Pemulihan Ekonomi Jadi Prioritas bagi Penyintas Banjir Sumatra
Ahad, 11 Januari 2026 | 13:00 WIB
Jakarta, NU Online
NU Peduli bersama NU Care-LAZISNU terus memantau dan menyalurkan bantuan bagi masyarakat terdampak bencana di sejumlah wilayah Sumatra. Dalam laporan terkini para relawan, kebutuhan dasar sebagian besar warga mulai terpenuhi, namun persoalan pemulihan ekonomi, hunian, dan peralatan memasak masih menjadi tantangan serius.
Sekretaris LAZISNU Padangsidimpuan Sumatra Utara Ali Akbar Siregar melaporkan bahwa bantuan yang disalurkan berasal dari komunitas dan Nahdliyin berbagai daerah dan bahkan luar negeri.
“Ada bantuan dari Rembang dan Taiwan,” ujarnya saat Rapat Koordinasi Penanganan Bencana NU Peduli yang diinisasi oleh NU Care-LAZISNU PBNU pada Jumat (9/1/2026) secara daring.
Selain itu, bantuan dari sejumlah mitra seperti BPKH, ShopeePay, dan Paragon juga telah disalurkan kepada masyarakat terdampak.
Menurut Ali, kondisi di Padangsidimpuan mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Bantuan sembako telah tersalurkan dan kebutuhan dasar warga relatif terpenuhi.
Bantuan juga menyasar warga di Tapanuli Tengah, menyesuaikan dengan kebutuhan lapangan. Penyaluran bantuan tersebut dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 10 Januari 2026. Selain sembako, bantuan berupa pakaian layak pakai dari Jakarta juga telah disiapkan.
Namun ia juga melaporkan bahwa masyarakat membutuhkan fasilitas MCK, terutama di sekitar sekolah dan permukiman warga. Selain itu, di Tapanuli Tengah, kebutuhan mendesak meliputi sembako, perlengkapan sekolah anak-anak, serta perbaikan bangunan.
Di sisi lain, Sultan Herakli dari PCNU Aceh Tamiang mengungkapkan bahwa secara umum stok sembako di hampir seluruh lokasi terdampak cukup untuk memenuhi kebutuhan warga hingga satu bulan ke depan. Namun, permasalahan baru muncul karena banyak warga kehilangan peralatan memasak, sehingga kesulitan mengolah bantuan pangan yang diterima.
Menurutnya, LAZISNU Jawa Timur telah mendirikan dapur umum di beberapa titik guna memastikan kebutuhan konsumsi warga tetap terpenuhi.
“Selain itu LAZISNU Jatim akan membangun masjid di atas tanah wakaf sebagai bagian dari pemulihan sosial dan spiritual masyarakat,” kata Sultan.
Sultan juga menyoroti dampak ekonomi pascabencana, karena banyak warga kehilangan pekerjaan dan sumber penghidupan. “Masyarakat membutuhkan pekerjaan baru untuk bertahan hidup,” ujarnya.
Adapun Yusuf dari PCNU Aceh Singkil mengungkapkan bahwa sejumlah pesantren masih membutuhkan dukungan serius.
“Kami membutuhkan perlengkapan pesantren seperti seragam, kitab, serta bantuan rekonstruksi bangunan,” katanya saat Rapat Koordinasi Penanganan Bencana NU Peduli yang diinisasi oleh NU Care-LAZISNU PBNU pada Jumat (9/1/2026) secara daring.
Hal senada disampaikan Moch Suaidi dari Bener Meriah. Suaidi yang menyebutkan perlunya alat pembersihan serta bantuan untuk pesantren NU yang rusak berat. “Salah satunya Pondok Pesantren Bustanul Ulum,” ungkapnya.
Sementara itu, relawan NU di Kabupaten Agam Sumatra Barat, Yuhendra melaporkan bahwa di beberapa wilayah, masyarakat belum dapat kembali ke rumah karena kondisi permukiman yang masih rusak berat.
“Penyaluran bantuan saat ini difokuskan pada sembako dan pakaian layak pakai,” kata dia.
Pihaknya menambahkan, banyak warga kehilangan rumah, sawah, dan pekerjaan, sehingga membutuhkan pendampingan jangka menengah hingga panjang.
“Pemerintah sudah melakukan pembersihan fasilitas umum, tetapi belum bisa membantu membersihkan rumah-rumah warga,” kata Yuhendra.
NU Care-LAZISNU menegaskan akan terus mengoordinasikan penyaluran bantuan dan pendampingan pemulihan bersama jaringan NU Peduli di daerah, dengan fokus pada kebutuhan paling mendesak sekaligus upaya mengembalikan kemandirian masyarakat terdampak bencana.
Selain melaporkan berbagai kegiatan penanganan dampak banjir dan tanah longsor di Sumatra, para relawan dan pengelola Posko NU Peduli juga memetakan kebutuhan lanjutan masyarakat terdampak bencana.
Fokus penanganan tidak hanya pada bantuan darurat, tetapi juga pada pemulihan jangka menengah, terutama penyediaan air bersih, hunian sementara, pemulihan pesantren, serta penciptaan sumber penghidupan baru bagi warga.
Ummi Hanisa dari Posko NU Peduli Bencana Aceh Barat, Provinsi Nangroe Aceh Darussalam Ummi Hanisa menyampaikan bahwa kebutuhan mendesak masyarakat saat ini meliputi air bersih, pembangunan sumur bor, fasilitas MCK, serta listrik dan penerangan di wilayah terdampak.
Sementara dari Aceh Tengah, Musliadi Rishna melaporkan bahwa distribusi bantuan selanjutnya akan dilakukan di Kecamatan Linge. Ia juga menekankan pentingnya dukungan perlengkapan identitas bagi relawan di lapangan.
Hal tersebut diperkuat laporan relawan NU Kabupaten Agama Sumatra Barat, Yuhendra. Dia menyampaikan bahwa para pengungsi tengah bersiap pindah ke hunian sementara (huntara). Namun, mereka membutuhkan dukungan ekonomi karena sawah dan lahan pertanian sudah tidak dapat digunakan.
“Selain pekerjaan baru, warga juga membutuhkan air bersih dan sumur bor,” kata Yuhendra.
Direktur Eksekutif NU Care-LAZISNU, Riri Khariroh menjelaskan bahwa bantuan LAZISNU ke depan akan difokuskan ke beberapa wilayah prioritas. Di Sumatra Utara, bantuan menyasar Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah. Di Sumatra Barat, fokus bantuan berada di Kabupaten Agam dan Tanah Datar.
“Sementara di Aceh, bantuan akan diarahkan ke pesantren serta titik-titik terdampak lainnya yang masih dalam tahap pembahasan,” kata dia.
Menjelang bulan Ramadhan, Riri menambahkan bahwa program bantuan akan difokuskan pada penanganan bencana, termasuk pemulihan pesantren, kegiatan dakwah, pemberdayaan ekonomi. “Serta pemenuhan kebutuhan air bersih, dengan prioritas utama bagi kelompok rentan,” lanjutnya.
Ia juga menekankan pentingnya pelaporan yang transparan dan akuntabel. “Pelaporan harus dibuat sebaik mungkin untuk membangun kepercayaan publik terhadap LAZISNU,” tegasnya.
NU Care-LAZISNU menegaskan komitmennya untuk terus hadir mendampingi masyarakat terdampak bencana melalui kerja kolaboratif, responsif, dan berkelanjutan, sebagai wujud khidmah Nahdlatul Ulama dalam bidang kemanusiaan.