Nasional

Gus Mus Ingatkan Bahaya Mengandalkan Amal Tanpa Ikhlas

NU Online  ·  Sabtu, 21 Februari 2026 | 18:00 WIB

Gus Mus Ingatkan Bahaya Mengandalkan Amal Tanpa Ikhlas

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh, Rembang, Jawa Tengah, KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus. (Foto: NU Online/Saiful Amar)

Jakarta, NU Online

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh, Rembang, Jawa Tengah, KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus mengingatkan agar umat Islam tidak mengandalkan amal semata tanpa keikhlasan.


Dalam pengajian Ramadhan yang mengulas kitab Al-Hikam karya Ibnu Athaillah dan ditayangkan di YouTube NU Online, Gus Mus menjelaskan bahwa menurut para sufi, amal manusia tidak pernah benar-benar bersih dari hal-hal yang dapat mengurangi bahkan menghilangkan nilainya.


Ia mencontohkan ibadah shalat sebagai amal utama. Gus Mus mengutip firman Allah, Wailul lil mushallin (celakalah orang-orang yang salat). Namun, ia menegaskan ayat tersebut tidak boleh dipahami secara terpotong. Lanjutannya adalah alladzina hum yurā’ūn (yaitu orang-orang yang berbuat riya).


Menurut Mustasyar PBNU itu, tanda amal yang tidak ikhlas adalah adanya kepentingan atau harapan tertentu di balik ibadah. Sebaliknya, orang yang benar-benar ikhlas beribadah semata-mata karena dirinya adalah hamba Allah dan sudah menjadi kewajiban seorang hamba untuk menyembah Tuhannya.


Gus Mus juga menggambarkan sikap orang yang mengandalkan amal. Ketika merasa ibadahnya banyak, shalat sunnah ditambah, puasa sunnah rutin dijalankan, ia merasa pasti masuk surga.


“Itu namanya mengandalkan amal. Ia merasa pasti masuk surga,” ujarnya.


Padahal, kata Gus Mus, seseorang masuk surga bukan semata-mata karena amal, melainkan karena karunia (fadhal) Allah Ta’ala. Jika Allah menghendaki seseorang masuk surga, maka ia akan masuk surga.


Ia menambahkan, tanda lain orang yang mengandalkan amal adalah berkurangnya harapan kepada rahmat Allah ketika melakukan kesalahan. Saat tergelincir dalam dosa, ia merasa seolah-olah seluruh amalnya sia-sia.


Adapun orang yang ikhlas, lanjutnya, tetap beramal dalam kondisi apa pun. Ia beribadah bukan karena hitung-hitungan pahala, melainkan karena kesadaran sebagai hamba yang wajib menyembah Allah.


“Pokoknya tetap beramal. Apa pun yang terjadi, ia tetap beribadah karena memang kewajiban seorang hamba adalah menyembah Allah. Shalat ya shalat saja,” kata Gus Mus.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang