Nasional

Kisah Rombongan Gus Dur Diberondong Senapan di Timor Leste

Sabtu, 25 April 2026 | 20:00 WIB

Kisah Rombongan Gus Dur Diberondong Senapan di Timor Leste

Presiden Ke-4 RI, KH Abdurrahman Wahid

Jakarta, NU Online

Sebuah kisah menegangkan mewarnai rencana kunjungan Presiden keempat Republik Indonesia, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ke Timor Leste pada tahun 2000. Kunjungan tersebut sejatinya membawa misi damai membangun rekonsiliasi. Presiden hendak membangun Kedutaan Besar RI, memberikan karangan bunga untuk Gereja Santa Cruz dan Tempat Pemakaman Pahlawan.

 

Di balik misi damai itu, situasi di lapangan terbilang kurang kondusif. Mantan Komandan Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP) TNI, Victor Hasudungan Simatupang mengisahkan ketegangan yang menimpa rombongan Presiden. 

 

Sehari sebelum kedatangan Presiden, Tim Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) lebih dulu diterjunkan untuk melakukan survei keamanan. Rombongan menggunakan kendaraan taktis jenis Hercules guna menjangkau lokasi yang dinilai rawan. Setiba di TMP masyarakat berkerumun mendekati rombongan.


"Besok Presiden kami mau ke sini untuk memberikan karangan bunga, kalau bapak-bapak mau bersalaman atau bikin acara tolong kami dikasih tahu," kata Victor kepada warga setempat dalam kanal Youtube Kompascom dikutip NU Online, Sabtu (25/4/2026).


Alih-alih mendapatkan respons hangat, kedatangan Paspampres di TMP justru memicu kecurigaan dari warga setempat. Mereka menganggap rombongan tersebut sebagai simbol kembalinya kekuatan Indonesia yang ingin “menjajah” kembali wilayah yang baru saja lepas dari konflik.


Ketegangan sempat memuncak hingga kedua pihak berada dalam posisi berhadapan. Beruntung, situasi berhasil diredam melalui peran tokoh agama setempat, yakni Carlos Filipe Ximenes Belo. 


Uskup Belo turun langsung menjamin rombongan Paspampres yang akan melakukan kunjungan. Melalui dialog yang dilakukan dengan pendekatan kemanusiaan dan kepercayaan, ketegangan perlahan mereda.


"Setelah kami memberitahukan maksud kami dia (uskup) bilang 'iya saya yang jamin semua,'" kenangnya mengutip pernyataan uskup Belo memberikan persetujuan atas kunjungan Presiden Gus Dur. 


Namun ujian belum berakhir. Pada hari pelaksanaan kunjungan, rombongan Presiden kembali menghadapi situasi berbahaya. Saat melintasi salah satu wilayah, tiba-tiba terdengar rentetan tembakan yang diarahkan ke arah rombongan. Tembakan tersebut diduga berasal dari kelompok milisi yang masih menolak kehadiran Indonesia di wilayah tersebut.

 

“Dari bandara lalu check point, ketika di jembatan Komoro itu rombongan kita, rombongan Presiden ditembaki itu,” ungkap Victor.

 

Meski demikian, rombongan tetap aman dan selamat hingga tujuan. Pasalnya, pensiunan TNI itu sudah berkoordinasi dengan pasukan perdamaian di bawah naungan Perserikatan Bangsa Bangsa (UNFIL).

 

Untuk diketahui, dalam pertemuan tersebut Presiden Gus Dur menyampaikan permohonan maaf kepada Presiden Timor Leste Xanana Gusmao dan keluarga korban insiden Santa Cruz. Hal demikian sebagaimana dilansir dalam artikel Saat Gus Dur Mohon Maaf kepada Timor Leste.

 

Dilansir oleh BBC, sejak tahun 2020 Uskup Belo menjalani hukuman akibat dugaan pelecehan terhadap anak laki-laki di Timor Leste pada tahun 1990. Vatikan membatasi pergerakan uskup tersebut dalam memberikan pelayanan kepada jamaat. Ia juga dilarang untuk kontak langsung dengan anak-anak dan Timor Leste. 

 

Penjatuhan hukuman ini sontak membuat terkejut Timor Leste. Pasalnya, ia dianggap sebagai sosok yang membantu mengusung kemerdekaannya dari Indonesia.