Nasional

Mahasiswa Nyambi Jadi Ojol di Tengah Ekonomi Lesu, Akademisi Soroti Mismatch Tenaga Kerja

Rabu, 22 April 2026 | 15:00 WIB

Mahasiswa Nyambi Jadi Ojol di Tengah Ekonomi Lesu, Akademisi Soroti Mismatch Tenaga Kerja

Ilustrasi ojek online. (Foto: NU Online/Suwitno)

Rembang, NU Online

Kondisi ekonomi yang melemah mendorong sebagian mahasiswa memilih bekerja paruh waktu, termasuk menjadi pengemudi ojek online. Fenomena ini memunculkan pertanyaan tentang efektivitas kebijakan ketenagakerjaan serta kesiapan sumber daya manusia di Indonesia dalam menghadapi dinamika pasar kerja.


Dosen Ekonomi Syariah Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Hidayat Lasem (STAILA) Rembang, Jawa Tengah, Faiqotun Ni’mah, menilai fenomena tersebut berkaitan erat dengan ketidaksesuaian antara latar belakang pendidikan dan kebutuhan dunia kerja (mismatch). Ia menyebut persoalan ini masih menjadi tantangan besar di Indonesia.


Berdasarkan laporan Data Mandiri Institute, tingkat ketidaksesuaian jurusan dan pekerjaan di Indonesia mencapai sekitar 50 persen atau setara 72,3 juta pekerja pada 2025. Menurutnya, jurusan nonkesehatan dan nonteknik seperti ilmu sosial, humaniora, ekonomi, dan pendidikan menjadi bidang yang paling banyak mengalami mismatch.


“Fenomena ini menunjukkan bahwa lulusan perguruan tinggi belum sepenuhnya terserap sesuai bidang studinya,” ujar Faiqotun kepada NU Online, Rabu (22/4/2026).


Meski demikian, Faiqotun menjelaskan bahwa perguruan tinggi telah berupaya menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan industri. Hal ini terlihat dari penerapan capaian pembelajaran lulusan (CPL) serta pengembangan kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE) yang menekankan pada hasil dan keterampilan praktis.


Ia menambahkan, sejumlah langkah telah dilakukan kampus, seperti memperbanyak praktik lapangan, mendorong mahasiswa meningkatkan keterampilan, serta aktif berorganisasi, baik di dalam maupun di luar kampus.


Namun, ia mengakui masih terdapat kesenjangan keterampilan. Industri saat ini tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis (hard skill), tetapi juga keterampilan nonteknis (soft skill) serta keahlian spesifik yang relevan dengan perkembangan zaman.


“Dalam banyak kasus rekrutmen, soft skill justru sering menjadi faktor penentu, terutama bagi fresh graduate,” tambahnya.


Ia juga menegaskan pentingnya fleksibilitas lulusan dalam menghadapi dunia kerja. Menurutnya, bekerja di luar bidang studi merupakan hal yang wajar, mengingat banyak individu memiliki kemampuan multitasking dan multitalenta. Selain itu, lulusan perguruan tinggi diharapkan tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan.


Sementara itu, Firman, mahasiswa jurusan manajemen di salah satu kampus di Rembang, mengaku mulai bekerja sebagai pengemudi ojek online sejak Juni 2025 saat masa libur semester. Ia mengatakan, keputusan tersebut berawal dari keinginan mengisi waktu luang sekaligus memenuhi kebutuhan ekonomi.


“Awalnya karena ingin produktif saat libur, apalagi kondisi ekonomi juga sedang tidak stabil,” ungkap Firman kepada NU Online, Rabu (22/4/2026).


Ia menilai peluang kerja di Rembang masih terbatas, terutama bagi laki-laki. Sebelum menjadi pengemudi ojek online, ia juga pernah bekerja sebagai pekerja lepas di sebuah merek pakaian asal Bandung.


Bagi Firman, tantangan terbesar selama bekerja adalah membagi waktu antara pekerjaan dan kegiatan akademik. Meski demikian, penghasilan yang diperoleh dinilai cukup membantu, termasuk untuk membayar biaya kuliah.


“Untuk kebutuhan kuliah, alhamdulillah lebih dari cukup,” jelasnya.


Firman mengakui, selama menjadi pengemudi ojek online (ojol) terkadang mengalami kelelahan. Namun, ia berusaha menjaga kondisi agar tetap produktif.


Ia berharap pemerintah dapat memperluas program magang, terutama di daerah, serta membuka lebih banyak lapangan kerja bagi generasi muda.