Nasional

Mustasyar PBNU Abu Hasanoel Basri Ingatkan Masyarakat Istiqamah Sampaikan Kebenaran

Ahad, 31 Mei 2026 | 08:00 WIB

Mustasyar PBNU Abu Hasanoel Basri Ingatkan Masyarakat Istiqamah Sampaikan Kebenaran

Mustasyar PBNU Abu Syekh H. Hasanoel Basri HG menerima tamu dari berbagai daerah di kediamannya, Sabtu (30/5/2026) (Foto: Helmi Abu Bakar)

Samalanga, NU Online

Momentum Idul Adha 1447 Hijriah kembali memperlihatkan besarnya kecintaan masyarakat kepada ulama kharismatik Aceh, Mustasyar PBNU Abu Syekh H. Hasanoel Basri HG (Abu MUDI). Sejak hari pertama Idul Adha hingga hari-hari tasyrik, kediaman Pimpinan Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga itu terus dipadati tamu dari berbagai daerah.

 

Para jamaah yang datang dari kalangan ulama, pimpinan dayah, alumni, santri, tokoh masyarakat, pengurus Nahdlatul Ulama, hingga masyarakat umum untuk bersilaturahim, meminta nasihat, serta mengambil keberkahan dari sosok ulama yang selama puluhan tahun menjadi rujukan keilmuan dan kebijaksanaan masyarakat Aceh.

 

Di sela-sela kunjungan Ziarah Mahabbah Alumni MUDI Kabupaten Pidie, Sabtu (30/5/2026), Abu MUDI menyampaikan pesan penting terkait maraknya fitnah, tudingan, dan serangan terhadap ulama di era media sosial. Dengan tenang dan penuh kebijaksanaan, Abu MUDI menjelaskan bahwa ujian merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjuangan para ulama sebagai pewaris nabi.


“Menjadi ulama yang menjalankan amar makruf nahi mungkar tentu berpotensi diserang, di-bully, difitnah. Tidak perlu berkecil hati jika ujian itu datang. Tugas kenabian itu berat. Ulama adalah warasatul anbiya, pewaris para nabi,” ujar Abu MUDI.

 

Menurutnya, sejarah para nabi menunjukkan bahwa jalan dakwah tidak pernah lepas dari cobaan. Bahkan para nabi menghadapi ujian yang jauh lebih berat dibandingkan apa yang dihadapi para ulama hari ini. Karena itu, lanjut Abu MUDI, para dai, santri, dan pejuang agama tidak boleh larut dalam polemik yang hanya menguras energi dan memperkeruh suasana umat.


​​​​​​​"Tugas ulama adalah menjalankan tugas kenabian. Lihatlah betapa banyak ujian yang dihadapi para nabi. Bully media itu tidaklah seberapa dan tidak perlu ditanggapi. Abaikan saja. Tugas kalian adalah menyampaikan kebenaran dengan dalil yang kuat,” katanya.​​​​​​​​​​​​​​


Nasihat tersebut menjadi perhatian para tamu yang hadir. Di tengah zaman digital yang serba cepat, Abu MUDI justru mengajarkan ketenangan, kesabaran, dan kedewasaan dalam menyikapi berbagai serangan.​​​​​​​


Dia menegaskan bahwa fitnah tidak boleh dibalas dengan fitnah dan keburukan tidak boleh dibalas dengan keburukan. “Jangan meladeni fitnah dengan kemungkaran,” pesan Abu MUDI.​​​​​​​


Bagi banyak kalangan, pesan tersebut bukan sekadar nasihat, melainkan cerminan dari perjalanan panjang dakwah Abu MUDI sendiri. Sebagai salah satu ulama paling berpengaruh di Aceh, beliau telah melewati berbagai dinamika dan ujian. Namun hingga hari ini tetap istiqamah mengajar, membina santri, memperkuat ukhuwah, serta menjaga persatuan umat.​​​​​​​


Ketokohan Abu MUDI juga tampak dari besarnya arus silaturahmi yang terus mengalir ke kediamannya. Ribuan alumni dan masyarakat dari berbagai kabupaten datang untuk bersua dan mendengarkan petuah beliau. Tidak sedikit yang menganggap Abu MUDI sebagai figur pemersatu umat yang mampu menghadirkan kesejukan di tengah perbedaan.


Ketua PCNU Pidie, Tgk Isafuddin, menilai pesan yang disampaikan Abu MUDI sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini. Menurutnya, Abu MUDI telah memberikan contoh nyata bagaimana seorang ulama menghadapi ujian dengan kesabaran dan keluasan hati.


“Abu MUDI mengajarkan kepada kami bahwa dakwah harus dibangun dengan ilmu, akhlak, dan kesabaran. Beliau tidak mengajarkan kebencian, tetapi mengajarkan keteguhan dalam memperjuangkan kebenaran,” ujar Tgk Isafuddin.


Ia mengatakan, selama ini masyarakat mengenal Abu MUDI bukan hanya sebagai ulama besar dan pimpinan dayah, tetapi juga sebagai figur yang selalu mengedepankan persaudaraan dan kemaslahatan umat.


“Ketika menghadapi perbedaan atau berbagai tudingan, Abu MUDI tidak terpancing. Beliau tetap fokus mengajar, membina santri, dan melayani umat. Ini teladan yang sangat berharga bagi generasi muda,” katanya.


​​​​​​​Menurut Tgk Isafuddin, nasihat tersebut juga sejalan dengan makna Iduladha yang mengajarkan pengorbanan. Bukan hanya pengorbanan harta melalui ibadah kurban, tetapi juga pengorbanan ego, amarah, dan keinginan untuk membalas perlakuan yang tidak baik.


​​​​​​​Bagi para alumni dan santri, petuah Abu MUDI menjadi bekal penting dalam menghadapi tantangan zaman. Sebab kemuliaan seorang ulama tidak terletak pada banyaknya pujian yang diterima, melainkan pada keteguhannya menjaga amanah dakwah dan kesabarannya menghadapi ujian.


Di tengah hiruk-pikuk media sosial yang sering melahirkan kegaduhan, Abu MUDI kembali mengingatkan bahwa jalan para ulama adalah jalan para nabi: jalan ilmu, kesabaran, kebijaksanaan, dan keteguhan menyampaikan kebenaran.

​​​