NU Online Institute Bekali Dai 3T dengan Jurnalistik dan Dakwah Digital
Ahad, 16 Agustus 2026 | 19:00 WIB
Kendal, NU Online
NU Online Institute membekali para peserta Program Penempatan Dai 3T dengan berbagai keterampilan dakwah, kepemimpinan sosial, jurnalistik, hingga produksi konten digital sebelum diberangkatkan ke sejumlah wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).
Pembekalan tersebut dilaksanakan melalui rangkaian pelatihan daring pada 24–29 Juli 2026 dan pelatihan tatap muka di Kota Semarang pada 16–17 Agustus 2026. Para dai kemudian dijadwalkan berangkat menuju lokasi penugasan pada Selasa (18/8/2026) dan menjalankan tugas selama enam bulan, mulai 25 Agustus 2026 hingga 25 Februari 2027.
Direktur NU Online Institute Ahmad Mundzir mengatakan, program tersebut tidak hanya diarahkan untuk memperluas jangkauan dakwah, tetapi juga membekali dai agar mampu beradaptasi dengan kondisi masyarakat di wilayah penugasan.
“Dai 3T tidak cukup hanya memiliki kemampuan menyampaikan materi keagamaan. Mereka juga harus mampu membaca kondisi sosial, membangun komunikasi dengan masyarakat, serta mendokumentasikan dan menyampaikan berbagai potensi maupun persoalan di daerah penugasan,” ujar Ahmad Mundzir ketika membuka pelatihan Dai 3T pada Ahad (16/082/2026) di Peromasan Grandland Kabupaten Kendal.
Menurutnya, kemampuan jurnalistik dan dakwah digital menjadi bagian penting karena para dai nantinya tidak hanya berinteraksi secara langsung dengan masyarakat, tetapi juga dapat menjadi penghubung informasi dari wilayah penugasan kepada publik yang lebih luas.
“Dakwah hari ini juga membutuhkan kemampuan literasi media. Apa yang dilakukan dai di lapangan perlu diceritakan dengan baik, sehingga kerja-kerja dakwah di daerah 3T dapat diketahui, didukung, dan dikembangkan secara berkelanjutan,” imbuhnya.
Dibekali Dakwah hingga Jurnalistik
Rangkaian pelatihan diawali dengan technical meeting yang membahas timeline kegiatan, kontrak kerja sama, SOP, ticketing, pelaporan, dan teknis penugasan. Selanjutnya peserta mengikuti materi dakwah, jurnalistik dasar, penulisan berita dan feature, serta praktik penulisan dan editing.
Pada pelatihan berikutnya, peserta mendapatkan materi praktis di lapangan, kepemimpinan sosial, kode etik pendakwah, fikih dakwah, dan psikologi dakwah. Mereka juga dibekali jurnalistik video untuk dakwah digital dan mendapatkan tugas membuat video serta tulisan yang dikumpulkan pada pelatihan tatap muka.
Dalam pelatihan offline di Semarang, peserta juga mengikuti materi arah dakwah NU Online, jurnalisme dakwah dan filantropi, diskusi kelompok, video dakwah, presentasi dan evaluasi, RTL dan jejaring dai, hingga simulasi dakwah.
Ahmad Mundzir menegaskan, pembekalan tersebut diharapkan membuat para peserta tidak hanya siap secara keagamaan, tetapi juga memiliki kemampuan membangun jejaring dan mengembangkan program bersama masyarakat.
“Yang kita harapkan adalah para dai mampu hadir sebagai bagian dari masyarakat. Mereka bukan datang hanya untuk memberikan ceramah, tetapi juga mendampingi, belajar bersama, membangun kegiatan, dan ikut menguatkan potensi masyarakat setempat,” jelasnya.
Ditugaskan di Lima Wilayah
Program Penempatan Dai 3T tahun 2026 menempatkan 9 dai di lima lokasi, masing-masing dua orang. Lokasi tersebut meliputi Desa Aiteke Hobatua, Lio Timur, Ende, Nusa Tenggara Timur; Dusun Ngade Bawah, Waeflan Waelatak, Kabupaten Pulau Buru, Maluku; Madrasah Aliyah Sairun, Pulau Rhun, Banda, Maluku Tengah; serta Pondok Pesantren Nurul Jadid, Sidomulyo, Kecamatan Singkut, Sorolangun, Jambi.
Selama penugasan, para dai akan menjalankan sejumlah kegiatan, antara lain pengajian rutin masyarakat, pembinaan majelis taklim, pendampingan TPA/TPQ dan madrasah diniyah, pembinaan remaja dan pemuda, pelatihan literasi keagamaan, pendampingan kegiatan sosial-keagamaan, serta pemberdayaan masyarakat.
Program tersebut ditargetkan mampu mendorong terbentuknya kelompok binaan masyarakat, meningkatkan partisipasi masyarakat dalam kegiatan keagamaan, menghasilkan laporan kegiatan secara berkala, serta membangun jejaring dakwah lokal yang dapat berlangsung secara berkelanjutan.
“Enam bulan penugasan ini harus menjadi proses untuk membangun sesuatu yang bisa terus berjalan setelah dai selesai Bertus's. Karena itu, ukuran keberhasilannya bukan sekadar berapa kali kegiatan dilaksanakan, tetapi apakah ada masyarakat yang terlibat, ada kelompok yang tumbuh, dan ada jejaring lokal yang bisa melanjutkan kerja-kerja tersebut,” pungkas Ahmad Mundzir.
Masih banyak saudara kita di pelosok negeri yang membutuhkan pendampingan dan penguatan kehidupan keagamaan. Yuk, bersama hadirkan dan mensuport dai yang dapat menemani, mengajar, dan menggerakkan masyarakat. Melalui tautan https://filantropi.nu.or.id/galang-dana/mari-hadirkan-dai-penggerak-di-pelosok-nusantara.