Mengenal Imam Al-Baghawi: Ulama Tafsir Penulis Kitab Ma'alimut Tanzil
Sabtu, 3 Januari 2026 | 04:00 WIB
Di sebuah kota kecil bernama Baghsyur, pada tahun 433 H, lahirlah seorang anak laki-laki bernama Abu Muhammad Al-Husain bin Mas’ud bin Muhammad. Anak ini, yang kelak dikenal sebagai Imam Al-Baghawi, lahir dari keluarga sederhana.
Ayahnya seorang pengrajin kulit, bekerja keras membuat pakaian dari bulu binatang. Kehidupan miskin yang membentuk masa kecilnya tidak menjadi penghalang bagi tekadnya; justru, kesederhanaan itu menumbuhkan karakter rendah hati, disiplin, dan semangat belajar yang luar biasa.
Beberapa menyebutnya Al-Farra’ atau Ibnul Farra’, julukan yang mengingatkan pada pekerjaan ayahnya. Tetapi siapa sangka, dari latar belakang sederhana inilah lahir sosok yang kelak akan menjadi rujukan ulama lintas generasi. ((Syekh ‘Ifaf Abdul Ghafur, Al-Baghawi wa Manhajuhu fit Tafsir, [Baghdad, Mathba’ah Al-Irsyad: 1983 M], hal. 34)
Semangat Ilmu yang Membara
Sejak muda, Al-Baghawi sudah menunjukkan kegigihan luar biasa dalam menuntut ilmu. Di tengah tradisi para ulama yang menempuh perjalanan jauh untuk belajar hadits dan fiqih, ia pun tidak pernah gentar. Ia memulai perjalanannya dari tanah kelahirannya, menimba ilmu dengan tekun, hingga akhirnya menapaki jalan panjang ke pusat-pusat ilmu di Khurasan.
Di Marw ar-Rudh, beliau belajar dari al-Qadhi al-Husain bin Muhammad al-Marwarrudzi. Bertahun-tahun ia menetap di sana, belajar fiqih, meriwayatkan hadits, dan mengasah metodologi ilmiahnya.
Tidak puas hanya dengan itu, ia menjelajahi kota-kota seperti Thus dan Sarakhs, menimba ilmu dari para huffazh terpercaya dan ahli bahasa ternama. Dari perjalanan ini lahirlah seorang ulama yang bukan hanya kuat dalam teks, tetapi juga tajam dalam analisis, metodis, dan mendalam dalam pemikiran.
Akidah dan Integritas Ilmiah
Salah satu hal yang membuat Imam Al-Baghawi menonjol adalah akidahnya yang teguh. Kredibilitas spiritual dan intelektual Imam Al-Baghawi diakui secara luas. Para ulama penulis biografi ternama, seperti Ibnu Nuqtah, menyebut beliau sebagai Imam, Hafidz, dan sosok saleh yang sangat dapat dipercaya (tsiqah).
Hal ini menunjukkan derajat tertinggi dalam penilaian kredibilitas (al-ta’dil). Pendapat ini diperkuat oleh Thasy Kubra Zadah, yang memuji Imam Al-Baghawi sebagai figur otoritatif (hujah) dengan prinsip yang teguh (tsabit) dan keyakinan yang murni, sehingga beliau menjadi rujukan yang tak tergoyahkan dalam khazanah pemikiran Islam. (Al-Baghawi wa Manhajuhu fit Tafsir, hal. 35)
Dari kesaksian para ulama ini, jelas bahwa akidah beliau adalah Ahlussunnah wal Jama’ah, sebuah fakta yang telah masyhur dan ditegaskan oleh penulis biografi lain seperti Ibnu Khallikan, Adz-Dzahabi, As-Subki, dan banyak lainnya.
Mengenai madzhab, Imam Al-Baghawi adalah pengikut Syafi’i, bahkan termasuk salah satu imam terkemuka dalam mazhab tersebut. Pilihannya dipengaruhi oleh lingkungan tempat beliau tumbuh dan para guru yang membimbingnya dalam ilmu fiqih.
Imam Al-Baghawi dikenal sebagai peneliti yang sangat teliti (muhaqqiq mudaqqiq) dalam ranah mazhab Syafi’i. Dedikasinya menghasilkan literatur fiqih otoritatif, terutama karya monumentalnya, At-Tahdzib, yang mendapat apresiasi tinggi dari ulama lintas generasi karena tingkat akurasi dan verifikasi penyusunannya yang presisi.
Imam Subki menegaskan bahwa beliau bukan hanya menempati kedudukan spiritual tinggi, tetapi juga memiliki keahlian fiqih istimewa, mampu memadukan ketelitian penukilan teks tradisional dengan analisis penelitian yang orisinal.
(hal. 36)
Berdasarkan rekam jejak ini, dapat disimpulkan bahwa Imam Al-Baghawi adalah pakar yang menduduki posisi strategis sebagai ahli tarjih dan ikhtiyar dalam mazhab Syafi’i. Ia memiliki otoritas untuk menimbang, menguatkan, dan memilih pendapat hukum yang paling relevan dan kuat dalilnya, tanpa terjebak pada fanatisme atau keberpihakan berlebihan. Segala pertimbangannya selalu berlandaskan objektivitas ilmiah, kekuatan argumentasi, dan kemurnian teks syariat.
Guru-guru Imam Al-Baghawi
Setiap ulama besar selalu dibentuk oleh gurunya. Imam Al-Baghawi belajar dari para guru terkemuka, seperti:
1. Ahmad bin Abi Nashr al-Kufani (Abu Bakar)
2. Hassan bin Said al-Mani’i al-Marwazi (Abu Ali) (w. 463 H)
3. Al-Husain bin Muhammad bin Ahmad al-Marwazi (Abu Ali), (w. 462 H)
4. Ziyad bin Muhammad Al-Hanafi (Abul Fadhl)
5. Abdul Rahman bin Muhammad bin Ahmad bin Fawran al-Fawrani al-Marwazi (Abu al-Qasim), (w. 461 H)
6. Abdurrahman bin Muhammad bin Muhammad bin al-Mudzhaffar ad-Dawudi al-Busyanji (Abu al-Hasan)
7. Abdul Wahid bin Ahmad bin Abi al-Qasim bin Muhammad al-Malihi al-Harawi (Abu Umar), (w. 463 H)
8. Ali bin Yusuf al-Juwayni, yang dikenal dengan julukan Syaikh al-Hijaz (Abu al-Hasan), (w. 463 H)
9. Umar bin Abdul Aziz bin Ahmad bin Yusuf al-Fasyani al-Marwazi (Abu Thahir), (w. 463 H)
10. Muhammad bin Muhammad asy-Syirazi (Abu al-Hasan)
Dan masih banyak lagi para ulama yang pernah menjadi guru dari Imam Al-Baghawi yang belum dapat disebutkan. (Al-Baghawi wa Manhajuhu fit Tafsir, hal. 40-45)
Karya-karya Imam Al-Baghawi
Berikut adalah beberapa di antara karya beliau:
1. Al-Arba'un ash-Shughra
2. Al-Anwar fi Syama'in Nabi al-Mukhtar: Kitab mengenai karakteristik Nabi .
3. Tarjamatul Ahkam: Kitab cabang hukum (fiqih) berdasarkan madzhab Syafi'i,
4. At-Tahdzib fil Fiqh: Juga dalam fikih madzhab Syafi'i.
5. Al-Jam'u bainas Shahihain: Kitab yang menghimpun hadits Shahih Bukhari dan Muslim,
6. Syarh Jami'ut Tirmidzi: Penjelasan (syarah) atas Sunan at-Tirmidzi.
7. Syarhus Sunnah: Salah satu karya monumentalnya dalam bidang hadits. Kitab ini sudah dicetak dan beredar luas.
8. Fatawa al-Baghawi: Himpunan fatwa beliau, naskahnya tersimpan di Perpustakaan Sulaimaniyah.
9. Al-Kifayah fi Furu'is Syafi'iyyah: Kitab fiqih Syafi'i,
10. Al-Kifayah fil Qira'ah: Mengenai ilmu qira'at Al-Qur'an.
11. Al-Madkhal ila Mashabihis Sunnah: Pendahuluan untuk kitab Mashabihus Sunnah. Naskah manuskripnya ada di Perpustakaan Qulah, Kairo.
12. Mashabih al-Sunnah: Karya sangat populer dalam bidang hadits yang mengklasifikasikan hadits shahih dan hasan. Sudah dicetak dan beredar luas.
13. Musykilul Qur'an: Membahas ayat-ayat yang tampak sulit dipahami,
14. Ma'alimut Tanzil: Inilah nama asli dari kitab Tafsir al-Baghawi.
15. Mu'jamus Syuyukh: Kitab yang mencatat daftar guru-guru beliau.
Menurut Imam adz-Dzahabi, karya-karya beliau tetap relevan hingga kini karena niat ikhlas (al-qashdu as-sholih), yang menjadi roh dari setiap tulisan dan perbuatannya. (Tafsir Al-Baghawi, jilid I, hal. 28)
Sekilas tentang Tafsir Al-Baghawi
Tafsir Al-Baghawi, yang nama lengkapnya Ma’alimut Tanzil fi Tafsiril Qur’an, lahir dari kombinasi dorongan kolektif dan permintaan tulus dari sahabat serta murid-murid dekat Imam Al-Baghawi.
Dalam mukadimah kitabnya, beliau menegaskan bahwa niat utama penyusunan tafsir ini adalah tanggung jawab ilmiah sebagai seorang ulama otoritatif: mendokumentasikan khazanah pemikiran Islam agar tetap terjaga keasliannya dan memberi manfaat berkelanjutan bagi generasi mendatang. (Tafsir al-Baghawi, jilid I, hal. 46)
Tafsir ini menjadi rujukan populer di kalangan Muslim Sunni karena metodologi yang jelas dan kehandalannya. Menurut Imam Adz-Dzahabi, Tafsir al-Baghawi termasuk salah satu tafsir bil ma’tsur (tafsir berdasarkan riwayat) terbaik dan paling aman, sangat dipercaya di kalangan para ahli ilmu.
Banyak ulama terkemuka, termasuk Ibnu Taimiyyah dan Al-Khazin, juga memuji kitab ini karena validitas pandangan dan ketaatannya pada Sunnah, sehingga merekomendasikannya sebagai rujukan utama bagi siapa pun yang ingin memahami Al-Qur’an secara akurat. (At-Tafsir wal Mufassirun, (Kairo; Maktabah Wahbah, tt), jilid I, hal. 168-170)
Wafatnya Imam Al-Baghawi
Imam Baghawi, wafat di Marw ar-Rudh pada bulan Syawal 516 H, meninggalkan dunia dengan reputasi mulia sebagai ulama yang tidak hanya menguasai ilmu, tetapi juga menghidupkan Sunnah melalui karya dan akhlaknya.
Imam Al-Baghawi adalah bukti nyata bahwa ilmu, kesalehan, dan ketekunan dapat bersinergi untuk mencetak warisan abadi. Dari perjalanan hidupnya, kita belajar bahwa seorang ulama sejati adalah mereka yang menghidupkan ilmu dengan akhlak, menulis dengan niat ikhlas, dan menuntun generasi dengan keteladanan.
---------
Muhammad Ryan Romadhon, Alumni Ma’had Aly Al-Iman, Bulus, Purworejo, Jawa Tengah.