Nasional

HIDMAT Muslimat NU Kampanyekan Green Hajj, Dorong Jamaah Haji Peduli Lingkungan

Selasa, 14 April 2026 | 20:00 WIB

HIDMAT Muslimat NU Kampanyekan Green Hajj, Dorong Jamaah Haji Peduli Lingkungan

Momen forum penguatan pengurus HIDMAT PP Muslimat NU, pada Selasa (14/4/2026). (Foto: NU Online/Suci)

Jakarta, NU Online

Himpunan Daiyah dan Majelis Taklim (HIDMAT) Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) mengampanyekan penguatan konsep green hajj sebagai upaya mendorong jamaah haji agar lebih peduli terhadap kelestarian lingkungan.


Konsep ini tidak hanya menekankan kesempurnaan ibadah, tetapi juga menumbuhkan kesadaran menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan selama pelaksanaan haji.


Hal tersebut disampaikan Ketua HIDMAT PP Muslimat NU Romlah Widayati dalam kegiatan Penguatan Literasi dan Pengawasan Publik terhadap Pengelolaan Keuangan Haji yang Transparan dan Akuntabel, di Hotel Aston Simatupang, Jakarta, pada Selasa (14/4/2026).


"Ibu-ibu sekalian, Muslimat ini kan punya gerakan Mustika Darling. Gerakan ini dilaksanakan di setiap momen kegiatan, termasuk membiasakan membersihkan lingkungan setiap selesai acara. Setelah makan, sampahnya kita kumpulkan, jangan sampai berantakan termasuk saat haji,” ujarnya.


Ia menekankan bahwa kebiasaan menjaga kebersihan harus tetap diterapkan selama ibadah haji berlangsung, termasuk ketika berada di Arafah. Menurutnya, penggunaan wadah makanan sekali pakai seperti kertas dan plastik perlu disikapi dengan tanggung jawab bersama.


“Di sana pun kita tidak lepas dari itu. Di Arafah kita makan pakai kertas atau plastik, lalu bagaimana pengelolaannya? Kita tidak bisa hanya berharap pada petugas. Petugas kan terbatas, jadi kita perlu kesadaran masing-masing karena ini bagian dari kebersihan yang sangat penting,” jelasnya.


Sebagai informasi, Green Hajj merupakan pendekatan ibadah haji berkelanjutan yang memadukan pelaksanaan rukun Islam dengan tanggung jawab ekologis.


Konsep ini bertujuan mengurangi dampak lingkungan selama ibadah, seperti pengurangan sampah, efisiensi energi, dan konservasi alam, sejalan dengan fatwa Majelis Ulama Indonesia Majelis Ulama Indonesia Nomor 47 Tahun 2014 tentang pengelolaan sampah dan pelestarian lingkungan.


Green Hajj juga mendorong perubahan pola pikir jamaah agar tidak hanya berfokus pada ritual ibadah, tetapi juga pada upaya menjaga kebersihan dan kesucian lingkungan selama berada di Tanah Suci Makkah.


Setiap tahun, lebih dari tiga juta umat Islam berkumpul di Makkah untuk melaksanakan rukun Islam kelima tersebut. Besarnya jumlah jamaah berpotensi memberikan tekanan terhadap lingkungan, sehingga konsep Green Hajj diharapkan menjadi solusi ibadah yang lebih berkelanjutan, termasuk dalam pengurangan emisi karbon, pengelolaan limbah, dan konservasi sumber daya alam.


Jejak lingkungan dari pelaksanaan ibadah haji tergolong besar, terutama dari limbah padat seperti botol plastik, popok sekali pakai, dan kemasan makanan. Pada musim haji 2019, pemerintah Arab Saudi mencatat adanya produksi sampah hingga 2.485 ton setiap hari.


Tanpa pengelolaan yang efektif, limbah tersebut dapat menimbulkan polusi tanah dan air. Pemerintah Arab Saudi bahkan memperkirakan biaya dampak degradasi lingkungan mencapai sekitar 86 miliar riyal Saudi (US$22,9 miliar).