Nasional

Bayang-Bayang Harga BBM Naik, Pengemudi Ojol Keluhkan Ongkos Murah dan Biaya Bensin Tinggi 

Kamis, 2 April 2026 | 14:30 WIB

Bayang-Bayang Harga BBM Naik, Pengemudi Ojol Keluhkan Ongkos Murah dan Biaya Bensin Tinggi 

Pengemudi ojol yang ditemui NU Online di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, pada Rabu (1/4/2026). (Foto: NU Online/Ella)

Jakarta, NU Online

Salah satu pengemudi ojek online (ojol), Sunarti, mengungkapkan kekhawatirannya atas kemungkinan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Hal itu membuat sejumlah pengemudi ojek online (ojol) ikut antre panjang di SPBU Raya Condet, dekat lampu merah Cawang, pada Selasa (31/3/2026) malam. Jika biasanya antrean hanya dua jalur, maka pada malam itu antreannya mencapai empat hingga lima jalur.


Menurut Sunarti, kenaikan harga BBM makin memberatkan pengemudi ojol. Mereka saat ini  sudah terbebani dengan tarif aplikasi yang dinilai terus dipangkas.


“Bingung, kalau bensin naik, pengemudi ojol makin dicekik. Ongkos makin murah, tambah ada paket hemat, sementara kita beli bensin sama-sama naik,” ujar Sunarti, saat ditemui NU Online, di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, pada Rabu (1/4/2026). 


Lebih lanjut, Sunarti menerangkan bahwa kondisi tersebut terasa tidak adil apabila kenaikan harga BBM ditambah potongan paket hemat, seperti langganan gacor (langcor), yang otomatis mengambil saldo rekening sebesar Rp20 ribu per hari.


“Memang dikasih orderan terus, tapi kalau saya berpikirnya, kita sudah murah ongkos. Bensin saja mau naik, terus ikut langganan gacor. Kayaknya mungkin benar-benar tidak adil banget,” imbuhnya


Menurut Sunarti, beban pengeluaran semakin besar, tetapi ongkos order justru semakin murah. Meski hasilnya terasa pas-pasan, para pengemudi ojol tetap harus bekerja karena belum ada pilihan pekerjaan lain.


Sunarti berharap, pemerintah segera membenahi kebijakan yang berkaitan dengan BBM dan transportasi agar tidak semakin menekan pengemudi ojol.


Ia menilai, masyarakat kecil menjadi pihak yang paling merasakan dampak, sehingga kebijakan yang diambil seharusnya lebih berpihak pada kebutuhan rakyat sehari-hari.  


NU Online juga menemui Kamal, pengemudi ojol lainnya. Ia mengatakan bahwa kondisi BBM sejauh ini masih normal dan belum ada kenaikan harga.


Kamal mengaku mengetahui isu kenaikan harga BBM dari ponsel, tapi saat mengisi bensin, biasanya di SPBU Kwitang dan Kebon Manggis, sebanyak 1 liter harga masih Rp10 ribu dan stok masih seperti biasa. 


Menurutnya, antrean panjanv di SPBU pada penghujung Maret itu lebih dipengaruhi penutupan SPBU lain di sekitar lokasi, sehingga kendaraan menumpuk di satu titik.


Kamal menjelaskan, kenaikan harga BBM baru akan terasa jika benar-benar diberlakukan karena biaya operasional sangat bergantung pada order, jarak tempuh, dan kondisi jalan. 


“Intinya dari orderan, pendapatan, jarak tempuh penjemputan sama pengantaran dan jalan kadang macet. Itu yang bikin boros BBM. Kalau normal agak irit. Cuma kalau jalur-jalur macet, namanya BBM kan pasti jalan terus,” ujar Kamal. 


Lebih lanjut, kemacetan menjadi salah satu faktor yang membuat konsumsi bensin lebih boros dibanding jalur yang lancar.


Meski pendapatan saat ini masih aman, ia berharap jika BBM benar-benar naik, pemerintah bisa mengoreksi kebijakan secara menyeluruh karena dampaknya tak hanya ke transportasi, tetapi berpotensi pada kenaikan harga bahan pokok. 


Kontributor: Nisfatul Laila