Nasional

Nyai Sinta Nuriyah Ingatkan Krisis Relasi Sosial, Minim Silaturahmi Picu Gangguan Psikologis

NU Online  ·  Kamis, 2 April 2026 | 16:00 WIB

Nyai Sinta Nuriyah Ingatkan Krisis Relasi Sosial, Minim Silaturahmi Picu Gangguan Psikologis

Nyai Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid dalam acara Silaturahmi Kebangsaan Perempuan Indonesia dan Halal Bi Halal Idul Fitri 1447 H di rumah Gus Dur, Ciganjur, Jakarta pada Kamis (2/4/2026). (Foto: NU Online/Jannah)

Jakarta, NU Online

Istri Presiden ke-4 Republik Indonesia KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Nyai Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, menyoroti pentingnya silaturahmi dalam menjaga kesehatan psikologis masyarakat. Ia mengingatkan bahwa krisis relasi sosial berpotensi menimbulkan persoalan serius, mulai dari stres hingga depresi.


Nyai Sinta menegaskan bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial yang membutuhkan interaksi.


“Tanpa silaturahmi, manusia akan cenderung menyendiri dan tidak memiliki relasi, sehingga dapat menimbulkan stres dan depresi. Kondisi ini juga dapat menciptakan lingkungan sosial yang tidak sehat dan mengganggu psikologis seseorang,” ujarnya dalam acara Silaturahmi Kebangsaan Perempuan Indonesia dan Halal Bihalal Idulfitri 1447 H di kediaman Gus Dur, Ciganjur, Jakarta, Kamis (2/4/2026).


Ia menyampaikan bahwa berkurangnya praktik silaturahmi tidak hanya berdampak pada hubungan sosial, tetapi juga pada stabilitas mental individu.


Lebih lanjut, Nyai Sinta mengaitkan pentingnya silaturahmi dalam ajaran Islam. Ia mengutip anjuran Rasulullah SAW agar umat menjaga hubungan antarmanusia.


“Rasulullah bersabda, barang siapa ingin dipanjangkan umurnya dan dilapangkan rezekinya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi,” tuturnya.


Nyai Sinta juga menekankan bahwa silaturahmi memiliki dimensi universal yang melampaui batas agama dan status sosial.


“Melalui silaturahmi, manusia dapat membangun relasi dan berinteraksi dengan sesama, apa pun agama dan status sosialnya. Setiap orang berhak melakukan dan menerima silaturahmi,” katanya.


Menurutnya, silaturahmi tidak hanya dimaknai sebagai tradisi keagamaan, tetapi juga sebagai nilai kemanusiaan. Ia menjelaskan bahwa kata silaturahmi berasal dari dua kata, yaitu “sila” yang berarti menyambung dan “rahim” yang berarti kasih sayang.


“Dengan demikian, silaturahmi berarti menyambung kasih sayang kepada sesama manusia,” jelasnya.


Di tengah meningkatnya tantangan kesehatan mental di Indonesia, ia berharap masyarakat kembali menghidupkan tradisi silaturahmi sebagai upaya menjaga harmoni dan kesejahteraan bersama.


“Itulah sebabnya semua manusia perlu silaturahmi, agar cinta kasih tetap terjaga dan dapat dibagikan kepada siapa pun,” pungkas Nyai Sinta.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang