Prof Quraish Shihab: Iqra adalah Jalan Peradaban, Bukan Sekadar Aktivitas Membaca
Senin, 2 Maret 2026 | 17:30 WIB
Jakarta, NU Online
Pakar tafsir Al-Qur’an Prof M Quraish Shihab menegaskan bahwa perintah iqra bukan sekadar ajakan membaca secara tekstual, melainkan fondasi lahirnya peradaban. Di tengah derasnya arus informasi digital, umat Islam dituntut kembali merefleksikan makna dasar kemanusiaannya melalui ilmu pengetahuan.
Menurutnya, dalam perspektif Islam, ilmu bukan sekadar aksesori intelektual, tetapi pilar utama yang menentukan martabat seseorang di hadapan Allah. Ilmu berfungsi sebagai penerang kegelapan batin sekaligus penuntun arah kehidupan.
Baca Juga
Iqra’ dan Dimensi Masyarakat Digital
Prof Quraish menjelaskan bahwa iqra merupakan wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad dan merupakan kunci pembuka peradaban. Perintah tersebut mengandung tujuan luhur, bukan sekadar aktivitas membaca tanpa arah.
“Dalam ajaran Islam, iqra itu membaca itu harus dengan tujuan karena Allah. Dan kalau kita berkata karena Allah, maka itu dampaknya adalah kemaslahatan manusia," ujarnya dalam pengajian Ramadhan Tafsir Al-Misbah: Hidup Bersama Al-Qur’an bertajuk Mengapa Harus Belajar Al-Qur’an di kanal Youtube Pusat Studi Al-Qur’an, pada Ahad (1/3/2026).
Ia menilai, pendidikan dewasa ini kerap direduksi menjadi sarana meraih kesejahteraan materi. Orientasi belajar, kata dia, sering berhenti pada capaian-capaian pragmatis.
“Ada orang membaca karena mau ujian, ada orang membaca karena mau naik pangkat, ada orang membaca menghabiskan waktu teka-teki silang. Kalau dalam ajaran Islam, iqra itu harus dengan tujuan karena Allah, dan dampaknya adalah kemaslahatan manusia,” katanya.
“Banyak orang belajar hanya demi gelar, pangkat, atau sekadar mengisi waktu luang. Padahal, ilmu memiliki kebermanfaatan yang jauh melampaui harta benda,” katanya.
Untuk menegaskan pentingnya ilmu, ia mengutip Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Kutipan tersebut, menurutnya, menjadi pengingat agar masyarakat tidak keliru dalam menempatkan prioritas hidup.
“Ilmu memelihara kamu, harta kamu yang harus pelihara dia. Ilmu menjadikan dia bertambah kalau kamu menafkahkan atau membagikan ini, harta berkurang kalau kamu belanjakan,” ucapnya.
Lebih lanjut, Prof Quraish juga menyoroti perdebatan tentang relevansi belajar di era digital. Sebagian orang beranggapan bahwa kecerdasan buatan (AI) dapat menggantikan peran guru dalam proses pendidikan.
Namun, ia menegaskan bahwa belajar bukan sekadar transfer data, melainkan proses pembentukan karakter. Karena itu, kehadiran guru memiliki dimensi yang tidak dapat digantikan oleh algoritma apa pun.
“Guru itu bukan hanya mentransfer pengetahuan, tetapi menghidupkan semangat, memberi contoh-contoh dalam kehidupan bagi anak,” ucapnya.
Di akhir penyampaiannya, Prof Quraish mengingatkan agar generasi saat ini tidak menjalani proses belajar secara setengah-setengah. Potensi yang telah dianugerahkan Allah berupa mata, telinga, hati, dan pikiran harus dimanfaatkan secara optimal untuk mengeksplorasi ilmu pengetahuan.
“Sayang kalau kita sudah dibekali mata, telinga, hati, dan pikiran, tapi justru tidak menggunakannya secara optimal untuk mengeksplorasi ilmu pengetahuan,” tuturnya.