Internasional

Cendekiawan Malaysia​​​​​​​ Syed Naquib Alatas Meninggal Dunia dalam Usia 94 Tahun

NU Online  ·  Senin, 9 Maret 2026 | 08:01 WIB

Cendekiawan Malaysia​​​​​​​ Syed Naquib Alatas Meninggal Dunia dalam Usia 94 Tahun

Prof Naquib Al-Attas bersama PM Malaysia Anwar Ibrahim. (Foto: dok istimewa)

Jakarta, NU Online

Cendekiawan Malaysia Syed Muhammad Naquib Al-Attas meninggal dunia dalam usia 94 tahun pada Ahad (8/3/2026). Kabar itu banyak dibagikan di media sosial, di antaranya oleh Ismail Fajri Alatas, pengurus Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU.


"Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Profesor Kerajaan. Tan Sri Syed Muhammad Naquib al-Attas 1931-2026," tulis Ismail Fajri Alatas di akun Facebook pribadinya sembari membagikan sejumlah foto momen kebersamaannya dengan Almarhum.


Wakil Rektor American Islamic College Ibrahim Ozdemir juga menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya Syed Naquib. Ia mengaku pernah bertemu dengannya di Istanbul pada tahun 1989 dan pernah sowan di kediamannya beberapa waktu berikutnya.


"Innā lillāhi wa innā ilayhi rājiʿūn. Saya berduka mendalam atas wafatnya Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, salah satu intelektual Muslim paling cemerlang di masa kita," kata dia di laman Facebooknya.


Dikutip dari Menafsir Indonesia yang disusun Shubhi Abdillah, Naquib lahir dari pasangan Alī bin Abdullāh dan Syarifah Raquan di Bogor, Jawa Barat pada 5 September 1931. Kedua orang tuanya merupakan keturunan dari tokoh di Tatar Pasundan. Sementara nenek dari ibunya berasal dari Malaysia.


Sebelum meraih doktoral di SOAS London, Almarhum pernah menempuh pendidikan di Sukabumi, tepatnya di Madrasah al-Urwatul Wuthqa (1941-1945). Sarjananya diraih di Universitas Malaya Singapura (1957-1959), sedangkan magisternya diperoleh dari Universitas Mc Gill Montreal, Kanada (1960-1962). 


Riset tugas akhir pendidikan tingginya membahas tasawuf Melayu dan Aceh, mulai dari Rubaiyat, Ar-Raniry dan Wujudiyah, hingga Mistisisme Hamzah Fansuri.


Selain karya di atas, ia juga menulis sejumlah buku penting, antara lain The Positive Aspects of Taṣawwuf Preliminary Thought on an Islamic Philosophy of Science yang diterbitkan University of Malaya Press pada 1970; The Correct Date of the TerengganuInscription yang terbit di Muzium Negara Malaysia pada tahun 1970; dan Concluding Postscript to The  Origin of The Malay Sha’ir yang diterbitkan Dewan Bahasa dan Pustaka pada tahun 1971.


Sebelumnya, ia juga menerbitkan tulisan lain, yakni The Origin of the Malay Sha’ir yang diterbitkan Dewan Behasa dan Pustaka,  Kementerian Pelajaran Malaysia pada tahun 1968 dan Preliminary Statement on a General  Theory of the Islamization of the Malay-Indonesian Archipelago yang diterbitkan Dewan Behasa dan Pustaka pada tahun 1969.


Almarhum pernah mendapatkan penghargaan Profesor Diraja dari KDYMM Seri Paduka Baginda Yang di-Pertuan Agong Sultan Ibrahim pada Oktober 2024 lalu. Penganugerahan ini disaksikan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim.


"Beliau memberikan saya bimbingan dan pendedahan dalam pelbagai aspek keilmuan terutamanya sebagai mahasiswa di Universiti Malaya dan semasa saya berkhidmat sebagai tutor di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Bahkan dalam bidang falsafah, pengaruh beliau terhadap generasi kami begitu mendalam," tulis Anwar melalui Facebooknya.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang