Nasional

Dari Jember ke Jambi, Perjalanan Panjang Dai Penggerak 3T Mengajar Suku Anak Dalam

Senin, 14 September 2026 | 18:15 WIB

Dari Jember ke Jambi, Perjalanan Panjang Dai Penggerak 3T Mengajar Suku Anak Dalam

Persiapan perjalanan Dai Penggerak 3T ke Jambi, akhir Agustus 2026 (NU Online Institute)

Jambi, NU Online 

Debu mengepul setiap kali kendaraan melintasi jalan berbatu menuju Punti Kayu 2, Desa Bukit Suban, Kecamatan Air Hitam, Sarolangun, Jambi pada satu sore di akhir Agustus 2026. Musim kemarau membuat perjalanan menuju kawasan tempat tinggal Suku Anak Dalam (SAD) itu terasa semakin berat.

 

Sekitar pukul 17.00 WIB, Satrio Galih Widigdyo akhirnya tiba di lokasi yang dia tuju. Mahasiswa Fakultas Tarbiyah Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Al Falah Assunniyyah (UAS) Kencong, Jember, itu datang sebagai salah satu Dai Penggerak Nusantara yang dikirim NU Online Institute untuk berdakwah di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal).

 

Galih menceritakan, dirinya mendapat penugasan di Punti Kayu 2, kawasan yang sebelumnya bahkan belum pernah ia dengar. Ia baru mengenal nama Sarolangun dan Bukit Suban setelah mencari lokasi tersebut melalui Google.

 

"Perjalanan menuju tempat pengabdian ini tidak singkat. Sepekan sebelumnya, pada pukul 18.10 WIB, saya diantar keluarga menuju Stasiun Tanggul," tutur Galih kepada NU Online, Ahad (13/9/2026).

 

Ia kemudian naik kereta menuju Semarang bersama Ahmad Yaafi Kholilurrahman atau Kang Yafi. Perjalanan dari Tanggul menuju Semarang berlangsung hampir tujuh jam. Karena baru pertama kali datang di Semarang, Galih sempat kesulitan menemukan lokasi. Ia mengandalkan Google Maps hingga akhirnya tiba di pondok.

 

Setelah bermukim selama sehari dua malam, Galih dan rombongan mengikuti pelatihan offline di Kendal Jawa Tengah selama dua hari, 16-17 Agustus 2026. 

 

Dari Kendal, perjalanan menuju Jambi kembali dilanjutkan. Bus dari Terminal Bawen, Semarang, menuju Jambi membutuhkan waktu sekitar dua hari. Perjalanan sempat mengalami keterlambatan hingga rombongan tiba di Sarolangun lebih lambat dari perkiraan.

 

Di Singkut, Galih dan Kang Yafi disambut Ustadz Syamsul Huda dan Ustadz Arif Purnomo, dua dai yang sebelumnya berdakwah di Punti Kayu 2. Mereka sempat singgah di Pondok Pesantren Nurul Jadid Singkut. Setelah beristirahat, perjalanan menuju lokasi dakwah dilanjutkan. Sekitar pukul 07.00 WIB, rombongan berangkat menuju Bukit Suban.

 

Galih menuju Suku Anak Dalam Bukit Suban, sementara dua dai lainnya berdakwah di Pondok Pesantren Nurul Jadid Singkut. Perjalanan menuju lokasi ditempuh sekitar empat jam dengan jarak lebih dari 100 kilometer.

 

Galih kemudian melanjutkan perjalanan bersama sopir dan seorang santri. Ustadz Syamsul Huda dan Ustadz Arif Purnomo ikut mengantarkan menggunakan sepeda motor.

 

Dalam perjalanan, mereka singgah di Pondok Pesantren Assalamah asuhan Romo KIai Kamil di Singkut, Kabupaten Sarolangun. Setelah itu, perjalanan kembali dilanjutkan.

 

Untuk masuk ke kawasan Suku Anak Dalam, mereka harus mengajak orang yang telah mengenal masyarakat setempat. Rombongan kemudian singgah di rumah Nardi, seorang transmigran asal Yogyakarta yang datang ke wilayah tersebut pada 1984. Putranya, Agus, merupakan guru di sekolah setempat.

 

Dari sana, perjalanan menuju Punti Kayu 2 kembali ditempuh hingga akhirnya Galih tiba sekitar pukul 17.00 WIB.

 

Setibanya di lokasi, perjalanan panjang itu belum benar-benar selesai. Galih justru akan memulai perjalanan lain: beradaptasi dengan kehidupan masyarakat Suku Anak Dalam dan menjalani pengabdian selama lebih dari tiga minggu.

 

Ia kemudian disambut Ustadz Ali, putra tumenggung setempat. Keduanya berbincang sembari menunggu Ustadz Syamsul Huda dan Ustadz Arif Purnomo tiba.

 

“Ustadz dari mana?” tanya Ustadz Ali.

 

“Dari Jawa,” jawab Galih.

 

“Ustadz tugasan ya?”

 

“Iya.”

 

Galih kemudian balik bertanya. “Ustadz siapa namanya?”

 

“Saya Ali. Kalau ustadz siapa namanya?”

 

“Saya Galih.”

 

Percakapan sederhana itu menjadi awal perjumpaan Galih dengan kehidupan masyarakat di Punti Kayu 2.

 

Ali kemudian berpesan agar Galih tidak kaget dengan kondisi di tempat tersebut.

 

“Jangan kaget ya di sini, Ustadz,” kata Ali.

 

“Loh, kenapa, Ustadz?” jawab Galih.

 

Ali menjelaskan, berbagai kebutuhan sehari-hari harus dipenuhi dengan keluar dari kawasan tersebut.

 

“Di sini kalau untuk keperluan sehari-hari harus keluar. Kalau Ustadz butuh apa, yang Ustadz butuh bilang saya saja,” ujar Ali.

 

Bagi Galih, kalimat sederhana itu menjadi salah satu kesan yang paling membekas selama menjalani pengabdian.​​​​​​​ Sebab, di Punti Kayu 2 ia bukan hanya menjalankan tugas dakwah. Ia juga harus belajar hidup bersama masyarakat, memahami kebiasaan mereka, dan beradaptasi dengan keterbatasan yang ada.
 

 

Catatan Redaksi: Program Dai Penggerak 3T  merupakan wujud nyata khidmat jamiyah Nahdlatul Ulama untuk menyebarkan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah ke pulau-pulau terluar Indonesia.  

 

Program ini didukung oleh dana infak atau donasi yang dihimpun melalui NU Online Super App. Bagi masyarakat yang ingin berkontribusi, silakan klik https://filantropi.nu.or.id/galang-dana/mari-hadirkan-dai-penggerak-di-pelosok-nusantara.