Tokoh

Mengenal KH. Bisri Mustofa: Penyair, Politikus Ulung, dan Cendekiawan Tafsir Nahdlatul Ulama

Rabu, 11 Maret 2026 | 16:00 WIB

Mengenal KH. Bisri Mustofa: Penyair, Politikus Ulung, dan Cendekiawan Tafsir Nahdlatul Ulama

KH Bisri Mushtofa. Sumber: NU Online.

KH. Bisri Mustofa (1915–1977) merupakan salah satu tokoh penting Nahdlatul Ulama sekaligus tokoh nasional pada abad ke-20. Namanya dikenal luas sebagai ulama aktivis yang berperan dalam pergerakan nasional serta sebagai ulama yang produktif menulis karya. Salah satu karya monumentalnya adalah Tafsir Al-Ibriz, yaitu tafsir Al-Qur’an yang ditulis menggunakan bahasa Jawa Pegon. Melalui karya tersebut, Kiai Bisri dikenal sebagai salah satu cendekiawan tafsir dari kalangan Nahdlatul Ulama.

 

Sebelum membahas kiprah pergerakan dan perjuangannya di ranah nasional maupun di lingkungan Nahdlatul Ulama, penting kiranya untuk menjelaskan latar belakang serta perjalanan Kiai Bisri Mustofa dalam menuntut ilmu. Hal ini menjadi bekal penting yang membentuk karakter dan perannya dalam berbagai bidang kehidupan.

 

KH. Bisri Mustofa merupakan ulama kelahiran Rembang, Jawa Tengah. Ia lahir pada tahun 1915 M di Kampung Sawahan Gang Palen, Rembang. Beliau lahir dari pasangan H. Zainal Mustofa dan Chodijah. Nama kecil Kiai Bisri adalah Mashadi. Ia merupakan anak pertama dari empat bersaudara, yaitu Mashadi, Salamah (Aminah), Misbach, dan Ma’shum. Setelah menunaikan ibadah haji, nama Mashadi kemudian diganti menjadi Bisri Mustofa.

 

Pada tahun 1923, H. Zainal mengajak Kiai Bisri kecil untuk melaksanakan ibadah haji bersama rombongan keluarganya. Namun, setelah menunaikan ibadah haji, ayah Kiai Bisri wafat sebelum sempat menaiki kapal untuk kembali ke tanah air (Achmad Zainal Huda, Mutiara Pesantren: Perjalanan Khidmah KH. Bisri Mustofa, [Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2011], hlm. 8–10).

 

Sepulangnya ke tanah air, oleh H. Zuhdi, kakak tiri Kiai Bisri, ia didaftarkan ke sekolah Belanda yang bernama HIS (Hollandsch-Inlandsch School). Mengetahui hal tersebut, Kiai Cholil Kasingan meminta H. Zuhdi untuk membatalkan pendaftaran tersebut. Kiai Cholil berpendapat bahwa belajar di sekolah milik penjajah Belanda hukumnya haram. Selain itu, beliau juga khawatir Bisri kecil akan memiliki watak seperti penjajah Belanda. Akhirnya, Bisri kecil bersekolah di Sekolah Ongko 2, yaitu sekolah rakyat atau sekolah dasar bagi pribumi, dan menyelesaikan pendidikannya selama tiga tahun (Achmad Zainal Huda, hlm. 12).

 

Selain menempuh pendidikan formal, Kiai Bisri juga menimba ilmu di Pesantren Kasingan, Rembang di bawah bimbingan Kiai Cholil. Ia juga belajar kepada Syekh Ma’shum Lasem, seorang ulama besar di pesisir utara Jawa. Kiai Ma’shum merupakan sahabat Kiai Hasyim Asy’ari yang turut terlibat dalam pendirian Nahdlatul Ulama. Kiai Bisri muda juga melakukan tabarrukan kepada Kiai Dimyati Tremas di Pacitan. Dengan demikian, sanad keilmuan Kiai Bisri tersambung dengan jaringan ulama Nusantara (Moch Taufiq Ridho, KH Bisri Mustofa: Jejak Kebangsaan Kiai Pesisiran, [Banyuwangi: Shafiyah Publisher, 2025], hlm. 2).

 

Pada tahun 1935, Kiai Cholil menjadikan Kiai Bisri sebagai menantunya dengan menikahkannya dengan putrinya yang bernama Ma’rufah ketika Kiai Bisri berusia 20 tahun. Dari pernikahan tersebut, Kiai Bisri dan Ma’rufah dikaruniai delapan orang anak, yaitu Cholil, Mustofa, Adieb, Faridah, Najichah, Labib, Nihayah, dan Atikah (Achmad Zainal Huda, hlm. 11–22).

 

Merasa bahwa ilmunya belum cukup, pada tahun 1936 Kiai Bisri berangkat ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji sekaligus menimba ilmu kepada para ulama di sana. Dengan bekal yang sederhana, ia berangkat bersama dua temannya, yaitu Suyuthi Cholil dan Zuhdi. Selama sekitar satu tahun di Mekkah, Kiai Bisri belajar kepada sejumlah ulama, di antaranya KH. Bakir, Syekh Umar Chamdan Al-Maghribi, Syekh Maliki, Sayyid Amin, Syekh Hasan Masysyath, Sayyid Alawi, dan Kiai Abdul Muhaimin.

 

Setelah satu tahun menimba ilmu di Mekah, pada tahun 1937 Kiai Bisri diperintahkan oleh Kiai Cholil untuk segera pulang ke tanah air. Ia kemudian kembali ke Rembang dan membantu mertuanya dalam mengasuh pesantren di Kasingan (Moch Taufiq Ridho, hlm. 3).

 

Setelah wafatnya Kiai Cholil, Kiai Bisri menggantikan posisinya dalam mengajar di Pondok Pesantren Kasingan. Namun, pesantren tersebut akhirnya bubar pada masa pendudukan Jepang. Kiai Bisri kemudian melanjutkan perjuangan pendidikan pesantren dengan mendirikan Pondok Pesantren Raudhatut Thalibin di Jalan Leteh, Rembang.

 


Kiai Penyair dan Politikus Ulung

Menurut Kiai Sahal Mahfudh, Kiai Bisri Mustofa merupakan sosok yang luar biasa pada zamannya. Bukan hanya karena keluasan ilmunya, tetapi juga karena daya tarik, daya simpatik, dan daya pikatnya yang memukau siapa saja yang berhadapan dengan beliau.

 

Selain itu, Kiai Bisri Mustofa juga dikenal sebagai seorang penyair yang sering menggubah syair dari bahasa Arab ke dalam bahasa Jawa sehingga mudah dipahami oleh masyarakat. Di antara syair yang digubahnya adalah Ngudi Susilo dan Tombo Ati (Moch. Taufiq Ridho, hlm. 5).

 

Selain sebagai seorang kiai yang mengasuh pesantren, Kiai Bisri juga dikenal sebagai politikus yang disegani oleh berbagai kalangan. Sebelum Nahdlatul Ulama keluar dari Masyumi, beliau merupakan aktivis Masyumi yang gigih berjuang. Namun setelah Nahdlatul Ulama menyatakan diri keluar dari Masyumi, Kiai Bisri pun meninggalkan partai tersebut dan melanjutkan perjuangannya di tubuh Nahdlatul Ulama.

 

Pada Pemilu 1955, Kiai Bisri terpilih menjadi anggota Konstituante sebagai wakil dari Partai Nahdlatul Ulama. Setelah keluarnya Dekrit Presiden tahun 1959 yang membubarkan Dewan Konstituante dan membentuk Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS), beliau kemudian ditunjuk menjadi anggota MPRS dari kalangan ulama.

 

Pada tahun 1971, Kiai Bisri tetap konsisten berjuang di Partai Nahdlatul Ulama dan kembali terpilih menjadi anggota MPR dari daerah Jawa Tengah. Ketika pemerintah Orde Baru menerapkan kebijakan fusi terhadap partai-partai politik, Partai Nahdlatul Ulama bergabung ke dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Sejak saat itu, Kiai Bisri juga bergabung dan melanjutkan perjuangannya di PPP.

 

Pada tahun 1977, Kiai Bisri menjadi salah satu calon legislatif PPP dari Jawa Tengah. Namun kurang dari satu minggu menjelang berakhirnya masa kampanye, tepatnya pada hari Rabu, 17 Februari 1977, Kiai Bisri Mustofa dipanggil oleh Allah SWT (Ahmad Zainul Huda, hlm. 87).



Tafsir Al-Ibriz, Manifestasi Pemikiran Sang Mufassir

Kiai Bisri merupakan sosok ulama yang sangat produktif dalam berkarya. KH. Cholil Bisri menjelaskan bahwa jumlah seluruh karya Kiai Bisri Musthofa kurang lebih mencapai 176 buah. Bahasa yang digunakan dalam karya-karyanya pun bervariasi. Sebagian ditulis dalam bahasa Jawa dengan huruf Arab Pegon, ada pula yang menggunakan bahasa Indonesia dengan huruf Arab Pegon, bahasa Indonesia dengan huruf Latin, serta beberapa karya yang ditulis dalam bahasa Arab.

 

Salah satu karya monumental beliau adalah Tafsir Al-Ibriz. Tafsir ini ditulis menggunakan bahasa Jawa Pegon dan menjadi salah satu manifestasi pemikiran Kiai Bisri dalam menjelaskan Al-Qur’an kepada masyarakat.

 

Misnawati dalam jurnalnya menjelaskan bahwa Tafsir Al-Ibriz memiliki karakteristik yang unik. Keunikan tersebut terlihat dari metode penerjemahannya yang menggunakan dua langkah. Pertama, Kiai Bisri memberikan makna gandul dengan menerjemahkan setiap kosakata berdasarkan aspek nahwu, sharaf, dan lughawi, sementara ayat Al-Qur’an ditulis di bagian tengah. Keunikan lainnya terlihat dari penggunaan istilah khas pesantren seperti utawi, kelawan, iki, iku, ing ndalem, dan sebagainya.

 

Kedua, Kiai Bisri menafsirkan sekaligus menerjemahkan ayat Al-Qur’an secara menyeluruh dengan menggunakan bahasa Jawa yang ditempatkan di bagian samping lembaran kitab.

 

Tafsir Al-Ibriz sendiri memiliki corak kebahasaan dan sosial kemasyarakatan. Penjelasannya disampaikan dengan cara yang memudahkan pembaca untuk memahami isi tafsir tersebut. Bahasa yang digunakan tidak rumit, melainkan lugas dan dekat dengan kehidupan masyarakat. Selain itu, tafsir ini juga memadukan dimensi fiqih dan tasawuf dalam penjelasannya (Misnawati, Pemikiran KH. Bisri Musthofa dan Tradisi Kultural Jawa dalam Tafsir Al-Ibriz, Journal of Qur'anic Studies Vol. 8, No. 1, pp. 123–140, 2023).

 

Sebagai penutup, Kiai Bisri merupakan salah satu teladan yang patut dijadikan contoh oleh generasi masa kini, baik dalam hal produktivitas maupun kebermanfaatannya bagi masyarakat. Beliau tidak hanya dikenal sebagai politikus yang berjuang untuk Nahdlatul Ulama, tetapi juga sebagai ulama yang sangat produktif dalam menghasilkan karya-karya keilmuan.


Alwi Jamalulel Ubab, Penulis Keislaman, tinggal di Indramayu.