Qadha Puasa Ramadhan di Hari Tarwiyah dan Arafah, Tetap Dapat Pahala Puasa Sunnah?
Ahad, 24 Mei 2026 | 07:00 WIB
Jakarta, NU Online
Umat Islam dianjurkan untuk melaksanakan puasa tarwiyah, 8 Dzulhijjah, yakni pada Senin (25/5/2026) dan puasa Arafah, 9 Dzulhijjah, yaitu pada Selasa (26/5/2026). Menjadi pertanyaan jika dua puasa tersebut dibarengkan dengan qadha puasa Ramadhan, apakah keutamaan puasa sunnahnya tetap diperoleh?
Menjawab pertanyaan tersebut, Wakil Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM PBNU) Ustadz Alhafiz Kurniawan menjelaskan bahwa hukum menggabungkan qadha puasa Ramadhan dan puasa sunnah Tarwiyah atau Arafah adalah boleh dan sah. Bukan sekadar sah, ia juga menegaskan, orang yang melaksanakan puasa qadha di hari puasa sunnah juga mendapatkan keutamaan puasa sunnah tersebut.
Baca Juga
Qadha Puasa untuk Orang Mati
"Qadha puasa Ramadhannya tetap sah. Sedangkan ia sendiri tetap mendapatkan keutamaan yang didapat oleh mereka yang berpuasa dengan niat puasa sunnah Arafah," katanya dalam artikelnya berjudul Hukum Qadha Puasa Ramadhan Digabung dengan Puasa Tarwiyah dan Puasa Arafah di NU Online dikutip Ahad (24/5/2026).
Pandangan ini diqiyaskan dengan keterangan Syekh Zakariya Al-Anshari dalam Asnal Mathalib mengenai qadha puasa di hari Asyura. Dijelaskan, Al-Barizi berfatwa bahwa orang yang berpuasa pada hari Asyura, misalnya, untuk qadha atau nazar puasa, maka ia juga mendapat pahala puasa sunnah hari Asyura.
"Pandangan ini disepakati oleh Al-Ushfuwani, Al-Faqih Abdullah An-Nasyiri, Al-Faqih Ali bin Ibrahim bin Shalih Al-Hadhrami," demikian potongan keterangan Syekh Zakariya Al-Anshari.
Sayyid Bakri Syatha dalam kitab I‘anatut Thalibin juga menyebut hal yang serupa. Menurutnya, tulis Ustadz Alhafiz, orang yang berpuasa pada hari-hari yang sangat dianjurkan berpuasa bakal mendapatkan keutamaan seperti mereka yang berpuasa sunnah pada hari tersebut, meskipun tidak niat puasa sunnah tersebut, melainkan qadha puasa atau puasa nazar.
"Di dalam Al-Kurdi terdapat nash yang tertulis pada Asnal Mathalib dan sejenisnya yaitu Al-Khatib As-Syarbini, Syekh Sulaiman Al-Jamal, Syekh Ar-Ramli bahwa puasa sunnah pada hari-hari yang sangat dianjurkan untuk puasa memang dimaksudkan untuk hari-hari tersebut. Tetapi orang yang berpuasa dengan niat lain pada hari-hari tersebut, maka dapatlah baginya keutamaan," demikian tulis Ustadz Alhafiz mengutip keterangan Sayyid Bakri.
Meskipun demikian, Ustadz Alhafiz menyarankan agar sebaiknya terlebih dahulu mengqadha utang puasanya bagi orang yang memiliki utang puasa Ramadhan. Setelahnya, barulah boleh orang tersebut mengamalkan puasa sunnah Tarwiyah dan Arafah.
Baca Juga
Fadhilah Puasa Arafah
"Tetapi kalau utang puasa Ramadhan itu baru teringat jelang hari Arafah, sebaiknya ia membayar qadha puasanya di hari Arafah," terang Redaktur Pelaksana Keislaman NU Online itu.
Adapun lafal niat qadha puasa Ramadhan ditulis Ustadz Alhafiz dalam artikel yang lain di NU Online sebagai berikut:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhā’I fardhi syahri Ramadhāna lillâhi ta‘âlâ.
Artinya, “Aku berniat untuk mengqadha puasa Bulan Ramadhan esok hari karena Allah swt.”