Psikolog Ungkap Kecemasan Bekomitmen Bayangi Generasi Muda dalam Memandang Pernikahan
Rabu, 21 Januari 2026 | 20:00 WIB
Jakarta, NU Online
Kondisi psikis dan kesehatan mental generasi muda dinilai tengah berada dalam situasi yang tidak baik-baik saja, terutama dalam memandang institusi pernikahan. Fenomena ini ditandai dengan kebingungan emosional, kecemasan, serta ketakutan untuk berkomitmen dalam hubungan jangka panjang.
Psikolog Klinis asal Sumatra Utara, Fadhilla Fajrah menilai, banyak anak muda saat ini berada dalam dilema antara keinginan untuk menikah dan rasa takut akan kegagalan. Ketakutan tersebut, menurutnya, terbentuk dari pengalaman sosial yang mereka saksikan dalam kehidupan sehari-hari.
“Generasi muda sebenarnya ingin menikah, tetapi di saat yang sama juga dihantui rasa takut gagal. Mereka melihat banyak contoh pernikahan yang tidak sehat, baik di lingkungan terdekat maupun di ruang publik, sehingga muncul keraguan untuk melangkah,” ujar Fadhilla kepada NU Online, Rabu (21/1/2026).
Ia menjelaskan, dalam kajian psikologi kondisi ini dikenal sebagai commitment anxiety atau kecemasan terhadap komitmen. Istilah tersebut merujuk pada kecemasan untuk terikat dalam relasi jangka panjang yang dipicu oleh faktor struktural maupun personal.
“Tekanan ekonomi yang tinggi, tuntutan sosial yang semakin kompleks, hingga pengalaman relasi sebelumnya yang menyisakan trauma turut membentuk kecemasan ini. Bahkan relasi orang tua yang tidak sehat juga dapat menjadi sumber trauma yang memengaruhi cara generasi muda memandang pernikahan,” jelasnya.
Menurut Fadhilla, fenomena tersebut seharusnya menjadi alarm bagi masyarakat dan pemangku kebijakan agar tidak serta-merta menyalahkan generasi muda atas menurunnya minat menikah. Menurutnya, perubahan cara pandang itu merupakan respons psikologis yang wajar terhadap kondisi sosial yang penuh ketidakpastian.
Ia menekankan pentingnya menghadirkan ruang dialog yang sehat, edukasi tentang relasi yang setara, serta akses layanan kesehatan mental bagi generasi muda. Upaya tersebut dinilai krusial agar anak muda dapat membangun pemahaman yang lebih matang dan realistis tentang komitmen dan pernikahan.
“Tanpa pendampingan psikologis dan lingkungan yang suportif, kecemasan komitmen berisiko berdampak pada kualitas relasi jangka panjang di masa depan,” imbuhnya.
Senada dengan itu, dosen Psikologi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia), Maryam Alatas menyebut, respons emosional generasi muda terhadap pernikahan sangat beragam. Tidak sedikit yang memandang pernikahan sebagai jalan keluar dari konflik keluarga, sementara sebagian lainnya justru merasa takut menikah akibat pengalaman pernikahan orang tua yang tidak harmonis.
“Takut menikah sebenarnya hal yang baik selama berada dalam batas normal. Ketakutan itu bisa mendorong seseorang mempersiapkan pernikahan dengan lebih matang, mulai dari kesiapan mental, finansial, hingga memilih pasangan yang tepat, bukan sekadar menikah karena tekanan,” jawab Maryam.
Maryam menambahkan, tekanan sosial kerap menjadi pemicu stres karena adanya perbedaan harapan antara orang tua dan anak. Banyak anak muda yang ingin menata karier dan mempersiapkan diri terlebih dahulu, sementara orang tua berharap anak segera menikah, tak jarang dipengaruhi tekanan dari keluarga besar.
Dalam kondisi tersebut, sebagian anak muda akhirnya menyegerakan pernikahan atau mencari pasangan tanpa pertimbangan matang. Padahal, menurut Maryam, persoalan ekonomi merupakan aspek penting yang perlu dibicarakan secara terbuka sebelum menikah.
“Calon pasangan perlu membicarakan penghasilan, kebutuhan setelah menikah, tempat tinggal, hingga tanggung jawab sebagai sandwich generation yang masih harus menafkahi orang tua atau adik. Semua itu perlu diketahui sejak awal oleh kedua belah pihak,” jelasnya.
Selain aspek ekonomi, ia menekankan pentingnya mengenal keluarga pasangan secara lebih mendalam. Pola relasi calon pasangan dengan orang tua, saudara, serta cara menghadapi konflik dinilai dapat menjadi gambaran dinamika rumah tangga di masa depan.
Maryam juga mengingatkan agar generasi muda tidak menormalisasi red flag yang sudah terlihat sejak awal, seperti kekerasan fisik, verbal, maupun emosional. Menurutnya, kekhawatiran menikah justru perlu dipahami sebagai sinyal untuk lebih waspada dan mempersiapkan diri.
“Oleh karena itu, pemahaman tentang konseling pranikah sebaiknya diberikan sejak dini, bahkan kepada mereka yang belum berencana menikah," tandasnya.
Ia mendorong agar pemerintah dan institusi pendidikan, khususnya kampus, dapat menghadirkan program edukatif seperti workshop persiapan pernikahan. Dengan demikian, generasi Z memiliki bekal pengetahuan yang memadai untuk menapaki jenjang pernikahan secara lebih sadar, sehat, dan bertanggung jawab.