Gus Yahya Dorong Penguatan Ketahanan Sosial Hadapi Dampak Konflik Global
Jumat, 10 April 2026 | 22:00 WIB
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Jumat (10/4/2026). (Foto: NU Online/Suwitno)
Jakarta, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlhatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menekankan pentingnya penguatan ketahanan masyarakat dalam menghadapi dampak konflik global khususnya perang di Timur Tengah yang dinilainya telah memberi efek luas ke berbagai negara.
"Kita tahu telah terjadi perang di Timur Tengah dan ada dampak-dampak yang bersifat global dan sudah dirasakan oleh banyak negara," ujar Gus Yahya dalam konferensi pers di Gedung PBNU, Jakarta, Jumat (10/4/2026).
Menurutnya, dampak konflik tidak hanya dirasakan di kawasan yang berperang, tetapi juga menjalar ke berbagai sektor global termasuk energi dan ekonomi yang pada akhirnya berdampak langsung pada masyarakat.
Gus Yahya menegaskan bahwa situasi global saat ini menuntut kesiapan masyarakat untuk mampu bertahan dan saling menguatkan.
"Kita harus membangun apa yang saya istilahkan sebagai societal resilience," katanya.
Ia menjelaskan, societal resilience adalah kemampuan masyarakat untuk tetap kuat menghadapi tekanan dan tantangan besar yang datang dari situasi global yang tidak menentu.
"Societal resilience itu artinya realitas ketahanan di tingkat masyarakat. Bahwa masyarakat kita ini tahan menghadapi tantangan-tantangan besar yang sedang datang," lanjutnya.
Gus Yahya menilai modal utama untuk membangun ketahanan sosial adalah tradisi gotong royong yang telah mengakar di masyarakat.
"Kita beruntung kita punya tradisi gotong royong. Dan kita harus membangun model supaya masyarakat kita di tingkat akar rumput ini bisa saling tolong-menolong," ujarnya.
Ia mencontohkan praktik solidaritas saat bencana gempa di Yogyakarta, di mana masyarakat saling membantu dengan menampung keluarga yang kehilangan tempat tinggal.
"Kita ingat dulu ketika ada bencana gempa bumi di wilayah Yogyakarta, ada inisiatif akar rumput. Ini mengagumkan sekali untuk mengembangkan saling bantu dengan model setiap keluarga menampung satu keluarga yang kehilangan tempat tinggal," jelasnya.
Gus Yahya juga menegaskan bahwa penguatan ketahanan masyarakat tidak bisa dilakukan secara sepihak, melainkan membutuhkan kerja sama lintas elemen bangsa.
"Ini tidak bisa dilakukan sepihak oleh elemen manapun, ini harus dilakukan bersama-sama, dalam kerja sama bersama-sama," tegasnya.
Ia menyebut, PBNU telah mulai melakukan konsolidasi internal dan akan melanjutkan dialog dengan berbagai elemen masyarakat, termasuk organisasi keagamaan dan komunitas lainnya.
Gus Yahya mengingatkan bahwa dampak konflik global tidak bisa dihindari oleh negara mana pun, sehingga diperlukan kesiapan kolektif untuk menghadapinya.
"Dampak dari perang ini harus kita hadapi bersama-sama, tidak ada yang bisa menghindar dari ini," katanya.
Ia pun mengajak seluruh elemen bangsa untuk memperkuat solidaritas sosial demi menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.
"Mari kita berkonsolidasi bersama untuk mengupayakan kemaslahatan bersama supaya kita selamat bersama-sama," tandasnya.