Keikhlasan adalah Ruh Amal, Gus Mus: Jangan Kejar Popularitas
Ahad, 22 Februari 2026 | 22:00 WIB
Mustasyar PBNU KH Ahmad Mustofa Bisri saat mengaji kitab Al-Hikam karya Imam Ibnu Athaillah. (Foto: tangkapan layar kanal Youtube NU Online)
Jakarta, NU Online
Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Mustofa Bisri menegaskan bahwa keikhlasan merupakan ruh dari setiap amal ibadah. Tanpa keikhlasan, amal hanya menjadi bentuk lahiriah yang kosong, layaknya jasad tanpa ruh.
“Kalau amal itu dibayangkan (diibaratkan) sebagai sesuatu yang berbentuk fisik, seperti tubuh yang bisa berdiri, maka yang menghidupkannya adalah ruh. Ruh dari amal itu adalah keikhlasan,” ujarnya pengajian Ramadhan mengulas Kitab Al-Hikam karya Imam Ibnu Athaillah sebagaimana dalam tayangan di akun YouTube NU Online pada Ahad (22/2/2026).
Kiai yang akrab disapa Gus Mus itu menjelaskan, sebagaimana jasad manusia tidak berarti apa-apa tanpa ruh, demikian pula amal tidak memiliki nilai tanpa keikhlasan. Amal yang tidak dilandasi ikhlas diibaratkan seperti jasad tanpa nyawa.
“Kalau ada orang beramal tetapi tidak ikhlas, itu seperti jasad tanpa ruh. Karena ruhnya amal adalah sirrul ikhlas, rahasia keikhlasan yang sangat dalam,” terangnya.
Gus Mus mengingatkan, keikhlasan tidak perlu diumbar atau diakui. Justru ketika seseorang merasa perlu mengatakan dirinya ikhlas, di situlah tanda keikhlasan patut dipertanyakan.
“Orang yang benar-benar ikhlas itu tidak mengaku-ngaku. Ikhlas itu rahasia di dalam hati. Tetapi meskipun rahasia, ia akan tampak dari amalnya,” katanya.
Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, Jawa Tengah itu mencontohkan, seseorang yang shalat sendirian dengan biasa saja, namun ketika diminta menjadi imam lalu berpenampilan berbeda dan membaca surat-surat panjang agar tampak baik. Dari situ orang dapat menilai apakah amal tersebut dilandasi keikhlasan atau tidak.
Lebih jauh, Gus Mus mengutip ungkapan hikmah yang sering disukai almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur): “Pendamlah wujudmu di tanah ketidaktenaran, karena sesuatu yang tumbuh dari benih yang tidak ditanam tidak akan sempurna hasilnya.”
Dia mencontohkan tanaman padi, jagung, mangga bisa tumbuh sendiri. Namun tidak akan sempurna seperti saat ditanam dengan serius. Saat sengaja menanam akan menggunakan aturan seperti kedalaman dan jarak. Demikian juga setelah tumbuh disiram dan dipupuk sehinggga terawatt dan tumbuh subur.
Menurutnya, nasihat tersebut mengajarkan agar seseorang tidak sibuk mencari popularitas atau ketenaran. Dalam istilah tasawuf, hal itu disebut khumul, yakni menyembunyikan diri dari sorotan dan tidak berambisi untuk dikenal luas.
“Tanamlah dirimu di tanah ketidaktenaran. Jangan menonjolkan diri. Jangan mencari terkenal. Karena kalau tumbuh sendiri tanpa ditanam dan dirawat, hasilnya tidak akan sempurna,” jelasnya.
Ia menilai, anjuran ini memang bertolak belakang dengan kecenderungan zaman sekarang yang mendorong semua orang untuk selalu tampil dan dikenal. Padahal, menurutnya, justru dalam keadaan tidak dikenal itulah seseorang bisa lebih mudah mendekat kepada Allah.
“Kalau tidak dikenal orang, kita merasa sepi. Dalam kesepian itu kita mencari Allah. Tetapi kalau banyak yang memuji dan menemani, kita mudah lupa,” ungkapnya.
Pada sesi ini, Gus Mus menekankan pentingnya uzlah dalam arti yang proporsional, yakni menyendiri dari hiruk-pikuk yang melalaikan untuk membersihkan hati dan memperkuat hubungan dengan Allah swt.