Gus Yahya: Indonesia adalah Markas Perjuangan Membangun Peradaban
Selasa, 6 Januari 2026 | 12:00 WIB
Gus Yahya: Indonesia adalah Markas Perjuangan Membangun Peradaban (tengah) saat peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-103 NU di Lobi Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, pada Senin (5/1/2026) malam. (Foto: NU Online/Suwitno)
Jakarta, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf mengungkapkan bahwa sejatinya visi NU yang ingin memiliki dampak di dunia internasional sudah dimulai sejak awal berdirinya. Hal itu dilakukan dengan memperjuangkan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Berdirinya NKRI menjadi penting karena dalam perjuangan membangun perdaban membutuhkan markas atau tempat bernaung. Hal itu disampaikannya saat peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-103 NU di Lobi Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, pada Senin (5/1/2026) malam.
"Negara Kesatuan Republik Indonesia ini adalah markasnya adalah kubu dari perjuangan membangun peradaban," tegasnya.
Selain itu, lanjut Gus Yahya, sejak awal berdirinya, NU juga telah ikut pergerakan-pergerakan nasional demi cita-cita memperjuangkan kemerdekaan NKRI.
"Perjuangan tidak bisa didirikan, tidak bisa dilakukan oleh Nahdlatul Ulama sendirian, harus bersama-sama dengan elemen yang lain dan harus ada markasnya," katanya.
Lebih lanjut, Gus Yahya menegaskan bahwa visi membangun peradaban juga sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 dan mandat Proklamasi.
"Kemerdekaan ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan prikemanusiaan dan prikeadilan," katanya.
"Ini jelas sekali bahwa Indonesia ini dididirikan dengan cita-cita untuk kemaslahatan segala bangsa. Bukan cuma orang Betawi saja, bukan cuma Sunda, Jawa, Batak, Bugis dan lain-lain saja menjadi bagian Indonesia, tetapi untuk segala bangsa," sambungnya.
Ia mengajak semuanya untuk harus terus menghidupkan cita-cita peradaban yang mulia di dalam pikiran dan hati untuk seluruh umat manusia. Karenanya, ia berharap agar semua pihak harus tetap bersatu menjadi satu tubuh yang kuat, sehingga menimbulkan perjuangan yang kokoh.
Baca Juga
Islam untuk Perdamaian dan Peradaban
"Dan tidak ada pilihan menjadi barisan perjuangan yang kuat selain kita harus bersatu," tegasnya.
Pada kesempatan itu, Gus Yahya juga mengingatkan prinsip Pendiri NU Hadratusyekh KH Hasyim Asyari tentang menjaga hubungan baik antarsesama Nahdliyin.
"Masuklah kalian semua ke dalam Jamiyyah Nahladtul Ulama ini dengan mahabbah, dengan rasa cinta, wal widaad, dan kasih sayang, kalau sudah mau masuk jamiyyah ini harus bisa saling menyayangi saling menyayangi sesama jamaah, harus bisa saling mencintai dengan sesama jamaah," katanya.
"Kalau tidak bisa, pergi saja, enggak usah ikut NU. Kalau ikut NU harus siap harus menyayangi, karena perintah Hadratusyekh," terangnya.