Penjelasan Gus Faiz soal Iman, Aman, dan Amanah yang Diteladankan Kiai
Kamis, 30 Juli 2026 | 13:00 WIB
KH Faiz Syukron dan Prof Mahfud MD saat Halaqah Talkshow dalam rangka Haul Almarhumin Sesepuh dan Warga Pondok Buntet Pesantren 2026 di Graha Mbah Muqoyyim Buntet Pesantren, Cirebon, Jawa Barat, Rabu (29/7/2026). (Foto: tangkapan layar kanal Youtube Buntet Pesantren)
Cirebon, NU Online
Sikap moral dan integritas yang mengakar dalam tradisi pesantren dinilai menjadi fondasi utama bagi bangsa Indonesia dalam menghadapi ancaman degradasi moral serta kompleksitas dinamika sosial-politik modern.
Baca Juga
Gus Faiz: Ujian seperti Seorang Tamu
Hal tersebut mengemuka dalam forum Halaqoh Kebangsaan dan Kepesantrenan yang digelar dalam rangkaian Peringatan Haul Almarhumin Sesepuh dan Warga Pondok Buntet Pesantren 2026 di Graha Mbah Muqoyyim Buntet Pesantren, Cirebon, Jawa Barat, Rabu (29/7/2026).
KH Muhammad Faiz Syukron Ma'mun menguraikan bahwa keunggulan komparatif tradisi pesantren terletak pada penanaman integritas dan akuntabilitas yang dicontohkan secara nyata oleh para kiai.
"Kiai dulu itu kan menanamkan iman. Iman itu bukan iman agama, tapi iman kepercayaan. Karena kiai itu menanamkan keimanan sebagai orang yang pantas digugu dan ditiru, maka dia terbuka," ujarnya dalam forum bertema "Tradisi Pesantren Sebagai Prinsip Dasar Moralitas di Era Modern" itu.
Sosok yang kerap disapa Gus Faiz tersebut mengatakan bahwa di pesantren tidak ada sekat transaksional antara kiai dan santri, sehingga keteladanan tersebut menjadi pelajaran hidup (school of life) yang sesungguhnya.
Gus Faiz lantas menganalisis secara morfologis akar kata amanah, iman, dan aman yang berasal dari akar huruf Arab yang sama (hamzah, mim, dan nun). Menurutnya, dari keteladanan kiai lahir keimanan atau kepercayaan masyarakat. Hal itu lalu menciptakan rasa aman serta menunaikan amanah kebangsaan.
"Kiai pesantren itu mengajarkan sesuatu yang mulai hilang hari ini, yaitu integritas dan akuntabilitas. Dari keterbukaan dan kesederhanaan kiai, lahir keimanan atau kepercayaan publik, dan dari kepercayaan itu lahir rasa aman di tengah masyarakat," terang Katib Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu.
Di samping keteladanan moral, Gus Faiz juga mengingatkan para santri agar tidak bersikap kaku atau eksklusif dalam mengarungi arus modernisasi. Ia kemudian mengutip kaidah fiqhiyyah populer al-muhafazhatu 'alal qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah (memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik), serta menekankan pentingnya fleksibilitas berpikir tanpa mengorbankan prinsip dasarnya.
Ia juga mengimbau agar santri mampu membedakan antara syariat yang bersifat tetap (tsabat) dan produk pemikiran hukum atau fiqih yang bersifat dinamis (mutaghayyirat). Bagi Gus Faiz, kemampuan memilah tersebut yang membuat pesantren selalu relevan menjawab tantangan era digital dan perubahan zaman.
"Syariat itu tidak berubah, tapi fiqih itu sangat luas. Yang sempit itu kadang hati kita. Di pesantren, kita dididik untuk tahu mana prinsip syariat yang tidak boleh bergeser sedikit pun, dan mana hal-hal dinamis dalam fiqih yang harus beradaptasi dengan kemajuan zaman," pungkas Gus Faiz.
Selain Gus Faiz, kegiatan ini juga diisi oleh Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) 2019-2023 Prof Mahfud MD dan para peserta dihibur dengan penampilan Stand Up Comedian Boby Al-Mahbubi.