Pendidikan Kesehatan Reproduksi Kunci Turunkan Angka Kematian Ibu dan Cegah Stunting
Senin, 20 Juli 2026 | 14:00 WIB
Ketua Tim Kerja Kesehatan Anak Usia Sekolah dan Remaja (Kemenkes) Evi Nilawaty (kanan) dalam Halaqah Implementasi Pendidikan Kesehatan Reproduksi Santri di Pondok Pesantren KHAS Kempek, Cirebon, Senin (20/7/2026). (Foto: NU Online/Suci Amaliyah)
Cirebon, NU Online
Ketua Tim Kerja Kesehatan Anak Usia Sekolah dan Remaja Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Evi Nilawaty, menegaskan bahwa pendidikan kesehatan reproduksi bagi remaja menjadi salah satu langkah penting untuk menurunkan angka kematian ibu (AKI) di Indonesia sekaligus mencegah tengkes (stunting) pada generasi mendatang.
Hal itu disampaikan Evi dalam Halaqah Implementasi Pendidikan Kesehatan Reproduksi Santri di Pondok Pesantren KHAS Kempek, Cirebon, Senin (20/7/2026).
Menurutnya, meski angka kematian ibu di Indonesia terus menurun, kondisinya masih lebih tinggi dibandingkan negara-negara tetangga di kawasan ASEAN.
Berdasarkan data Kemenkes, AKI Indonesia turun dari 189 per 100.000 kelahiran hidup pada 2020 menjadi target 183 pada 2024 dan ditargetkan mencapai 70 pada 2030 sesuai target Sustainable Development Goals (SDGs). Meski demikian, angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan Malaysia (29), Brunei Darussalam (31), Thailand (37), Vietnam (43), Filipina (121), Timor Leste (142), Kamboja (160), dan Laos (185).
"Angka kematian ibu di Indonesia terus menurun, namun masih lebih tinggi dibandingkan negara-negara tetangga di ASEAN yang telah berkembang, bahkan maju," ujarnya.
Karena itu, menurut Evi, kesehatan reproduksi remaja, khususnya remaja putri sebagai calon ibu, menjadi kunci untuk menurunkan angka kematian ibu pada masa mendatang.
"Pendidikan kesehatan reproduksi juga perlu diberikan kepada remaja putra agar memiliki pemahaman dan tanggung jawab yang sama," jelasnya.
Ia juga menyoroti angka kematian bayi (AKB) di Indonesia yang menunjukkan perbaikan, tetapi masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara ASEAN.
Data Kemenkes menunjukkan AKB Indonesia mencapai 16,8 per 1.000 kelahiran hidup pada 2020, dengan target turun menjadi 15 pada 2024 dan 12 pada 2030. Kendati demikian, angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan Thailand (4), Brunei Darussalam (4,9), Vietnam (10), Filipina (12,6), dan Kamboja (15,8).
Oleh sebab itu, Evi mengatakan bahwa menyiapkan remaja yang sehat merupakan investasi untuk melahirkan calon ibu dan bayi yang sehat pada masa mendatang.
"Kita sedang menyiapkan calon ibu yang sehat agar melahirkan bayi yang sehat untuk masa depan," katanya.
Bangun Sistem Pencegahan Kekerasan Seksual
Pengurus Lembaga Kemaslahatan Keluarga Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LKK PBNU), Nur Rofiah, menambahkan bahwa penyusunan modul pendidikan kesehatan reproduksi santri merupakan bagian dari ikhtiar membangun perubahan yang lebih mendasar dalam upaya mencegah kekerasan seksual di lingkungan pesantren.
"Modul ini adalah ikhtiar untuk mengatasi kekerasan seksual bukan hanya secara kasuistis, tetapi juga secara sistemik. Ini bagian dari ikhtiar panjang yang harus dilakukan," tegasnya.
Menurut Nur Rofiah, perubahan tersebut harus dimulai dari pembenahan cara pandang terhadap kemanusiaan, relasi antara laki-laki dan perempuan, serta pemahaman terhadap ajaran Islam.
Ia menilai masyarakat mewarisi sejarah panjang yang menormalkan kekerasan melalui peperangan, penjajahan, dan perbudakan sehingga tindakan menzalimi kelompok yang lemah kerap dianggap sebagai sesuatu yang wajar.
"Kalau cara pandang ini tidak diintervensi, maka bullying dan berbagai bentuk kekerasan akan terus terjadi," ujarnya.
Ia menambahkan, perempuan merupakan kelompok yang paling rentan mengalami ketidakadilan karena kondisi biologis yang membuat mereka mengalami menstruasi, kehamilan, melahirkan, nifas, dan menyusui.
"Problemnya adalah ada norma bahwa melakukan kezaliman kepada pihak yang lemah itu dianggap normal. Maka perempuan menjadi sasaran kezaliman yang dinormalkan," tandasnya.