Belajar dari Abu Bakar dan Umar, Gus Mus Tekankan Uzlah di Tengah Keramaian
Senin, 23 Februari 2026 | 21:00 WIB
Jakarta, NU Online
Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Mustofa Bisri kembali mengingatkan bahwa kalbu atau hati itu paling bermanfaat jika diisi uzlah dalam medan tafakur. Jika uzlah atau menyendiri hanya untuk tidur, itu tidak ada manfaatnya bagi hati.
“Yang dimaksud uzlah adalah menyendiri untuk berpikir dan merenung,” katanya saat menyampaikan Pengajian Ramadhan mengulas Kitab Al-Hikam Ibnu Athailah sebagaimana ditayangkan YouTube NU Online diakses Senin (23/2/2026).
Selanjutnya, Gus Mus menyebutkan bahwa uzlah dilakukan di tempat sepi seperti gunung-gunung. Namun ada tingkatan yang lebih tinggi lagi seperti dilakukan para sahabat Nabi.
“Abu Bakar adalah wali yang sangat tinggi derajatnya, tapi beliau tidak menyepi di gunung. Justru setiap hari berada di pasar karena bekerja dan berdagang. Umar juga berdagang. Mereka bergaul dengan orang banyak, tapi tidak terganggu oleh keramaian. Pasar tidak mengganggu hati mereka. Karena hati mereka selalu bersama Allah Taala,” terang Gus Mus.
Hal itu sangat berbeda dengan manusia pada umumnya seperti masyarakat zaman sekarang. “Kalau di pasar ya ikut suasana pasar. Di terminal ya ikut suasana terminal. Maka bagi kita perlu uzlah, perlu menyepi,” kata Gus Mus.
‘Menyepi’ di keramaian juga perlu dipelajari dan diamalkan. Ia mencontohkan para sahabat Nabi yang merupakan para wali. Menurutnya, tidak ada yang lebih tinggi kewaliannya dari mereka.
“Namun mereka tetap hidup seperti manusia biasa dan bergaul seperti biasa. Itulah keistimewaan dan kekuatan mereka,” imbuh Gus Mus.
Kemudian, kata Gus Mus, ada pertanyaan, Bagaimana mungkin hati bisa bercahaya jika segala urusan duniawi masih tercetak dalam cermin hati? Bagaimana mungkin seseorang bisa berjalan menuju Allah sementara ia masih terikat oleh syahwatnya? Bagaimana mungkin ia berharap masuk ke hadirat Allah sementara ia belum suci dari kotoran dosa dan belum membersihkan rahasia batinnya? Bagaimana mungkin hati bisa bersinar jika cerminnya masih dipenuhi bayangan-bayangan dunia?
Menurut para ahli tasawuf, lanjut Gus Mus, hati (qalb) itu seperti cermin. Jika seseorang banyak dosa, hatinya kotor oleh iri, dengki, sombong, dan berbagai penyakit batin lainnya, maka cermin itu menjadi buram.
“Padahal cermin yang seharusnya bisa memantulkan sesuatu tidak akan bisa memantulkan apa-apa jika tertutup kotoran. Jika dibersihkan sampai benar-benar bersih, barulah ia mampu memantulkan apa yang ada di hadapannya,” ungkapnya.