Nasional

Aksi Kamisan Ke-898 Soroti Pembungkaman Anak dan Krisis Lingkungan

Kamis, 19 Februari 2026 | 22:00 WIB

Aksi Kamisan Ke-898 Soroti Pembungkaman Anak dan Krisis Lingkungan

Zilla (15), seorang kreator konten remaja, berorasi saat menghadiri Aksi Kamisan Ke-898 di depan Istana Negara, Jakarta, pada Kamis (19/2/2026). (Foto: dok. Aksi Kamisan)

Jakarta, NU Online

Aksi Kamisan Ke-898 digelar dengan tema Hari Keadilan Sosial Sedunia dan Keadilan Berbasis Penegakan HAM di depan Istana Negara, Gambir, Jakarta Pusat, Kamis (19/2/2026).


Kreator konten, Zilla (15) menceritakan ancaman serta peringatan dari kepolisian yang disampaikan melalui keluarga dan pihak sekolah setelah kontennya terkait Rancangan Undang-Undang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (RUU KUHAP) viral.


“Aku punya pengalaman, di mana konten aku viral tanggal 13 Desember 2025. Aku dipanggil sama ayahku saat aku sedang ikut suatu aksi. Sekitar jam 12, ayahku yang saat itu berada di kantor RW tiba-tiba bilang kalau dirinya, mamaku, dan kepala sekolah ditelepon polisi karena kontenku yang viral itu,” ujarnya.


Zilla menuturkan, kepala sekolahnya mendapat ancaman akan dipecat dan citra sekolah akan dirusak jika konten tersebut tidak dihapus hingga pukul 14.00 WIB.


“Padahal kontenku itu aku nggak nyebut personal, aku nggak nyinyir siapa pun. Aku cuma bersuara karena merasa RUU KUHAP ini nggak benar. Aku juga mencari riset di internet, ternyata banyak anak muda seusiaku, bahkan siswa SMP, ketika bersuara justru dibungkam,” ujarnya.


Zilla juga menyampaikan bahwa pola pembungkaman terhadap anak di bawah umur kerap dilakukan melalui keluarga dan sekolah. Sementara bagi mereka yang berusia di atas 18 tahun, risikonya bisa lebih berat, seperti dikriminalisasi hingga kekerasan.


“Takut bukan alasan buat kita nggak bersuara. Karena dari Kamisan ini, kita sudah mendekati Kamisan Ke-900. Tapi nyatanya, ketika kita tidak memberontak dan tidak membuat kerusuhan, kita tidak didengar sama sekali. Jadi kita harus tetap bersuara, teman-teman,” serunya.


Dalam kesempatan yang sama, mahasiswa asal Semarang, Wina, menyampaikan keresahannya terkait persoalan lingkungan yang diprivatisasi dan berdampak pada banjir rob di wilayah Semarang.


“Nelayan di sana sudah sangat rentan. Mereka minim mata pencaharian harian untuk mendapatkan ikan. Di sana mereka sangat sulit mendapatkan ikan,” ujarnya.


“Bahkan Jawa Tengah, yang merupakan salah satu lumbung padi terbesar di Indonesia, sawah mereka kini berubah menjadi kawasan industri. Padahal kita makan nasi sebagian besar berasal dari daerah Jawa Tengah,” tambahnya.


Wina juga mengingatkan pentingnya kesadaran terhadap relasi manusia dengan alam. Ia menekankan bahwa manusia tidak bisa lepas dari alam serta peran orang-orang yang berkontribusi terhadap kebutuhan pangan sehari-hari.


“Aku harap semua isu yang kita kawal bersama jangan sampai maskulin. Jangan sampai kita lupa bahwa masih ada peran-peran gender di sana peran ibu, bapak, nelayan, petani, dan kelompok lain yang rentan, termasuk rentan dikriminalisasi,” pungkasnya.