Kisah para Ulama Tak Cukup Dituturkan, Keteladanan Mereka Perlu Dituliskan
Kamis, 27 Agustus 2026 | 13:50 WIB
Direktur Utama NU Online Hamzah Sahal (kiri) mengisi Diklat Penulisan Biografi Ulama di Aula Bumi Damai Al-Muhibbin, Pesantren Darul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Kamis (27/8/2026) (Foto: Foto: NU Online/Nuriel Shiami Indiraphasa)
Jombang, NU Online
Kisah tentang kiai dan nyai di lingkungan pesantren kerap diwariskan dari mulut ke mulut. Namun, cerita itu berisiko berhenti pada ingatan orang-orang yang pernah mendengarnya. Karena itu, kemampuan menuliskan perjalanan hidup ulama dinilai penting agar kisah keteladanan mereka dapat diwariskan dalam bentuk yang lebih panjang.
Hal tersebut menjadi salah satu alasan digelarnya Diklat Penulisan Biografi Ulama di Aula Bumi Damai Al-Muhibbin, Pondok Pesantren Darul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Kamis, (27/8/2026).
Kegiatan yang diikuti oleh 40 santriwan dan santriwati ini menghadirkan Direktur Utama NU Online Hamzah Sahal dan Mudir Keira Grup dan Maktabah Turmusy Mukhlis Yusuf Arbi sebagai pemateri.
Ketua Panitia Miftachul Ulum mengatakan bahwa Tambakberas masih membutuhkan gerakan dalam penulisan biografi ulama. Diklat tersebut diharapkan menjadi langkah untuk mendorong lahirnya lebih banyak penulis biografi ulama dari lingkungan Tambakberas sehingga kisah para kiai dan nyai tidak hanya bertahan dalam ingatan dan cerita lisan, tetapi dapat terdokumentasi dan dibaca oleh generasi berikutnya.
“Butuh gerakan baru, ada yang harus sukses di penulisan biografi. Minimal ada contoh dulu,” kata Miftachul.
Menurut dia, penulisan biografi menjadi penting karena banyak kisah teladan kiai dan nyai selama ini hanya disampaikan secara lisan. Padahal, cerita tersebut memiliki nilai yang dapat dipelajari oleh generasi berikutnya.
“Kita butuh sekali untuk menuliskan kisah para bunyai dan kiai kita agar cerita itu tidak hanya tertutur secara lisan,” ujarnya.
Direktur Utama NU Online Hamzah Sahal mengatakan menulis biografi ulama memiliki tantangan tersendiri. Penulis tidak hanya dituntut mampu menyusun cerita, tetapi juga memahami tokoh yang ditulis dan memiliki ketelitian dalam mencari kebenaran. Menurut Hamzah, salah satu unsur penting dalam kegiatan menulis adalah mencari kebenaran. Proses tersebut tidak selalu langsung menghasilkan kebenaran. Penulis justru dapat menemukan kesalahan atau informasi yang perlu diverifikasi.
“Dalam proses mencari kebenaran, belum tentu kita langsung menemukan kebenaran. Alih-alih, yang ditemukan kesalahan,” kata Hamzah.
Karena itu, Hamzah mengatakan syarat utama menjadi penulis adalah memiliki pengetahuan mengenai hal yang ditulis. Penulis harus mengerti objek tulisannya sebelum menyampaikan informasi kepada pembaca. “Syarat menulis hanya satu, yaitu ada ilmunya. Menulis itu syaratnya mengerti,” ujarnya.
Ia mencontohkan kemampuan mengklasifikasikan informasi sebagai salah satu keterampilan yang harus dimiliki penulis. Selain pengetahuan, Hamzah menekankan pentingnya kemampuan membaca dan menggali informasi. Menurut dia, penulis perlu memiliki keberanian dan jam terbang untuk menggali informasi dari narasumber.
Hamzah juga mengingatkan penulis untuk memiliki uslub atau gaya penyampaian. Menurut dia, tulisan membutuhkan dimensi seni agar informasi yang disampaikan tidak terasa kering.
Pemateri lainnya, Mukhlis Yusuf Arbi, mengatakan penulisan biografi tidak harus selalu dimulai dari peristiwa besar dalam kehidupan seorang tokoh. Justru, kebiasaan dan detail kecil dalam keseharian dapat menjadi bahan yang kuat untuk menghidupkan sosok yang ditulis.
“Menulis tokoh kita harus melihat kesehariannya yang kecil,” kata Arbi.
Ia mengatakan langkah paling penting bagi seseorang yang ingin menjadi penulis adalah mulai menulis. Menurut Arbi, kemampuan menulis tidak akan berkembang jika seseorang terus menunggu sampai merasa benar-benar siap.
Arbi juga menyarankan penulis memulai dengan gaya yang disukai. Ia sendiri memilih gaya feature karena pendekatan tersebut memberinya ruang untuk menggali detail dan sisi manusiawi dari tokoh. Sebelum mulai menulis, kata Arbi, penulis perlu menyiapkan rancangan tulisan. Rancangan tersebut dapat dibangun melalui wawancara dan riset untuk menentukan arah cerita serta informasi yang diperlukan.
“Menjadi penulis yang baik adalah harus menjadi orang lain,” ujar Arbi.
Menurut dia, kemampuan menempatkan diri sebagai tokoh yang ditulis membantu penulis memahami pengalaman, kebiasaan, dan sudut pandang tokoh secara lebih mendalam.