Makkah, NU Online
Seseorang duduk di atas kursi roda. Mukanya tertekur menatap tali mukena dan tali masker yang saling terbelit. Beberapa kali dia mencoba mengurainya, tapi keduanya masih saling terbelit. Butuh sekitar dua sampai tiga menit jari-jari tangan yang keriput untuk menyelesaikan perkara kecil itu.
Mungkin, jika usianya ditarik mundur 17 tahun lalu, persoalan seperti itu selesai dalam hitungan detik. Namun, dia tampak berdamai dengan keadaan. Saat segala sesuatu tak bisa dikerjakan semudah dulu, dia menjalaninya saja semampunya.
Sebetulnya dia bisa meminta bantuan orang lain yang lalu lalang di sekitarnya, tapi entah pertimbangan apa, dia tidak melakukannya. Dia mungkin merasa masih mampu menyelesaaikannya meski membutuhkan waktu lebih lama.
Setelah tali-tali itu akhirnya terurai, dia mengenakan maskernya dan membetulkan letak mukenanya. Kini seluruh pipi dan dahinya tertutup mukena, sementara hidung, mulut, dan dagu dilapisi masker hijau—hanya menyisakan sebentuk kotak persegi panjang dengan dasar kulit coklat tua dengan dua bola mata.
Dia lalu sedikit menyandarkan kepala ke penyangga kursi roda, seolah baru saja menyelesaikan pekerjaan berat yang melelahkan, lehernya miring pelan ke sebelah kanan. Namun, pekerjaan baru menyusul. Tiba-tiba botol air mineral yang tersembunyi di pangkuannya yang tertutup muken, terjatuh. Dia berusaha menggapainya. Tentu saja tangannya tak sampai. Lagi-lagi dia tak mencoba meminta bantuan orang lain. Tak berusaha melirik kanan kiri agar ada orang yang mengerti bahasa isyaratnya.
Korban Gempa Padang 2009
Perempuan di kursi roda itu bernama Sofimarni, berusia 78 tahun. Dia adalah salah satu dari puluhan ribu lansia tahun ini yang berhaji ke Tanah Suci. Sebagaimana lansia lain, dia diperiksa kesehatannya secara berkala di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) yang berada di Sektor 10, wilayah Aziziyah, Makkah.
Sofimarni tinggal di Hotel Al-Hidayah yang berada di seberang KKHI. Jika ditarik garis lurus letak keduanya tidak jauh. Tak lebih dari 600 meter. Namun, karena terhalang lalu lintas yang sibuk dan tak ada tempat penyeberangan jalan, dia mesti menaiki kendaraan operasional kesehatan menuju KKHI.
Menurut dr. Virna Zufri Pratiwi, dokter umum di kloter Embarkasi Padang (PDG) 06, tiap lansia diperiksa kesehatannya secara berkala, termasuk Sofimarni. Hasil pemeriksaaannya sejauh ini, tak ada hal yang krusial dalam kesehatan Sofimarni.
”Tensi darah, napas beliau stabil. Untuk kekuatan kaki, fisik kakinya juga lumayan kuat untuk seumuran dia,” katanya saat ditemui di KKHI, Hotel Al-Hidayah, wilayah Aziziyah, Kota Makkah, Kamis (14/05/2026).
Cuma, kata dia, yang jadi kendala itu di bagian leher sehingga kadang napasnya sesak, pita suaranya sedikit terganggu sehingga kalau dia berbicara, volume suaranya sangat pelan. Pendengarannya memang masih baik, tapi kalau berkomikasi agak terkendala. Sebab dia mendengar jelas lawan bicara, sebaliknya lawan bicara tak mendengar dengan jelas.
”Jadi, beliau itu lehernya sedikit bengkok karena trauma, cedera yang pernah dialami. Nah, itu kalau terlalu banyak berjalan atau beraktivitas atau berjalan membuat agak sesak. Makanya nenek sekarang dibantu collar neck. Cuma untuk aktivitas beribadah dia masih sanggup asal tidak terlalu terporsir, tidak berlebihan,” jelasnya.
Menurut dr. Virna, dia mengalami kondisi seperti itu sejak 17 tahun lalu, setelah peristiwa gempa yang mengguncang Sumatra Barat yang menyebabkan ribuan orang meninggal, terluka dan ratusan ribu warga kehilangan rumah.
Berdasarkan data yang dirilis Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang, gempa berkekuatan 7,6 skala richter terjadi pada Rabu 30 September 2009, pukul 17.16 WIB. Sebanyak 1.117 orang meninggal, 1.214 luka berat dan luka ringan 1.688 orang. Tak hanya itu, tercatat 135.448 rumah rusak berat, 65.380 rumah rusak sedang, dan 78.604 rumah rusak ringan.
Pada saat gempa itu, Sofimarni berada di mal Matahari Padang. Dia terdorong orang-orang yang menyelamatkan diri, lalu terjatuh hingga telungkup. Nahasnya, pada posisi itu, kepala, leher, dan punggung tertimpa benda keras.
Sofimarni beruntung masih diselamatkan orang dan dilarikan ke rumah sakit. Namun, pengobatan tulang di leher dan punggung tidak selesai sampai tuntas. Hal itu menyisakan dampak berkepanjangan sampai saat ini. Lehernya selalu menunduk ke sisi kanan sehingga mesti disangga collar neck.
Keras Hati Berhaji
Sejak musibah gempa runtuhnya mal Matahari 17 tahun silam, hari-hari Sofimarni praktis berubah. Ia lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah. Anak-anaknya melarang sang ibu bepergian jauh demi faktor keselamatan. Terlebih setelah suaminya berpulang, ia kerap didera sepi. Dari ketiga anak lakis-lakinya, dua tinggal di Bukittinggi dan satu merantau ke Pekanbaru, Riau.
Kendati hidup dalam keterbatasan fisik dan ekonomi, takdir mulai mengetuk pintunya pada tahun 2013. Anak-anaknya memantapkan niat untuk mendaftarkan ibunya berhaji dengan antrean selama 13 tahun.
Tahun ini, Sofimarni naik haji. Anak-anaknya dengan cemas melepas seorang ibu lansia yang menyandang cedera fisik sendirian ke Tanah Suci. Mereka atau salah seorang di antaranya, bukan tak ingin mendampingi, melainkan karena keterbatasan biaya.
Sofimarni memahami kecemasan anak-anaknya dengan berusah tampil tegar. Ia berhasil meyakinkan anak-anaknya bahwa semua akan baik-baik saja. Proses untuk naik haji perlahan-lahan ia jalani dengan sepenuh hati. Dia menyebut dirinya "keras hati" untuk berangkat.
"Keras hati" yang dimaksud Sofimarni sepertinya sebuah keteguhan tekad. Sebuah prinsip yang ia warisi dari almarhumah ibunya dahulu, yang lansia, juga berani berangkat haji seorang diri tanpa pendampingan keluarga. Jika sang ibu bisa, Sofimarni percaya ia pun pasti mampu.
Baca Juga
Kisah Ulama Berhaji Tanpa ke Tanah Suci
Pantang Merepotkan Teman Sekamar
Keteguhan hati perempuan berusia 78 tahun ini diakui langsung oleh Edisol Harmen, Ketua Rombongan jemaah Embarkasi Padang (PDG) 06. Sejak awal, Sofimarni mencuri perhatian romobongannya karena seorang lansia yang berangkat tanpa pendamping. Namun, kemandiriannya justru membuat takjub.
"Selama manasik, beliau tidak pernah absen. Senam kesehatan pun selalu ikut, dan fisik beliau alhamdulillah sehat. Malah sampai di Madinah kemarin, pantang bagi beliau berdiam diri di kamar hotel. Ziarah ke Makam Baqi pun beliau ikut. Pokoknya apa saja kegiatan rombongan, dia selalu ingin ikut," kata Edisol saat dihubungi melalui pesan singkat, Ahad (17/05/2026).
Edi juga mendengar selentingan cerita bahwa sebelum gempa 2009 terjadi, Sofimarni kemungkinan merupakan salah satu karyawan di mal Matahari Padang. Namun, terlepas dari masa lalunya, semangat yang menyala di masa tua inilah yang paling mengagumkan.
"Semangat beliau begitu tinggi. Ini murni dorongan kuat dari dalam jiwanya sendiri, bukan karena pengaruh luar. Sebab jika hanya karena paksaan atau dorongan luar, tidak mungkin semangatnya bisa se-menggebu-gebu ini," tambah Aparatur Sipil Negara (ASN) sebagai Pengawas Sekolah Dasar dan sebagai Asesor Visitasi Sekolah di Dinas Pendidikan Kabupaten Bukittinggi.
Baca Juga
5 Ayat Al-Qur’an tentang Haji
Bahkan ketika tawaf di Ka'bah, kata dia, saat menjalankan umrah wajib, Sofimarni berhasil menyelesaikannya tanpa kursi roda. Sebagaimana hasil pemeriksaan dr. Virna, kakinya masih kuat dan tidak ada masalah medis yang berarti.
Satu hal yang membuat rekan-rekan sejawatnya hormat, kata Edi, Sofimarni sangat pantang merepotkan orang lain. Untuk urusan harian di hotel seperti mencuci pakaian sendiri. Kalaupun ada yang membantunya, itu bukan karena permintaannya, melainkan inisiatif temannya.
Cuaca di Kota Makkah, tentu berbeda dengan kesehariannya di Bukittingi. Saat musim haji ini, suhu bisa mencapai 44 °C. Namun bagi nenek keras hati ini, terik dan keterbatasan fisik bukanlah hulu balang yang patut ditakuti. (MCH 2026)