Jateng

Pabrik Semen di Kendeng Picu Problem Sosial dan Lingkungan

NU Online  ·  Jumat, 27 Maret 2026 | 17:00 WIB

Pabrik Semen di Kendeng Picu Problem Sosial dan Lingkungan

Petani Kendeng, Sukinah. (Foto: dokumentasi)

Rembang, NU Online Jateng 

Perjuangan warga Pegunungan Kendeng dalam menjaga ruang hidup dari ekspansi industri semen kembali digaungkan. Sukinah, petani perempuan asal Desa Tegal Dowo, Kabupaten Rembang, mengungkap berbagai dampak serius yang dirasakan masyarakat sejak masuknya rencana pertambangan dan pabrik semen di wilayah tersebut.

 

Dalam agenda Kupatan Kendeng, Rabu (25/3/2026), Sukinah menegaskan bahwa penolakan warga yang telah berlangsung sejak 2013 didasarkan pada alasan kuat. Ia menyebut Pegunungan Kendeng sebagai kawasan kars tua yang memiliki fungsi vital sebagai penyimpan cadangan air alami yang menopang kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya.

 

Ia menyoroti dampak sosial yang muncul, terutama retaknya hubungan antarmasyarakat. Desa yang sebelumnya rukun, kini terbelah akibat perbedaan sikap terhadap keberadaan pabrik semen.

 

“Situasi di desa yang tadinya damai, karena berbeda prinsip akhirnya tidak rukun dengan saudara dan tetangga. Itulah konflik nyata yang terjadi di Tegal Dowo dan sekitarnya,” ujarnya.

 

Tak hanya itu, Sukinah juga mengkritik janji reklamasi lahan pascatambang yang dinilai tidak sesuai dengan kenyataan. Ia menyebut aktivitas eksploitasi berlangsung masif tanpa diimbangi upaya pemulihan lingkungan yang jelas. Dampaknya, debit mata air terus menurun saat kemarau, sementara risiko banjir di wilayah hilir seperti Pati semakin meningkat akibat berkurangnya daya serap kawasan karst.

 

Di tengah tekanan yang dihadapi, perjuangan warga membuahkan hasil di jalur hukum. Berdasarkan putusan Mahkamah Agung, luas izin pertambangan yang semula direncanakan mencapai 900 hektar berhasil dipangkas menjadi sekitar 292 hektar.

 

Selengkapnya klik di sini.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang