Makna Keterpilihan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran
NU Online · Selasa, 10 Maret 2026 | 03:06 WIB
Ridwan al-Makassary
Kolomnis
Israel-Amerika Serikat dengan genderang api perang tampaknya ingin menulis ulang peta Timur Tengah, selama sepuluh hari terakhir. Serangan awal pada 28 Februari 2026 dirancang untuk menghancurkan tulang punggung Republik Islam Iran. Targetnya mengeliminasi fisik sang Rahbar (Pemimpin Tertinggi) Ali Khamenei, yang berusia 86 tahun, untuk menciptakan kekosongan kekuasaan. Teheran dihujani rudal dan Khamenei meninggal dunia bersama ratusan korban jiwa.
Kalkulasi Washington dan Tel Aviv sederhana bahwa setelah sang Rahbar tumbang, warga Iran akan turun ke jalan menghancurkan rezim. Namun, “decapitation strike” (pemenggalan kepala rezim) gagal membuahkan kejatuhannya. Justru, kematian Khamenei bersalin rupa menjadi situs perlawanan bagi Iran.
Ketika langit Teheran masih mengepulkan asap hitam pekat dari serangan Israel-AS atas fasilitas minyak, sebuah pengumuman yang justru membuat Pentagon dan Mossad tersentak kaget. Majelis Ahli yang terdiri dari 88 ulama, dengan suara menentukan, menunjuk Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei sebagai pemimpin tertinggi ketiga Republik Islam Iran.
AS-Israel yang menanti keruntuhan justru disuguhi kontinuitas kepemimpinan tertinggi. Bahkan, beberapa jam setelah pengangkatannya, gelombang rudal balistik bertuliskan “At Your Command, Sayyid Mojtaba” menghujani wilayah utara dan tengah Israel, memaksa sirene meraung hingga Tel Aviv dan Haifa. Opini singkat ini ingin mengulas makna keterpilihan Mojtaba Khamenei dari sebuah perpspektif yang lebih luas.
Fenomena ini bukan sekadar soal suksesi tampuk kepemimpinan biasa. Ini adalah tamparan teologis dan politis yang membuat analis menyebutnya sebagai "penghinaan besar" bagi Amerika Serikat. Trump, dengan gaya khasnya, sempat mengeluarkan ancaman bahwa pemimpin baru Iran harus mendapatkan persetujuan dari Washington.
Namun, Iran bergeming. Mojtaba Khamenei telah disahkan sebagai pemimpin tertinggi Iran. Tentu, hal ini memalukan bagi Trump yang berkoar-koar akan menentukan siapa yang berhak memimpin Iran sepeninggal Ali Khamenei.
Majelis Ahli yang memilih Mojtaba Khamene, yang juga kehilangan ibu dan istrinya dalam serangan udara yang sama yang menewaskan sang ayah, adalah mekanisme pertahanan diri sebuah peradaban. Dalam tradisi Syiah, pembunuhan terhadap sang pemimpin justru acap mengubahnya menjadi “syahid”, yaitu figur suci yang darahnya terus mengalirkan energi perjuangan yang tak habis.
Kematian Ali Khamenei dalam serangan musuh, sejatinya, tidak dilihat sebagai terminal akhir, melainkan babak baru dari narasi Karbala yang eternal (abadi), yaitu perlawanan kaum minoritas yang tertindas melawan tirani modern.
Di sini letak kesalahan persepsi strategis AS-Israel. Mereka mengira sedang berhadapan dengan struktur pemerintahan biasa, padahal mereka berhadapan dengan sebuah "ekosistem perlawanan" yang telah mengakar selama 47 tahun. Pengangkatan Mojtaba adalah bukti bahwa sistem ini mampu bereproduksi di waktu yang kritis sekali pun. Ia bukan sekadar anak yang mewarisi tahta, tetapi produk dari didikan langsung ideologi velayat-e faqih yang telah disiapkan sejak lama.
Dari kacamata geopolitik klasik, fenomena keterpilihan Mojtaba bagi Israel-AS ini adalah sebuah kegagalan operasi yang menampar mereka. Target perubahan rezim gagal total. Alih-alih melumpuhkan, serangan ini justru menyatu-padukan faksi-faksi yang sebelumnya mungkin berselisih di internal Iran. Bahkan, para pengkritik kebijakan Khamenei, era ayahnya, dalam situasi perang terbuka, cenderung untuk rally around the flag (berkumpul membela bendera).
Lebih jauh lagi, serangan terhadap infrastruktur sipil seperti pabrik desalinasi air di Bahrain dan Qeshm justru membuka mata dunia tentang wajah asli perang ini. Ketika ribuan warga sipil Iran meregang nyawa dan jutaan lainnya harus mengungsi karena serangan balasan, retorika "pembebasan" yang digembar-gemborkan AS menjadi kehilangan maknanya. Seorang warga Teheran yang awalnya mendukung perang, kini menyesal karena krisis bahan bakar melumpuhkan hidupnya.
Perlawanan tidak lahir dari doktrin militer, tetapi dari penderitaan kolektif yang dirasakan langsung oleh rakyat. Singkatnya, pengangkatan Mojtaba Khamenei telah mengirimkan sinyal yang tidak bisa ditawar, yaitu Teheran tidak melihat ruang untuk kompromi. Ini adalah pilihan sadar bagi Iran untuk konfrontasi total.
Namun, pertanyaan besarnya bukan hanya soal siapa yang memimpin, tetapi sejauh mana "patriotisme bawah tanah" ini bisa bertahan. Perang telah membuat harga minyak mentah Brent melonjak 17% menjadi lebih dari 108 dolar AS per barel, dan minyak mentah AS naik 20%. Ekonomi global terguncang, dan tekanan terhadap rakyat Iran sangat berat.
Di sinilah kejelian kita diperlukan bahwa membaca Timur Tengah tidak bisa hanya dengan kacamata cost and benefit ala ekonomi pasar. Ada dimensi sakral yang acap luput dari analisis intelijen modern. Ketika seorang pemimpin Syiah berbicara tentang Karbala, ia tidak sedang bercerita tentang masa lalu, tetapi sedang merangkaikan masa lalu, kini, dan nanti menjadi satu mata rantai perlawanan.
Kepemimpinan Mojtaba mungkin akan ditandai dengan perluasan peran IRGC, kontrol domestik yang lebih ketat, dan militerisasi penuh negara. Ini adalah jalan yang berisiko. Penuh onak duri. Namun, bagi para pemilih di Majelis Ahli, risiko menyerah di bawah bayonet asing jauh lebih besar bahayanya daripada risiko otoritarianisme domestik. Pilihan ini, dalam kerangka berpikir mereka, adalah pilihan antara izzah (kehormatan) dan dzillah (kehinaan). Dan, dalam dikotomi seperti itu, tidak ada ruang untuk abu-abu.
Karenanya, makna keterpilihan Mojtaba Khamenei adalah deklarasi bahwa Iran tidak akan menjadi Libya atau Irak berikutnya. Bahwa di tengah gempuran teknologi perang tercanggih milik AS-Israel, ada variabel “kehendak politik” yang tidak bisa dihancurkan oleh rudal jelajah. Ini adalah pesan yang dikirim untuk Washington bahwa kalian bisa membunuh pemimpin kami, menghancurkan kilang minyak kami, bahkan meracuni air minum rakyat kami, tetapi selama jaringan ulama, Garda Revolusi, dan rasa solidaritas akibat agresi masih ada, perlawanan rakyat Iran tidak akan pernah surut dan padam.
Perang ini, jika berlarut, bukan hanya akan menguji ketahanan rudal Iran atau kehebatan jet tempur Israel-AS, tetapi juga akan membuktikan sebuah hipotesis lama, yaitu bahwa kekuasaan yang lahir dari perlawanan terhadap agresi asing acap memiliki legitimasi yang lebih kokoh daripada kekuasaan yang dipaksakan melalui "izin" dari Washington.
Pungkasannya, dunia Barat, khususnya Israel-AS, mungkin tidak akan menyukai wajah Iran yang baru di bawah kepemimpinan Mojtaba. Namun, dunia harus menerima kenyataan bahwa poros perlawanan telah menemukan napas barunya. Atas nama darah yang telah tumpah, Teheran seolah berkata: “kami akan memperjuangkan tanah air kami meski nyawa taruhannya.”
Di bawah Komando Mojtaba Khamenei Iran akan terus melawan.
Ridwan al-Makassary, Dosen Jurusan Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) dan Direktur Center of Muslim Politics and World Society (COMPOSE) UIII.
Terpopuler
1
Orang Wajib Zakat Fitrah Tapi Juga Boleh Menerima?
2
Perang Iran dan Israel-AS Berdampak Global, Ketua Umum PBNU Desak Perdamaian
3
Standar Ganda Sekutu dalam Perang Israel-AS vs Iran
4
Cendekiawan Malaysia Syed Naquib Alatas Meninggal Dunia dalam Usia 94 Tahun
5
Makna Keterpilihan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran
6
Kuasa Hukum Sebut Keterangan Ahli KPK Justru Menguatkan Dalil Praperadilan Gus Yaqut
Terkini
Lihat Semua