Nasional

Orang Tua dan Guru Jadi Penopang Utama Pemulihan Psikologis Anak Pascabencana

Ahad, 11 Januari 2026 | 15:00 WIB

Orang Tua dan Guru Jadi Penopang Utama Pemulihan Psikologis Anak Pascabencana

Pemulihan psikososial LKK PBNU di Kota Langsa. (Foto: istimewa)

Kota Langsa, NU Online 

 

Orang tua dan guru menjadi sistem pendukung terpenting bagi anak-anak setelah terjadinya bencana. Kolaborasi dan sinergi antara keduanya dinilai sebagai langkah awal yang sangat penting dalam memberikan dukungan psikososial kepada anak-anak yang mengalami trauma.

 

Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan Dukungan Psikososial Anak dan Keluarga yang digelar oleh Lembaga Kemaslahatan Keluarga (LKK) PBNU di Kota Langsa. Kegiatan ini menyasar anak-anak penyintas bencana bersama para orang tua dan guru sebagai bagian dari upaya pemulihan mental dan emosional pasca musibah.

 

Pada awal kegiatan, hujan sempat turun cukup deras. Beberapa anak terlihat masih menyimpan rasa takut dan cemas, mengingat hujan sering mereka kaitkan dengan peristiwa bencana yang pernah dialami.

 

Namun, seiring berjalannya kegiatan, suasana perlahan berubah. Anak-anak mulai terlibat aktif, mengikuti berbagai permainan, aktivitas ekspresif, dan pendekatan edukatif yang dirancang untuk membantu mereka menyalurkan emosi.

 

Wajah-wajah yang semula tegang berangsur ceria, tawa mulai terdengar, dan rasa takut perlahan tergantikan oleh semangat serta kegembiraan. Kegiatan ini dirancang agar anak-anak merasa aman, diterima, dan tidak sendirian menghadapi pengalaman traumatis.

 

Psikolog Keluarga dan Pendidikan LKK PBNU Hj Nurmey Nurulchaq yang hadir sebagai narasumber tampil dengan gaya meneduhkan namun tegas. Ia mengajak peserta memahami bahwa bencana tidak hanya merobohkan rumah, tetapi juga mengguncang keseimbangan batin manusia.

 

“Pendampingan psikososial bukan soal memberi nasihat cepat, tetapi soal hadir dan memahami,” tutur Nurmey, Sabtu (10/1/2026) 

 

Menurutnya, anak-anak membutuhkan rasa aman, bukan sekadar instruksi. Mereka perlu ruang untuk mengekspresikan ketakutan, kebingungan, dan kesedihan yang mungkin belum mampu mereka ungkapkan dengan kata-kata. Karena itu, peran guru dan orang tua menjadi sangat vital sebagai figur terdekat yang mampu memberikan ketenangan.

 

Pendampingan dilakukan dengan pendekatan yang hangat, bertahap, dan konsisten. Anak-anak diajak memahami bahwa bencana merupakan bagian dari kehidupan yang harus dihadapi dengan keberanian dan pengetahuan. Mereka dilatih untuk tidak panik saat bencana terjadi, tetapi mampu merespons secara tepat, aman, dan terukur.

 

Pendekatan ini tidak hanya bertujuan memulihkan trauma, tetapi juga membangun kesiapsiagaan mental anak agar lebih tangguh menghadapi situasi darurat di masa depan.

 

Sementara itu, Ketua PCNU Kota Langsa Tgk T Wildan menegaskan pentingnya sinergi semua pihak dalam pemulihan pascabencana. Menurutnya, pemulihan tidak boleh hanya berfokus pada infrastruktur, tetapi juga pada pemulihan jiwa, terutama anak-anak sebagai generasi penerus.

 

“Kalau rumah bisa dibangun kembali, tapi luka batin yang dibiarkan bisa membekas lama. Di sinilah peran keluarga, guru, dan masyarakat menjadi sangat penting,” ujarnya.

 

Alumni Dayah MUDI Samalanga itu juga mengapresiasi langkah LKK PBNU yang hadir langsung di tengah masyarakat dengan pendekatan yang humanis dan berbasis nilai-nilai keislaman. Menurutnya, pendekatan seperti ini sangat dibutuhkan agar pemulihan tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga menyentuh sisi emosional dan spiritual korban.

 

Lebih lanjut Warek IAIN Langsa itu menambahkan melalui kolaborasi antara guru, orang tua, psikolog, dan komunitas, diharapkan proses pemulihan ini tidak hanya bersifat sementara, tetapi berkelanjutan. Anak-anak tidak hanya pulih dari trauma, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat, berani, dan siap menghadapi berbagai tantangan kehidupan.