Nasional

NU Peduli: Bantuan Sembako Terus Tersalurkan, BBM Masih Jadi Kendala di Sumatra

Sabtu, 10 Januari 2026 | 18:00 WIB

NU Peduli: Bantuan Sembako Terus Tersalurkan, BBM Masih Jadi Kendala di Sumatra

NU Peduli saat menyalurkan bantuan di Solok, Sumatra Barat. (Foto: NU Online/Fathur)

Jakarta, NU Online

Nahdlatul Ulama melalui NU Peduli terus memperkuat koordinasi penanganan bencana banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra. Upaya tersebut dibahas dalam Rapat Koordinasi Bencana NU Peduli yang diinisiasi NU Care-LAZISNU PBNU pada Jumat (9/1/2026).


Direktur Eksekutif NU Care-LAZISNU, Riri Khariroh, mengatakan rapat koordinasi tersebut melibatkan berbagai unsur pengurus dan relawan di daerah terdampak. Agenda utama rapat mencakup laporan situasi lapangan, distribusi bantuan Posko NU Peduli, serta perencanaan bantuan lanjutan.


“Rapat ini untuk menerima laporan dan pembaruan situasi di wilayah bencana, kegiatan dan bantuan Posko NU Peduli, sekaligus membahas rencana tahap bantuan berikutnya,” ujar Riri.


Pengurus LAZISNU Aceh Tengah, Musliadi Rishna, melaporkan bahwa bantuan kebutuhan dasar bagi warga terdampak bencana telah mulai disalurkan. Bantuan tersebut berupa paket sembako senilai sekitar Rp180 ribu per kepala keluarga.


“Bantuan berupa beras 5 kilogram, minyak goreng, gula, dan ikan asin sudah kami distribusikan langsung kepada masing-masing kepala keluarga terdampak,” ujarnya.


Menurut Musliadi, harga bahan pokok di wilayah Aceh Tengah relatif stabil. Namun, persoalan masih muncul pada sektor energi, khususnya bahan bakar minyak (BBM).


“Harga sembako relatif stabil, tetapi BBM masih belum stabil. Harga Pertamax berada di kisaran Rp15.000 hingga Rp16.000 per liter,” katanya.


Tingginya harga BBM berdampak langsung pada biaya operasional distribusi bantuan. “Kendala utama kami adalah BBM yang mahal dan biaya armada yang tinggi, sehingga sementara masih menggunakan kendaraan pribadi,” imbuhnya.


Musliadi menambahkan, Aceh Tengah menjadi salah satu titik strategis penyaluran bantuan karena lokasinya yang berdekatan dengan wilayah terdampak lain seperti Aceh Barat, Bener Meriah, dan Lhokseumawe.


Sementara itu, Ummi Hanisa dari Posko NU Peduli Bencana Aceh Barat Dayah Diniyah Darussalam melaporkan adanya dukungan bantuan dari berbagai daerah. Ia menyebutkan PCNU Ketapang menyalurkan bantuan sebesar Rp51 juta yang digunakan untuk membeli 1,5 ton beras serta minyak goreng dan telah disalurkan ke Aceh Tengah.


“Selain beras dan minyak goreng, bantuan sembako dan pakaian layak pakai juga sudah disalurkan,” jelas Ummi.


Meski demikian, kendala logistik masih dihadapi di lapangan. Ummi mengungkapkan biaya sewa kendaraan distribusi mencapai Rp5 juta, sementara di sejumlah lokasi terdampak aliran listrik belum kembali pulih.


Dampak bencana juga dirasakan pada sektor pertanian. “Ada desa yang kehilangan sawah karena tertimbun lumpur dan pasir. Diperkirakan butuh waktu sekitar satu tahun agar lahan tersebut bisa kembali diolah,” ujarnya.


Kebutuhan bantuan masih terus bertambah di sejumlah wilayah lain. Ummi menyebutkan Aceh Selatan masih membutuhkan beras, pakaian, dan buku. Selain itu, di Aceh Selatan dan Bener Meriah dilaporkan terdapat anak-anak yang terpisah dari orang tua akibat bencana. Ia juga menyoroti adanya pesantren di wilayah Pante Ceureumen yang hingga kini belum tersentuh bantuan.


NU Peduli bersama jaringan NU di berbagai daerah terus mengupayakan penyaluran bantuan secara bertahap, sembari memetakan kebutuhan mendesak masyarakat terdampak agar proses pemulihan dapat berjalan lebih merata dan berkelanjutan.