Nasional

Jelang Ramadhan, Ansor dan Bagana Bersihkan Sisa Lumpur di Pante Lhong Aceh

Selasa, 10 Februari 2026 | 15:00 WIB

Jelang Ramadhan, Ansor dan Bagana Bersihkan Sisa Lumpur di Pante Lhong Aceh

Ansor Bireuen beberapa kali kembali menerjunkan personel untuk membersihkan rumah warga, rumah ibadah, dan area dayah. (Foto: NU Online/Helmi Abu Bakar)

Bireuen, NU Online

Banjir bandang yang menerjang Gampong Pante Lhong, Kabupaten Bireuen, pada 26 November 2025, masih menyisakan dampak hingga awal Februari 2026. Dua bulan lebih berselang, sebagian warga belum dapat menempati rumah mereka secara layak akibat sisa lumpur yang mengeras di lantai dan dinding.


Berdasarkan informasi yang dihimpun NU Online, sejumlah rumah, rumah ibadah, dan lembaga pendidikan keagamaan di gampong tersebut belum sepenuhnya pulih. Kondisi paling memprihatinkan terlihat di dayah terbesar di Pante Lhong yang masih dipenuhi tumpukan lumpur, sehingga menghambat aktivitas belajar para santri.


Di tengah situasi tersebut, Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Bireuen terus mendampingi warga dalam proses pemulihan. Sejak masa tanggap darurat hingga fase pascabencana, Ansor tetap aktif membantu pembersihan lingkungan terdampak.


Ketua GP Ansor Bireuen, yang akrab disapa Gus Dir, menegaskan komitmen organisasinya untuk terus hadir bersama masyarakat.


“Sejak awal banjir, Ansor turun membantu warga, termasuk di Pante Lhong. Sampai hari ini kami masih datang kembali, karena pemulihan membutuhkan waktu dan kebersamaan,” ujarnya, Senin (9/2/2026).


Pada 1-9 Februari 2026, Ansor Bireuen beberapa kali kembali menerjunkan personel untuk membersihkan rumah warga, rumah ibadah, dan area dayah. Lumpur yang telah mengeras harus dipecah, disiram air, lalu dibersihkan secara manual.


Salah seorang warga, Abu Bakar, mengaku terbantu atas kehadiran Ansor dan Banser melalui Banser Tanggap Bencana (Bagana). Ia menyebut rumahnya sempat dipenuhi lumpur setinggi betis.


“Kami sangat terbantu. Ansor sudah berkali-kali datang ke gampong kami. Mereka tidak hanya datang sekali lalu pergi,” tuturnya.


Menurutnya, kehadiran Ansor dan Bagana bukan sekadar bantuan fisik, tetapi juga dukungan moral bagi warga yang tengah bersiap menyambut Ramadan. “Kami jadi lebih semangat. Insya Allah semua ini bisa dilewati,” katanya.


Koordinator Bagana Bireuen, Karuna Putra atau Gus Putra, menjelaskan bahwa fase pascabencana sering kali lebih berat dibandingkan masa darurat.


“Saat bantuan mulai berkurang dan perhatian publik menurun, masyarakat masih berjuang membersihkan rumah dan lingkungan. Di situlah Bagana dan Ansor harus tetap hadir,” ujarnya.


Selain membantu pembersihan, personel Bagana juga memberikan dukungan psikososial kepada warga. Di sela kegiatan, mereka berbincang dan membangun suasana kebersamaan guna menguatkan semangat masyarakat.


Ansor Bireuen menyatakan akan terus mengawal proses pemulihan sesuai kemampuan yang dimiliki. Warga berharap lingkungan yang lebih bersih dapat membantu mereka menyambut Ramadan dengan lebih tenang dan khusyuk.


Meski sisa lumpur belum sepenuhnya hilang, kebersamaan antara warga dan relawan menjadi modal penting untuk bangkit dari bencana.