Syed Muhammad Naquib al-Attas: Cendekiawan tanpa Telepon Genggam
NU Online · Senin, 9 Maret 2026 | 18:35 WIB
Tri Shubhi Abdillah
Kolomnis
Dewan Merdeka, Kuala Lumpur, 29 Juli 2023. 1.500 pasang mata menyaksikan seorang tokoh besar berusia 92 tahun meluncurkan buku terbarunya. Permaisuri Kesultanan Johor; naib konselor; rektor; para profesor ulung dari Turki, Jerman, Belanda, Indonesia; sebarisan murid-muridnya yang setia; para muda mahasiswa; dan orang-orang dari berbagai profesi, usia serta latar belakang; tertib menyimak setiap runut kalimat yang mengalir dari lisannya, kira-kira selama dua jam lamanya.
Lelaki tua yang tak berminat memiliki telepon genggam itu, menguraikan dengan penuh keyakinan dan seksama buku karangannya setebal 98 halaman. Draf pertama buku ini ia tulis langsung dengan pena dan tangannya, tanpa laptop, atau perangkat teknologi lain yang amat rikuh. Buku itu berjudul Islām: The Covenants Fulfilled. Sampai tahun 2026 buku tersebut telah beberapa kali dicetak ulang.
Lelaki tua 92 tahun itu ialah Profesor Syed Muhammad Naquib al-Attas. Ia lahir di Bogor pada 21 Rabīʿ al-Thānī 1350/5 September 1931. Kakeknya dari pihak Ayah, Syed Abdullāh bin Muḥsin al-‘Aṭṭās, merupakan seorang ulama dan wali di tanah Jawa yang lebih dikenal sebagai Habib Empang. Sementara neneknya dari pihak ibu adalah Ruqayah Hanum istri Ungku Abdul Majīd, adik Sultan Johor, Abū Bakar (w. 1895).
Pada usia 10 hingga 14 tahun al-Attas menempuh pendidikan di Madrasah al-‘Urwatu’l-Wuthqā, Sukabumi (1941-1945). Pendidikan menengah ia lanjutkan di Johor. Sebelum menempuh perjalanan akademik yang panjang al-Attas pernah bergabung sebagai kadet pada pasukan komando tempur infanteri utama sekaligus resimen tertua dalam Angkatan Darat Malaysia. Ia menempuh pendidikan militer di Eton Hall, Chester Wales dan juga Royal Military Academy, Sandhurst, England (1952-1955). Syed Naquib kemudian secara sukarela mengundurkan diri dari karier ketentaraannya.
Di usia 26 tahun, adik kandung dari Syed Hussein al-Attas ini memulai pendidikan tinggi di Universitas Malaya, Singapura (1957-1959). Al-Attas kemudian meraih gelar Magister dari Institute of Islamic Studies, Universitas McGill, Montreal, Kanada pada tahun 1962 dengan tesis berjudul “Rānīrī and the Wujūdiyyah of 17th Century Acheh”. Dari Kanada ia menyeberang ke Eropa, tepatnya di School of Orientals and African Studies, University of London. Pada tahun 1965 dengan disertasi berjudul “The Mysticism of Ḥamzah Fanṣūrī” ia berhasil memperoleh gelar doktor di usia 34 tahun. Syed Muhammad Naquib al-Attas ialah orang Malaysia pertama yang memperoleh ijazah Doktor Falsafah dari Universitas London.
Al-Attas lantas kembali ke Malaysia dan berkarier sebagai Ketua Bahagian Kesusasteraan, Jabatan Pengajian Melayu (1965) dan Dekan Fakultas Sastra (1968-1970) Universitas Malaya. Selanjutnya ia menduduki Jabatan Bahasa dan Kesusasteraan Melayu, Universiti Kebangsaan Malaysia (1971-1973). Pada tahun 1972, al-Attas dikukuhkan sebagai profesor Bahasa dan Kesusastraan Melayu UKM. Usianya kira-kira baru 41 tahun ketika itu. Pidato profesoratnya yang terkenal “Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu” telah diterbitkan dalam 8 kali edisi cetak dan sempat disadur ke dalam bahasa Indonesia serta diterbitkan oleh penerbit Mizan (1977).
Syed Muhammad Naquib al-Attas kemudian dikenal sebagai pendiri dan perancang International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC). Suatu lembaga pendidikan Pasca-Sarjana yang menerapkan falsafah pendidikan yang ia cetuskan. ISTAC menjadi fenomena istimewa yang telah melahirkan banyak cendekiawan cemerlang.
Para alumni ISTAC berasal dari berbagai negara. Dari Indonesia kita mengenal Assoc. Prof. Ugi Suharto, Prof. Hamid Fahmy Zarkasyi, Prof. Syamsuddin Arif, Dr. Nirwan Syafrin, dan beberapa cendekiawan lain yang pernah mengenyam pendidikan di ISTAC, di bawah arahan Prof. al-Attas.
Gagasan-gagasan al-Attas juga telah mempengaruhi cendekiawan Islam di Indonesia. Salah satu contoh yang menarik ialah makalah yang ditulis oleh Amien Rais berjudul “Hubungan antara Politik dan Dakwah” yang disampaikan dalam seminar bulanan Laboratorium Dakwah Shalahudin, 13 Oktober 1986. Dalam makalah tersebut Amien mengutip pendapat al-Attas mengenai sekularisasi yang termuat dalam buku Islām and Secularism. Secara tak langsung Amien telah menentang wacana sekularisasi yang digulirkan Nurcholis Madjid beberapa tahun sebelumnya, dengan mengutip argumen al-Attas.
Pengaruh tersebut juga tampak pada Abdul Hadi W. M. Di mana kajian al-Attas mengenai Hamzah Fansuri banyak dirujuk oleh sastrawan asal Madura ini. Tokoh lain yang terpengaruh dengan pemikiran al-Attas ialah Yusril Ihza Mahendra. Ahli hukum tata negara ini dalam beberapa kesempatan kerap mengutip argumen al-Attas khususnya mengenai dunia Melayu.
Selama hayatnya al-Attas telah menulis lebih dari 32 buku dengan rentang tema seputar falsafah, ilmu kalam, tasawuf, sejarah, sastra, bahasa dan kebudayaan Melayu. Di antara bukunya yang terkenal ialah Islām and Secularism yang pertama kali diterbitkan pada 1978. Buku ini telah dibaca luas berbagai kalangan dan berkali-kali dicetak ulang secara konsisten selama 40 tahun. Dalam buku ini al-Attas berhasil menggali asas-asas pandangan wujud Barat dengan sangat tajam dan kritis.
Karya lain yang masyhur ialah Prolegomena to the Metaphysics of Islām yang sering disebut sebagai magnum opus Syed Muhammad Naquib al-Attas. Di dalamnya terkandung uraian mengenai berbagai konsep dasar Pandangan Wujud Islam (The Worldview of Islam). Tiga bab terakhir dalam buku ini, (“The Intuition of Existence”; “On Quiddity and Essence”; dan “the Degrees of Existence”) merupakan uraian komprehensif mengenai kewujudan dalam pandangan Islam. Ia berhasil menyegarkan kembali argumen-argumen falsafah, kalam dan tasawuf mengenai hakikat dan kenyataan wujud, serta menyampaikannya secara runut tertib dalam konteks masa kini.
Al-Attas telah memperoleh berbagai gelar dan penghargaan selama hayatnya. Terakhir ia mendapat gelar Profesor Diraja Terpuji (Royal Professor Laurate) dari Seri Paduka Baginda Yang di-Pertuan Agong Sultan Ibrahim pada 23 Oktober 2024/20 Rabiul Akhir 1446 H. Sebelumnya ia pernah memperoleh Fellow of the Imperial Iranian Academy of Philosophy, atas sumbangan pemikirannya dalam bidang perbandingan filsafat (1975). Selain itu al-Attas juga pernah memperoleh Iqbal Centenary Commemorative Medal dari Presiden Pakistan, Jenderal Muhammad Zia ul-Haq (1979). Penghargaan-penghargaan tersebut menunjukkan kaliber al-Attas yang memang telah dikenali di kancah keilmuan internasional.
Menurut salah satu murid utama sekaligus sahabat dekatnya, Prof. Wan Mohd Nor Wan, ada tiga penemuan penting Prof. al-Attas yang belum pernah dikemukakan oleh cendekiawan lainnya. Pertama, permasalahan terpenting yang dihadapi umat Islām saat ini adalah masalah ilmu pengetahuan; Kedua, ilmu pengetahuan modern tidak bebas nilai; ketiga, Islamisasi Ilmu Pengetahuan Masa Kini. Ketiga temuan ini berasaskan penelaahan mendalam al-Attas terhadap perbedaan mendasar antara pandangan metafisika Islam dan Barat.
***
Kini Syed Muhammad Naquib al-Attas, yang peluncuran buku 98 halamannya 3 tahun lalu dihadiri 1.500 orang, telah menuntaskan masa ujiannya di dunia. Dalam bulan yang mulia, al-Attas kembali kepada Tuhannya, kepada Zat yang tak jemu ia kaji melalui kalam, falsafah dan tasawuf. Ia kembali dengan penuh keberkahan, ketenangan dan amat puas ke haribaan Tuhan yang amat ia cintai.
Syed Muhammad Naquib al-Attas wafat pada hari Senin 18 Ramadhan 1447 bertepatan dengan 8 Maret 2026. Ia mangkat pada usia 94 tahun, 6 bulan, 4 hari. al-Attas meninggalkan 4 orang putra-putri (Sharifah Faizah al-Attas, Datuk Dr. Syed Ali Tawfik al-Attas, Sharifah Shifa’ al-Attas dan Syed Haydar al-Attas). Istrinya, Puan Sri Latifah Moira Maureen O'Shay, telah meninggal pada 8 Rajab 1441 H bertepatan dengan 3 Maret 2020.
Karya-karyanya akan menjadi warisan keilmuan yang amat berharga bagi dunia dan khususnya kaum Muslimin. Kita kehilangan seorang profesor yang di abad ke-21 ini masih menulis buku dengan pena dan tangannya sendiri. Seorang ahli yang dikitari berbagai hal yang bergerak cepat, tetapi ia tetap kukuh dalam ketenangan tanpa telepon genggam dan tetek bengek kebisingan duniawi.
Kita kehilangan seorang insan istimewa namun kita mewarisi karyanya yang abadi.
Penulis: Tri Shubhi Abdillah
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Menghapus Sekat Sektarian di Tengah Umat
2
Kultum Ramadhan: Menjadi Manusia yang Bermanfaat bagi Sesama
3
Orang Wajib Zakat Fitrah Tapi Juga Boleh Menerima?
4
Perang Iran dan Israel-AS Berdampak Global, Ketua Umum PBNU Desak Perdamaian
5
Standar Ganda Sekutu dalam Perang Israel-AS vs Iran
6
Cendekiawan Malaysia Syed Naquib Alatas Meninggal Dunia dalam Usia 94 Tahun
Terkini
Lihat Semua