PBNU dan MCA Jajaki Potensi Kolaborasi di Bidang Ekonomi hingga Perlindungan Pekerja Migran
Rabu, 22 April 2026 | 16:30 WIB
Pertemuan PBNU dengan MCA di Gedung PBNU, Lantai 8, Jakarta Pusat, pada Rabu (22/4/2026). (Foto: NU Online/Herlyn).
Jakarta, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf menerima kunjungan delegasi Malaysian Chinese Association (MCA), di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, pada Rabu (22/4/2026). Gus Yahya didampingi Wakil Ketua Umum PBNU H Amin Said Husni dan Presiden Dewan Pimpinan Pusat Konfederasi Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi) Irham Ali Saifuddin.
Pertemuan ini dilakukan untuk menjajaki potensi kolaborasi lintas sektor antara Indonesia dan Malaysia, khususnya di bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, pertanian, hingga perlindungan pekerja migran.
Presiden Sarbumusi Irham Ali Saifuddin menjelaskan bahwa kunjungan tersebut bertujuan untuk membuka peluang kerja sama antara kedua institusi, yakni NU dan MCA, di berbagai sektor strategis.
Ia menyoroti posisi MCA sebagai salah satu kekuatan ekonomi di Malaysia, termasuk keterkaitannya dengan tenaga kerja migran Indonesia.
"Dalam konteks ini perlu kiranya, bekerja sama dalam mengoptimalkan perlindungan dan service WNI termasuk pekerja yang tinggal di Malaysia," ujarnya.
Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas upaya peningkatan perlindungan dan layanan bagi pekerja migran Indonesia di Malaysia. Selain itu, sektor pendidikan menjadi perhatian penting, mengingat MCA memiliki pengalaman dalam pengelolaan institusi pendidikan dan pelatihan vokasi.
"Kami melihat peluang besar kerja sama di bidang pendidikan, khususnya melalui Technical and Vocational Education and Training (TVET), untuk memperkuat pengakuan keterampilan tenaga kerja Indonesia agar lebih kompetitif di tingkat internasional," imbuh Irham.
Sementara itu, Wakil Presiden MCA Lawrence Low menilai pertemuan tersebut sebagai momentum penting untuk mempererat hubungan kedua lembaga.
"Perjumpaan yang bagus, dialog ini menjadi penggerak kerja sama yang tidak hanya sebatas isu nasional, tapi juga mampu menjembatani perbedaan agama, bahasa, dan budaya," ujarnya.
Ia menambahkan, kunjungan ini tidak hanya bertujuan memperluas jaringan perdagangan, tetapi juga membuka peluang kolaborasi dengan berbagai organisasi non-pemerintah, termasuk Nahdlatul Ulama.
“Rombongan kali ini bukan saja untuk mendapatkan jaringan perdagangan, tapi juga merapatkan dan memperluas kerjasama dengan Nahdlatul Ulama (NU) dan Asosiasi Bisnis lainnya di Indonesia," ujarnya.
Ia berharap inisiatif tersebut menjadi langkah positif dalam mempererat hubungan Indonesia dan Malaysia, seiring meningkatnya intensitas interaksi kedua negara, sehingga kerja sama yang terjalin dapat semakin kuat dan berkelanjutan ke depan.
Sebagai informasi, pertemuan tersebut dihadiri oleh 17 anggota delegasi MCA, di antaranya Lawrence Low (Naib Presiden MCA, Jawatankuasa Hal Ehwal Ekonomi & PKS MCA), Matthew Lee Kah Hing (Setiausaha Jawatankuasa Ehwal Ekonomi PKS MCA & Setiausaha Jawatankuasa Perhubungan MCA Wilayah Persekutuan), Lee Ban Seng (Ahli Jawatankuasa Pusat MCA), Ng Keng Heng (Senator Dewan Negara Parlimen Malaysia), serta Tan Lee Huat (Setiausaha Organisasi Jawatankuasa Perhubungan MCA Negeri Pulau Pinang).
Kontributor: Nisfatul Laila