Nyai Machfudhoh Aly Ubaid: Jimat NU dan Jalan Panjang Perjuangan Perempuan
NU Online · Senin, 5 Oktober 2026 | 13:00 WIB
Abi S Nugroho
Kolumnis
Januari 2019, Gelora Bung Karno, sudah lewat pukul sepuluh malam. Para pekerja memasang penutup rumput dan mendirikan panggung untuk Harlah ke-73 Muslimat NU, perayaan besar pertama organisasi itu di stadion yang dibangun Bung Karno. Di tengah lapangan, Ketua Umum Muslimat Khofifah Indar Parawansa asyik mengobrol dengan seorang perempuan bertongkat. Perempuan itu barangkali orang tertua di seluruh lapangan malam itu. Keringat meleleh di pipinya.
Ia tidak lagi menjabat pengurus harian. Tidak ada yang mewajibkannya datang. Ketika ditanya mengapa ia ada di sana, Nyai Hj Machfudhoh Aly Ubaid menjawab pendek: “Saya hanya ingin menyemangati yang muda saja.”
Di acara-acara Muslimat NU, mars organisasi itu biasa dinyanyikan para perempuan berseragam batik hijau cerah. Isinya tentang iman dan ilmu sebagai pedoman, tentang pengabdian pada agama, nusa, dan bangsa, tentang perempuan sebagai pendidik, pembina, dan pembimbing. Lirik dengan kata-kata ringan dinyanyikan namun tidak mudah menjalaninya selama enam dekade. Dengan badan yang sejak kecil ringkih, di dalam organisasi, partai, dan zaman yang tidak selalu ramah.
Ahad, 4 Oktober 2026, pukul 22.30 WIB, Machfudhoh wafat di Kalibata, Jakarta, setelah menjalani penanganan medis, dalam usia 82 tahun. Keluarga, lewat pesan yang dikonfirmasi kepada NU Online, menyebutkan ia berpulang “dengan tenang”. Enam hari sebelumnya, PBNU mengumumkan susunan pengurus 2026–2031. Namanya tercantum di urutan kesebelas jajaran Mustasyar. Tim formatur baru saja menuliskan namanya untuk lima tahun ke depan.
Senin ini ia dimakamkan di pemakaman keluarga Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang. Di depan rumah duka di kompleks pesantren itu, papan pengumuman sudah dipasang sejak pagi.
Setelah puluhan tahun Muslimat NU melantunkan mars tentang perjuangan, seperti apa wajah perjuangan itu ketika benar-benar dijalani oleh seorang perempuan bernama Machfudhoh?
Pintu yang membuka nama
Machfudhoh lahir di Tambakberas pada 12 Maret 1944 sebagai putri sulung KH Abdul Wahab Chasbullah, penggerak berdirinya NU yang kelak menjadi Rais Aam, dan Nyai Sa’diyah, yang setelah berhaji dikenal sebagai Nyai Rahmah. Nama sang ayah membuka banyak pintu. Ia ikut ke muktamar sejak kecil, meski di sana lebih banyak melihat bazar dan jajan. Sekitar kelas empat, ia sudah ikut rombongan diba’an Fatayat yang berkeliling, dan selalu berdiri di barisan paling depan.
Tetapi catatan masa kecilnya bersumber dari buku Prof. Sururin, Perjuangan Ibu Nyai dan Politisi Perempuan (2012), juga memperlihatkan seorang anak yang menaruh curiga pada pintu yang terbuka terlalu mudah. Tubuhnya ringkih, ia sering mimisan, bisulan, dan sesak napas sehingga kerap dimanja. Namun ia suka permainan yang menantang dan bermain perang-perangan bersama kawan laki-laki. Ayahnya mendiktekan bacaan salat kepadanya lalu mengoreksi dan dalam setiap perjalanan bercerita tentang kota-kota yang mereka lewati. Ibunya mengajarinya bacaan Al-Qur’an dan membiasakannya mengantar makanan untuk sang nenek dan sanak saudara.
Di madrasah Tambakberas, guru-guru enggan menghukum putri sang kiai. Ketika kawan-kawannya dihukum karena tidak hafal pelajaran, ia, yang juga tidak hafal, justru dipersilakan duduk. Ia heran dengan perlakuan semacam itu, lalu mengadu kepada ibunya, bukan untuk meminta keringanan, tetapi untuk menuntut diperlakukan sama. Ia kemudian pindah ke Sekolah Rakyat dua kilometer jauhnya dan dicemooh sebagai anak orang kafir, karena anak dari keluarga pesantren tidak lazim sekolah di sana.
Rumah besar dan kamar-kamar sempit
Pada 1962 ia dinikahkan dengan KH Aly Ubaid, putra KH Abdullah Ubaid asal Surabaya pilihan ayahnya. Ia sebenarnya ingin kuliah seperti kawan-kawannya di IAIN, tetapi keinginan itu tidak terwujud. Di Jakarta, putri pendiri NU itu memulai kehidupan publiknya. Dalam organisasi ia memulai dari tingkat paling bawah dan jauh dari panggung, yakni seksi wanita di RT dan RW. Ia buka kursus menjahit, les privat bagi teman-teman putrinya, hingga menyusun detail laporan keuangan setiap tahun.
Dunia NU saat itu adalah rumah besar dengan kamar-kamar sempit bagi perempuan. Struktur pengambil keputusannya nyaris seluruhnya laki-laki. Perempuan bekerja di Muslimat dan Fatayat, di majelis taklim dan taman kanak-kanak, sementara Orde Baru dan militer sedang menjinakkan seluruh organisasi yang dianggap akan mengancamnya, tidak terkecuali NU. Ketika itu Fatayat NU DKI Jakarta vakum, adiknya, Hisbiyah mengajaknya pada 1972.
Ketua yang semestinya terpilih berhalangan satu per satu. Ia baru benar-benar aktif pada 1976. Calon ketua wilayah meninggalkan Jakarta satu per satu. Cicik Mukafi harus pindah ke Bojonegoro setelah suaminya wafat, dan Khotimah pulang ke Malang. Dalam konferensi wilayah, Machfudhoh diminta memimpin sidang tata tertib. Ia mengaku kepada seniornya, Idah Mawaddah, bahwa ia belum pernah memimpin sidang. Idah tetap menyuruhnya maju. Sidang berjalan lancar, dan ia terpilih sebagai ketua. Pada Kongres VIII tahun 1979 ia memimpin Pimpinan Pusat Fatayat, lalu terpilih kembali hingga 1989. Sejarah mencatat masa itu sebagai kebangkitan Fatayat setelah lama vakum.
Caranya memimpin tidak mendominasi melainkan berbagi. Ia melibatkan tiap anggota dalam setiap keputusan sehingga mereka mendapat perhatian, merasa diperlukan dan bermakna. Dengan musyawarah bersama para pengurus sepakat merintis himpunan daiyah yang kelak menjadi HIDMAT. Di dalamnya ia buka kamar-kamar, lalu melebarkan pintunya agar banyak kader perempuan bisa mengambil peran.
Nyai di Senayan
Pada masa yang sama, Ketua Umum PP Muslimat NU, Asmah Sjachruni, kerap mengajaknya berbincang tentang persoalan masyarakat yang ujungnya bersinggungan dengan kebijakan negara. Dari percakapan-percakapan itu menarik minatnya ke dunia politik.
Waktunya terasa janggal. Suaminya mundur dari politik pada 1978. Pada 1984, Muktamar Situbondo membawa NU kembali ke Khittah 1926 dan mengambil jarak dari PPP, sebuah partai hasil fusi 1973 sebagai wadah berpolitik warga NU. Machfudhoh justru bergerak ke arah sebaliknya. Ia ikut kampanye untuk PPP sekitar 1982, masuk MPR pada 1986, dan dilantik sebagai anggota DPR pada 1987. Dia ditugaskan untuk Komisi IX bidang agama, pendidikan, dan pemuda. Ketika dilantik teringat nasihat ayahnya bertahun-tahun sebelumnya, bahwa tanpa gelar pun ia bisa mencapai cita-citanya. Ia terharu.
Penelitian Lailatul Latifah dari UIN Sunan Ampel pada 2017 menjelaskan, perempuan dan anak, katanya, adalah pihak paling menanggung buruknya layanan kesehatan, pendidikan, dan kemiskinan. Muslimat dan Fatayat perlu hadir dengan merawat dan memastikan dampaknya tidak buruk namun undang-undang dan anggaran dibuat di DPR sehingga kader harus terlibat. Dengan duduk di Senayan tiga periode, 1987–1992, 1997–1999, dan 2004–2009, dan pada 2000, ia memperkuat peran perempuan dengan mendirikan Kaukus Perempuan Politik Indonesia. Kaukus ini sebagai ruang belajar, kolaborasi, dan perjuangan memperkuat keterwakilan serta kepemimpinan perempuan dalam politik dan kebijakan publik.
Ketika era reformasi melahirkan PKB, banyak Nahdliyin berpindah ke sana. Machfudhoh tetap di PPP dan kembali ke DPR lewat partai berlambang Ka’bah itu pada 2004. Pilihan itu memperlihatkan sesuatu tentang generasinya, bagi mereka, kesetiaan pada NU tidak selalu berarti kesetiaan pada satu kendaraan politik. Kerabatnya sendiri, Aisyah Hamid Baidlowi, berjuang melalui Golkar.
Dengan Aisyah pula ia pernah bersaing. Dalam Kongres XIII Muslimat NU tahun 1995, Aisyah, putri pasangan Nyai Solichah dan Wachid Hasyim, cucu adik KH Wahab mengalahkan Machfudhoh. Secara silsilah ia adalah budhenya. Melalui proses pemilihan yang demokratis sesudahnya Machfudhoh menjabat Ketua I di bawah kepemimpinan Aisyah. Di keluarga besar NU, darah tidak menghapus kompetisi dan kompetisi tidak memutus hubungan darah.
Lalu apa yang terjadi ketika pengalaman politik dibawa pulang ke pesantren?
Amanah yang lebih panjang
Nyai Sa’diyah wafat pada 1994. Pesantren putri Al-Lathifiyyah yang dirintis nenek Machfudhoh, Nyai Lathifah, dengan sekitar 15 santri di rumahnya, lalu dipimpin Nyai Sa’diyah lebih dari setengah abad dipercayakan kepadanya. Saat itu ia sedang memimpin Wanita Persatuan menjabat wakil ketua departemen dakwah DPP PPP dan Ketua I Muslimat. Pesantrennya di Tambakberas, Jombang berjarak sekitar 700 kilometer dari rumahnya di Jakarta.
Menurutnya pesantren itu bukan hanya titipan orang tua. Baginya “Pesantren ini juga amanah dari Allah yang harus saya jaga.” Karena itu, sesibuk apa pun di politik, ia harus menyempatkan diri pulang ke Jombang. Kalimat itu memperlihatkan hierarki yang jarang diucapkan politisi. Kursi DPR berlaku lima tahun, sedangkan pesantren menuntut pertanggungjawaban sepanjang hidup.
Kepulangan itu tidak ia jalani sendirian. Pada tahun-tahun awal, yang paling rajin mengisi pengajian adalah suaminya, Aly Ubaid, yang juga mengantarnya bolak-balik Jakarta–Jombang hingga ia wafat pada 1999. Urusan harian diurus adik bungsunya, KH M. Roqib Wahab, bersama istrinya, Nyai Nisful Laila. Machfudhoh sendiri datang sebulan atau dua bulan sekali. Tidak bisa disangkal, kerja politiknya disangga mereka yang namanya jarang disebut.
Di pesantren, pengalaman politiknya berubah menjadi sistem. Ia mendata ulang semua ustaz dan ustazah dan menggelar rapat guru setiap tiga bulan. Guru yang tidak aktif tidak langsung dipecat, lebih dulu dicari penyebab dan motivasinya. Ia memeriksa sampai ke honor para guru. Setiap tahun ajaran baru ia bertemu wali santri. Santri boleh berorganisasi asalkan meminta izin, dan forum-forum santri dilatih bersidang. Sebelum berbicara di depan santri, ia menuliskan poin-poinnya di selembar kertas. Ketika jemaah salat sepi, ia tidak memarahi melainkan mengajak santri salat hajat bersama. Dua ribath yang ia bangun diberi nama perempuan. Al-Layyinah dan as-Sa’diyah, nama ibunya.
Tahu kapan pergi
November 2016, Kongres XVII Muslimat NU di Asrama Haji Pondok Gede. Machfudhoh, 72 tahun, memimpin sidang pleno laporan pertanggungjawaban di hadapan lebih dari 500 utusan. Ia memberi setiap wilayah kesempatan yang sama bicara, lalu mengetuk palu tiga kali. Empat puluh tahun sebelumnya, ia gugup memimpin sidang tata tertib di tingkat wilayah.
Sesudah kongres itu ia mundur dari pengurus harian setelah lima periode atau dua puluh lima tahun. “Kalau terus di situ kapan memberi kesempatan yang lain,” katanya.
Mudah membaca kalimat itu sebagai kerendahan hati. Tetapi ia sebenarnya sedang menyatakan sikap soal kekuasaan. Jabatan yang tidak dilepas akan menyumbat jalan generasi berikutnya. Dalam kesempatan yang sama ia menyampaikan sesuatu yang lebih jarang terdengar dari seorang sesepuh. Ia meminta Khofifah agar pengurus HIDMAT tidak rangkap jabatan lain. Ia menyadari ketika ia sendiri merangkap urusan organisasi lain dan HIDMAT, hati kecilnya kurang puas karena hasilnya tidak signifikan. Di balik kelembutan seorang nyai yang organisator, ia punya rasa kecewa pada kerjanya sendiri.
Ia meninggalkan kursi tetapi tidak meninggalkan pekerjaan. Ketika ditanya apakah “jimat” Muslimat akan hilang bersama pensiunnya, ia menjawab bahwa kepengurusan hanyalah formalitas. Hatinya tetap di sana dan bila ada yang keliru ia akan berusaha meluruskan.
Dua generasi, dua modal
Khofifah-lah yang kerap menyebut Machfudhoh sebagai “jimat” Muslimat NU. Hubungan keduanya mudah disederhanakan menjadi hubungan guru dan murid. Kenyataannya lebih menarik dari itu.
Khofifah, lahir 1965, ketika Machfudhoh sudah tiga tahun menikah yang membawa modal generasi baru NU. Merintis organisasi modern, pemilu, kementerian, dan kursi gubernur. Machfudhoh membawa modal yang tidak bisa dibeli dengan suara, yakni silsilah, pesantren, ingatan tentang NU masa awal, doa, dan jaringan lama. Keduanya saling membutuhkan. Pada 2012, Khofifah meresmikan gedung serbaguna al-Machfudhoh di pesantren Tambakberas. Pada 2018, ketika Khofifah maju dalam Pilgub Jawa Timur, Machfudhoh menyambut pasangannya, Emil Dardak, di Tambakberas, mengantarnya ziarah ke makam Mbah Wahab, dan memuji pasangan itu dengan menyebut keduanya “sama-sama pintar dan tegasnya dalam menyikapi sesuatu”.
Ketika PBNU terbelah dua ia mengambil peran pada Desember 2025. Dalam rapat pleno yang menetapkan KH Zulfa Mustofa sebagai Penjabat Ketua Umum, Machfudhoh duduk di meja depan berdampingan dengan Khofifah. Ia menyebut langkah itu sebagai upaya menyelamatkan NU. “Kalau sudah NU, itu adalah ruh saya,” katanya. Ia sesepuh yang tidak setengah-setengah atau berlagak netral. Ia mengambil sikap memihak dan menanggung konsekuensinya.
Jadi, ketika seorang ketua umum organisasi perempuan menyebut seorang nyai tanpa jabatan khusus sebagai jimat, itu pengakuan bahwa organisasi tetap butuh ingatan dan legitimasi sejarah. Sebaliknya, ingatan itu butuh orang-orang seperti Khofifah agar terus memperkuat khidmah.
Jimat yang bekerja
Apa sebenarnya arti jimat bagi sebuah organisasi? Bukan benda keramat dan bukan orang yang kebal kritik. Jejak Machfudhoh menunjukkan arti lain. Seseorang yang menyimpan ingatan zaman, legitimasi, hubungan, dan doa, lalu terus menggunakannya.
Ingatan itu ia pakai. Pada 2019, di Gelora Bung Karno, ia cerita bahwa ayahnya aktif di NU sampai tua dan masih menyampaikan pidato pembukaan di Muktamar Surabaya 1971, tak lama sebelum wafat. Doa pun ia organisasikan. Prof. Sururin mencatat, program tadarus bergilir One Day One Juz lahir dari umrah bersama HIDMAT yang dipimpin Machfudhoh pada Januari 2016.
Pada 10 September 2025, khataman bergilir memasuki putaran ke-2.452. Setiap hari, selama lebih dari tujuh tahun. Jika seorang anggota haid, sakit, atau lupa melapor, anggota lain membadalinya. Ada salat hajat seratus rakaat setiap bulan, ijazah salawat Nariyah dan Burdah dengan tawasul kepada KH Wahab, dan zikir yang ia pimpin sendiri.
Pada Februari 2025 di Kongres XVIII Muslimat NU di Surabaya, julukan itu terdengar dari mimbar yang lebih tinggi. Presiden Prabowo Subianto menyapa Machfudhoh, yang duduk di barisan depan bersama putrinya, sebagai jimat Muslimat dan jimat NU.
Tetapi kebanyakan jimat bekerja dengan diam. Machfudhoh dipercaya terus menghidupkan organisasi karena puluhan tahun tidak pernah bisa tinggal diam.
Setelah jimat tiada
Pada 2022 untuk kali pertama, PBNU memasukkan perempuan ke dalam struktur kepengurusan formal, dan Machfudhoh termasuk di antara mereka. Tetapi urutan sejarahnya terbalik. Ia ada dan sudah benar-benar memimpin Fatayat sejak 1979. Menduduki parlemen sejak 1987 dan mengasuh pesantren sejak 1994. Struktur itu menyusul orangnya.
Dari hidupnya kita belajar. Ia berani. Berani menuntut dihukum seperti kawan-kawannya, memimpin sidang yang belum pernah ia pimpin, masuk partai ketika organisasinya menjauh dari partai. Ia merawat. Guru yang didengar dan tidak langsung diberhentikan, santri yang diajak salat hajat, adik dan suami yang menopangnya, kelompok tadarus yang tak putus dan berani bersikap atas pilihan dan konsekuensinya.
Dan ia lentur. Berupaya mengambil tanggung jawab di pesantren meski harus bolak-balik ratusan kilometer Jakarta – Jombang, berpindah dari Orde Baru ke Reformasi dengan konsisten di PPP, dari palu kongres ke majelis pengajian mendampingi jamaah tanpa tercerabut dari Tambakberas. Barangkali itulah sebabnya ia disebut jimat. Bukan tidak berubah melainkan karena sungguh-sungguh mampu berubah tanpa kehilangan nilai manfaat bagi banyak orang.
Para perempuan Muslimat akan menyanyikan mars mereka di acara-acara berikutnya, tentang pengabdian kepada agama, nusa, dan bangsa seraya mengingat jasanya. Dan pagi di grup tadarus yang ia rintis, seseorang melaporkan bacaan juz tetap berjalan meski tanpanya.
Senin ini ia akan dibaringkan di Tambakberas tidak jauh dari ayahnya. Sudah pasti ia akan dikenang. Namun apa yang terjadi pada ruang-ruang, kamar-kamar yang telah ia buka selebar-lebarnya setelah ia yang membukanya tidak lagi ada?
Jimat, aji dirumat. Perihal luhur (aji) yang wajib dipelihara (dirumat) agar terus memberikan manfaat. Ia bukan mewariskan kesaktian tapi kebiasaan, datang ke lapangan jauh lebih awal sebelum sebuah perhelatan dimulai sekalipun tidak ada kewajiban baginya, hanya demi memberi semangat generasi berikutnya.
Abi S Nugroho, aktivis muda Nahdlatul Ulama
Terpopuler
1
Prof Ainun Na'im, Guru Besar Akuntansi yang Jadi Bendahara Umum PBNU
2
Innalillahi, Mustasyar PBNU Nyai Machfudhoh Aly Ubaid Wafat
3
Dilantik Jadi Wantimpres, Kiai Said Siap Berikan Pertimbangan Konstruktif untuk Presiden
4
Jejak Karier Mohammad Nuh: Dari Menteri hingga Katib Aam PBNU 2026-2031
5
Hari Santri 2026, PBNU Instruksikan Apel Serentak, Layanan Sosial, Ziarah Ulama, hingga Mujahadah Palestina
6
Prabowo Lantik 26 Wantimpres, Nyai Sinta Nuriyah Jadi Satu-satunya Perempuan
Terkini
Lihat Semua