Nasional

Tahlil Hari Ketujuh Nyai Machfudhoh Aly Ubaid di Jakarta, Kiai Said Aqil Kenang Perjuangannya untuk NU

Ahad, 11 Oktober 2026 | 07:00 WIB

Tahlil Hari Ketujuh Nyai Machfudhoh Aly Ubaid di Jakarta, Kiai Said Aqil Kenang Perjuangannya untuk NU

KH Said Aqil Siroj saat menyampaikan mauidhoh pada tahlil ketujuh Nyai Hj Machfudhoh Ali Ubaid. (Foto: NU Online/Haekal)

Jakarta, NU Online

 

Keluarga Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, menggelar tahlil dan doa bersama untuk memperingati hari ketujuh wafatnya Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Nyai Hj Machfudhoh Aly Ubaid, di Pulo Mas, Jakarta Timur, Sabtu (10/10/2026) malam.

 

Acara diawali dengan pembacaan Surah Yasin dan tahlil yang dipimpin Ustadz Abdurrahman serta diikuti oleh Nahdliyin di Jakarta. Setelah itu, Mustasyar PBNU KH Said Aqil Siroj menyampaikan ceramah yang mengenang perjuangan Nyai Machfudhoh dalam berkhidmah kepada Nahdlatul Ulama sejak usia muda hingga akhir hayatnya.

 

"Bahkan, ketika Muktamar NU, beliau masih dalam keadaan sehat. Inilah keteladanan Nyai Machfudhoh yang harus kita warisi," katanya saat mauidhah hasanah.

 

Baginya, mengenang Nyai Machfudhoh tidak cukup hanya melalui tahlil dan doa bersama, melainkan melalui pengabdian nyata kepada NU.

 

"Perjuangan mereka harus terus hidup dalam pengabdian kita kepada NU," katanya.

 

Terkait nilai perjuangan untuk NU, ia menjelaskan bahwa pengabdian seharusnya tidak dilandasi keinginan untuk mencari keuntungan duniawi, melainkan semata-mata untuk menegakkan kalimat Allah. 

 

"Orang yang memimpin NU dengan terlebih dahulu menghitung keuntungan materi yang akan diperoleh, pasti akan gagal. Kepemimpinan seperti itu tidak akan membawa kemaslahatan," jelasnya.

 

Sementara itu, Gus Syaifuddin, mewakili keluarga, mengatakan bahwa kehadiran para Nahdliyin dalam tahlil dan doa bersama merupakan wujud kecintaan kepada Nyai Machfudhoh.

 

Menurutnya, Nyai Machfudhoh merupakan sosok yang memiliki semangat luar biasa hingga penghujung hayatnya. Beliau, katanya, masih sempat menghadiri acara Muslimat NU di Masjid Istiqlal beberapa waktu lalu.

 

"Inilah yang perlu kita teladani dari Nyai Machfudhoh. Sebagaimana KH Abdul Wahab Chasbullah yang terus berjuang untuk NU tanpa mengenal batas usia," jelasnya.

 

"Senyum dan semangat beliau masih membekas dalam ingatan kita hingga hari ini," terangnya.