yang membantu pekerjaan guru, mulai dari penyusunan kurikulum hingga administrasi pembelajaran.
Kehadiran Microsoft Copilot, menurutnya, membuka perspektif baru bahwa AI dapat menjadi mitra kerja yang efektif. Transformasi tersebut kemudian diwujudkan dalam praktik nyata di pesantren.
AI digunakan untuk menyusun modul ajar, kurikulum, hingga dokumen pembelajaran secara lebih cepat dan sistematis. Selain itu, ia juga memanfaatkan fitur berbasis AI untuk memantau kemampuan membaca santri, termasuk saat berada di luar pesantren. Hal ini membuat pembelajaran menjadi lebih fleksibel dan tidak terbatas ruang.
Dampaknya terasa langsung pada santri. Proses belajar menjadi lebih mudah diakses, interaktif, dan berkelanjutan. Fauzan juga mulai mengenalkan keterampilan baru, seperti menyusun prompt yang tepat, sebagai bagian dari literasi digital.
Meski demikian, ia menekankan pentingnya adab dan tanggung jawab dalam penggunaan teknologi. AI, menurutnya, bukan pengganti guru, melainkan alat bantu yang tetap membutuhkan arahan dan validasi.
Selain pada tingkat individu, dampak program juga terlihat pada institusi. Yayasan MI Miftahul Ulum Probolinggo ditetapkan sebagai School of the Batch Batch 3 berkat partisipasi aktif dan komitmen dalam mengintegrasikan AI ke dalam ekosistem pembelajaran.
Keberhasilan ini tidak lepas dari kepemimpinan yang proaktif. Ketua yayasan, Muslih, terlibat langsung dalam pelatihan dan mendorong seluruh guru di berbagai jenjang, mulai dari RA, MI, hingga MTs, untuk berpartisipasi. Pendekatan ini menciptakan budaya belajar kolaboratif dan membuka ruang transformasi yang lebih luas.
Sebelum program berjalan, para guru telah mengenal AI, namun penggunaannya masih terbatas. Melalui AI Teaching Power, pemanfaatan teknologi menjadi lebih terarah. Dengan dukungan Microsoft 365, khususnya Copilot, guru kini mampu menyusun materi ajar, lembar kerja, hingga media pembelajaran secara lebih menarik dan sistematis.
Perubahan ini meningkatkan efisiensi kerja guru sekaligus kualitas penyampaian materi di kelas. Antusiasme guru pun meningkat seiring kemudahan yang dirasakan dalam proses pembelajaran. Meski demikian, tantangan infrastruktur masih menjadi catatan, terutama terkait kebutuhan perangkat pendukung di kelas.
Terlepas dari tantangan tersebut, komitmen yayasan untuk terus berkembang tetap kuat. Dengan kepemimpinan yang aktif dan budaya belajar yang terbuka, Yayasan MI Miftahul Ulum menunjukkan bahwa transformasi digital di lingkungan madrasah dapat memberikan dampak nyata.
Penetapan Fauzan sebagai Teacher of the Batch dan Yayasan MI Miftahul Ulum sebagai School of the Batch menjadi refleksi tujuan utama program ini, yakni menghadirkan pendidik dan institusi yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman.
Dari ruang kelas di Madura hingga ekosistem pendidikan di Probolinggo, AI Teaching Power Batch 3 menunjukkan bahwa transformasi pendidikan dapat tumbuh dari individu dan berkembang secara kolektif, menghadirkan pembelajaran yang lebih relevan, inklusif, dan siap menghadapi masa depan.