Margaret Aliyatul Maimunah, Waktunya Habis untuk Mengabdi kepada NU
Ahad, 1 Maret 2026 | 16:00 WIB
Kepergian Ketua Umum Fatayat NU Margaret Aliyatul Maimunah meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar Nahdlatul Ulama dan berbagai kalangan. Sosok yang dikenal sepenuh hidupnya diabdikan untuk khidmah organisasi, pemberdayaan perempuan, dan perlindungan anak itu wafat di RSUP Fatmawati Jakarta pada Ahad, 1 Maret 2026 pukul 08.25 WIB.
Kabar duka tersebut dikonfirmasi oleh suaminya, KH Abdullah Masud, yang juga menjabat sebagai Ketua PCNU Tangerang Selatan.
Sebelumnya, Margaret sempat dirawat di RS Sari Asih pada 15 Februari 2026 sepulang menghadiri Rapat Anggota Tahunan (RAT) Yasmin.
Dalam kondisi kurang sehat, ia masih mengenakan seragam Fatayat NU—sebuah simbol bahwa hari-harinya nyaris tak pernah lepas dari aktivitas organisasi. Pada 17 Februari 2026, ia dirujuk ke RSUP Fatmawati hingga akhirnya berpulang.
Di mata sahabat dan koleganya, Margaret dikenal sebagai perempuan Nahdliyah yang tak pernah lelah berkhidmah. Aktivitasnya hampir selalu dipenuhi agenda konsolidasi kader, penguatan isu perempuan, hingga advokasi sosial di tengah masyarakat.
Kesaksian mendalam datang dari Alissa Wahid. Hubungan kekeluargaan keduanya berakar kuat dalam tradisi pesantren dan Nahdlatul Ulama.
Margaret adalah putri dari Hj Lilik Chodijah binti KH Aziz Bisri bin KH Bisri Syansuri. Sementara Alissa Wahid merupakan putri sulung KH Abdurrahman Wahid. Gus Dur adalah putra dari Nyai Hj Solichah binti KH Bisri Syansuri. Karena itu, Margaret adalah keponakan dari Alissa.
Ikatan keluarga tersebut menjadikan kesaksian Alissa terasa personal sekaligus reflektif. Menurutnya, perjalanan organisasi Margaret tidak lahir secara instan, melainkan melalui proses panjang kaderisasi sejak usia muda.
“Mbak Margaret ini termasuk salah satu dari keluarga besar Pondok Pesantren Denanyar yang paling aktif di NU sejak muda. Ia tumbuh dari proses kaderisasi, mulai dari IPPNU hingga akhirnya menjadi Ketua Umum Fatayat NU,” ujar Alissa.
Alissa menilai, jika ingin mencari gambaran Nahdliyah yang aktif, berprestasi, dan total dalam pengabdian kepada umat, maka Margaret adalah salah satu contohnya.
“Kalau ada gambaran Nahdliyah yang aktif, berprestasi, dan khidmahnya benar-benar untuk umat, salah satu contohnya adalah Mbak Margaret,” tuturnya.
Menurut Alissa, hampir seluruh waktu Margaret dicurahkan untuk khidmah atau mengabdi. Ia kerap menghadiri forum kaderisasi hingga tingkat daerah, memastikan modul dan proses penguatan kepemimpinan berjalan baik, serta membangun jejaring Fatayat hingga ke luar negeri.
“Margaret ini benar-benar waktunya habis untuk khidmah. Hampir semua waktunya diisi dengan kegiatan Fatayat, konsolidasi kader, hingga aktivitas organisasi,” kata Alissa.
Selain memimpin Fatayat NU 2022-2027, Margaret juga berkhidmah sebagai Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Dalam berbagai forum publik, ia konsisten menyuarakan pentingnya perlindungan anak serta penguatan peran keluarga dalam pendidikan dan pengasuhan.
Sementara itu, Alissa Wahid dikenal sebagai psikolog keluarga dan penggerak Jaringan Gusdurian yang aktif mendorong nilai-nilai kemanusiaan dan kebangsaan di tengah masyarakat. Keduanya, meski dalam ruang pengabdian berbeda, sama-sama menapaki jejak khidmah dalam tradisi Nahdlatul Ulama.
Kini, sosok Margaret Aliyatul Maimunah telah berpulang. Namun bagi keluarga, sahabat, dan kader Fatayat NU di seluruh Indonesia, jejak pengabdian, semangat kaderisasi, serta dedikasinya kepada perempuan dan anak akan terus menjadi warisan berharga bagi generasi Nahdliyin berikutnya.