Hari Kedua Puasa Ramadhan, Hujan Disertai Angin Kencang Guyur Wilayah Jabodetabek
Jumat, 20 Februari 2026 | 07:30 WIB
Bekasi, NU Online
Hujan deras mengguyur wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi sejak awal Ramadan hingga hari kedua puasa. Di Bekasi, hujan deras disertai angin kencang terjadi sejak Kamis (19/2/2026) malam hingga Jumat (20/2/2026) pagi.
Pantauan NU Online di Tambun Selatan, Bekasi, menunjukkan hujan deras disertai angin kencang dan petir masih berlangsung hingga pukul 05.00 WIB. Setelah itu, gerimis mengguyur hingga pukul 07.00 WIB.
Sejumlah ruas jalan tergenang air dengan kedalaman hampir selutut orang dewasa. Beberapa titik pada sejumlah desa di Tambun Utara dilanda banjir pada pagi hari ini. Di antaranya Desa Srimahi, Srijaya, Srimukti, dan Satria Jaya.
Banjir juga menggenangi sejumlah perumahan dan sawah para petani di Tambun Utara. Para pengendara motor terlihat menuntun kendaraannya untuk bisa melintasi genangan banjir, ada pula yang tetap melaju tanpa mematikan mesin.
Masyarakat diimbau untuk selalu memantau perkembangan cuaca secara real-time melalui laman dan media sosial resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) saat beraktivitas sehari-hari.
"Kondisi cuaca yang dapat berubah sewaktu-waktu ini diharapkan menjadi perhatian dalam perencanaan aktivitas, terutama perjalanan darat, laut, dan udara, serta berbagai kegiatan luar ruang seperti ibadah dan wisata," tulis BMKG.
Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan hujan dengan intesitas lebat hingga sangat lebat bakal mengguyur sejumlah wilayah Indonesia, pada hari pertama puasa Ramadan 1447 H. Potensi itu muncul lantaran dinamika atmosfer yang akan terjadi.
"Sirkulasi siklonik terpantau di Samudera Hindia Barat Daya Jawa Barat, di Samudera Hindia Barat Aceh, dan di Laut Maluku antara Sulawesi Utara dan Pulau Halmahera," ujar Prakirawan BMKG, Ira dikutip official @InfoBMKG.
Kemudian, daerah konfergensi lain juga diperkirakan terbentuk di pesisir Barat Lampung, dari perairan Utara Jakarta hingga pesisir Utara Jawa Barat, dari pesisir Kalimantan Barat bagian Selatan hingga Laut Jawa, dari Selat Makasar bagian Selatan hingga perairan Selatan Sulawesi Utara, dari Bali hingga Pulau Sumba, di Laut Sulawesi, dari Laut Sahu hingga Laut Timur, dan di Laut Maluku.
Ira menyampaikan bahwa kondisi tersebut mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar sirkulasi siklonik dan di sepanjang daerah konfergensi atau konflensi tersebut. Kombinasi dinamika atmosfer tersebut menyebabkan potensi cuaca cukup signifikan, di beberapa wilayah Indonesia.
"Perlu ditingkatkan kesiapsiagaan potensi hujan lebat hingga sangat lebat di wilayah Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Ketimur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, Papua, dan Papua Selatan," bebernya.