Di Balik Lumpuhnya Pelabuhan Gilimanuk: Armada Kapal Bertambah, Dermaga Tak Memadai
Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB
Jakarta, NU Online
Penumpukan pemudik di Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana, Bali, sempat menyebabkan kemacetan hingga 45 km di jalur Denpasar-Gilimanuk pada 15 Maret 2025. Kini, arus lalu lintas mulai terurai seiring perayaan Nyepi pada 19-20 Maret 2026.
Bukan tanpa alasan, Pengamat transportasi dari Unika Soegijapranata Djoko Setijowarno menilai, masalah utama kemacetan tersebut ada pada penambahan armada kapal yang tidak dibarengi dengan pembangunan dermaga.
"Baik dari aspek jumlah, kualitas, maupun kapasitas," katanya kepada NU Online pada Kamis (19/3/2026).
Baca Juga
Hukum Menjamak Shalat karena Macet
Menurutnya, selama infrastruktur dermaga tidak ditambah, ruas jalan menuju pelabuhan akan terus terbebani dan beralih fungsi menjadi area parkir kendaraan.
Selain itu, ia juga melihat sistem kedatangan ke pelabuhan yang belum tertata, sehingga menjadi persoalan mendasar bukan sekadar lonjakan volume kendaraan. Menurutnya, perlu diberlakukannya penerapan sistem tiket daring (online booking) bagi setiap kendaraan.
"(Sehingga) perbaikan manajemen kedatangan kendaraan dapat secara terjadwal," jelasnya.
Tak hanya itu, katanya, pemerintah juga perlu menyediakan zona penyangga (buffer zone) yang memadai sebelum kendaraan memasuki area utama pelabuhan agar antrean kendaraan tidak meluber dan memacetkan jalan nasional.
Sementara itu, Ketua Umum Gapasdap Khoiri Soetomo, menilai selain faktor perayaan besar seperti Nyepi 2026, akses ke moda penyeberangan di Pelabuhan Gilimanuk masih terlalu terbuka. Sehingga, ribuan kendaraan dapat langsung ke pelabuhan meski belum punya tiket.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa keterbatasan kapasitas dermaga menjadi kendala utama. Meski jumlah armada kapal bertambah, ketersediaan dermaga tidak meningkat secara proporsional.
"Ketimpangan ini semakin nyata dengan adanya jalan tol yang mempercepat laju kendaraan menuju pelabuhan, sementara dermaga sebagai kelanjutan sistem transportasi belum dikembangkan secara seimbang," terangnya.
Ia menilai dermaga kini menjadi titik sumbatan utama karena kapal harus mengantre untuk bersandar. Akibatnya, terjadi efek domino yaitu keterlambatan sandar membuat kendaraan di pelabuhan tidak terangkut.
"Pada akhirnya memperpanjang barisan antrean hingga menutup akses jalan nasional," katanya.
Dampaknya, jalan nasional terpaksa beralih fungsi menjadi area penyangga karena pelataran parkir pelabuhan sudah mencapai kapasitas maksimal.
"Kendaraan pun meluber hingga ke jalan raya, sehingga jalan nasional berubah menjadi kantong parkir darurat yang memicu kemacetan panjang," terangnya.