Nasional

Harga Naik Belum Mengubah Perilaku, Walhi Desak Pemerintah Tegas Batasi Produksi Plastik

Sabtu, 11 April 2026 | 18:00 WIB

Harga Naik Belum Mengubah Perilaku, Walhi Desak Pemerintah Tegas Batasi Produksi Plastik

Kenaikan harga plastik belum membuat masyarakat membatasi penggunaannya (Freepik)

Jakarta, NU Online

Kenaikan harga plastik belum bisa secara signifikan mengubah perilaku konsumsi masyarakat. Wahana Lingkungan Indonesia (Walhi) menegaskan, persoalan utama bukan semata-mata pada harga, melainkan sistem produksi dan distribusi plastik yang masih masif dan sulit dihindari.

 

Pengkampanye Urban Berkeadilan Eksekutif Nasional Walhi, Eka Wahyu Styawan, mengungkapkan bahwa terdapat tiga tantangan utama dalam mendorong masyarakat meninggalkan plastik sekali pakai.


"Tantangan terbesarnya ada tiga. Pertama, minimnya alternatif. Kedua, kebiasaan yang sudah terbentuk lama dalam budaya konsumsi sekali pakai. Ketiga, belum adanya kebijakan yang cukup kuat untuk membatasi produksi plastik dari hulu,” ujarnya kepada NU Online, Jumat (10/4/2026).

 

Selama plastik masih diproduksi secara masif dan didorong oleh industri, kata Eka, masyarakat akan terus dipaksa menggunakannya, terlepas dari mahal atau tidaknya harga.

 

Menurutnya, kenaikan harga plastik memang memiliki pengaruh terhadap perilaku masyarakat, namun dampaknya masih terbatas. "Meskipun harga naik, kalau tidak ada alternatif yang terjangkau dan praktis, perilaku konsumsi tidak akan berubah signifikan. Persoalannya bukan hanya di harga, tapi di struktur sistem produksi dan distribusi yang memang didesain bergantung pada plastik,” jelasnya.


Ia menilai, momentum kenaikan harga plastik seharusnya dimanfaatkan pemerintah untuk mendorong kebijakan yang lebih progresif.  "Momentum ini seharusnya dimanfaatkan untuk mendorong kebijakan yang lebih tegas, seperti pembatasan plastik sekali pakai, penerapan tanggung jawab produsen (EPR), dan pengembangan sistem guna ulang,” katanya.


Eka menyayangkan langkah pemerintah yang memperluas industri petrokimia saat permasalahan sampah plastik tidak tertangani. “Jadi kuncinya ada pada keberanian untuk mengubah arah kebijakan, bukan mempertahankan model lama,” tegasnya.

 

Lebih lanjut, Eka mengajak masyarakat untuk menjadikan kondisi ini sebagai momentum refleksi sekaligus awal perubahan menuju gaya hidup lebih ramah lingkungan.

 

Ia menekankan bahwa perubahan tidak bisa hanya dibebankan kepada individu, tetapi harus didukung kebijakan struktural. "Masyarakat bisa mulai dari hal sederhana mengurangi plastik sekali pakai, membawa wadah sendiri, memilih produk dengan kemasan minimal,” ucapnya.

 

Perubahan pola tersebut, lanjut Eka, harus didukung kebijakan yang adil dan menekan produksi plastik dari hulu. “Krisis ini bukan sekadar soal plastik mahal, tapi soal sistem yang memang perlu diubah secara mendasar,” pungkasnya.