Dua puluh enam jamaah calon haji asal Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur terlunta-lunta di Bandara King Abdul Aziz (Jeddah) karena wakil perusahaan perjalanan yang mengurusi mereka tidak muncul-muncul. "Kami mencoba mengatasi bersama-sama agar bisa melanjutkan ibadah haji, " ujar Arfan Safir, salah seorang di antara mereka ketika ditemui di ruang tunggu Bandara KAA Jeddah, Ahad (22/11) dinihari.
Arfan mengaku berangkat menunaikan ibadah haji berlima bersama mertua, isteri, kakak dan anaknya setelah melunasi biaya haji sebesar Rp300-juta kepada perusahaan biro jasa PT. Bina Paksi Nusa Wisata (BPNW) Cabang Kutai yang berkantor pusat di Jakarta. "Jumlah itu belum termasuk ongkos macam-macam seperti ngurus paspor, visa, vaksinasi dan selamatan. Jika dihitung-hitung seluruhnya, habis sekitar Rp500-juta ", tuturnya.<>
Lebih jauh Arfan mengemukakan, ia sudah mendaftarkan haji sejak Desember lalu dan mendapat janji dari staf PT BPNW akan diberangkatkan pada 6 November. Namun keberangkatan mereka tertunda sampai tanggal 16 November, diundur lagi sampai 18 November, kemudian ditunda lagi sampai 19 November, itu pun hanya 74 orang yang jadi diberangkatkan ke Jakarta, sementara yang l6 orang masih lagi tertinggal di Kutai.
Setibanya di Jakarta, menurut Arfan, mereka diinapkan di losmen di kawasan Rawabokor, Jakarta Barat selama dua malam, baru kemudian pada Sabtu pagi diterbangkan dengan Lyon Air menuju Jeddah, itupun yang berangkat cuma 24 orang, 50 orang lagi masih tercecer di Jakarta. Menurut Arfan, ia terpisah dengan keluarganya karena isteri, anak, kakak dan mertuanya termasuk yang masih tertinggal di Jakarta. "Katanya akan diberangkatkan Senin besok, " kata Arfan, padahal menurut catatan ANTARA, Bandara KAA Jeddah sudah tertutup untuk kedatangan jemaah haji mulai Minggu pukul 24:00 waktu setempat.
Arfan dan 25 rekannya ketika dijumpai Sabtu malam pukul 22:00 waktu setempat atau sudah berada di bandara KAA sekitar sepuluh jam sedang mengumpulkan uang secara patungan untuk membayar biaya russum (layanan umum) sebesar SR1.029 (sekitar Rp3-juta) per jemaah.
Russum yang meliputi biaya penanganan kargo di Bandara KAA dan ongkos ke Mekah selayaknya sudah dibayar oleh perusahaan yang memberangkatkan mereka (PT BPNW). Jamaah lainnya, Ahmad Jaelani dengan mata berkaca-kaca menuturkan bahwa ia sama sekali tidak menyangka akan mendapat pelayanan begitu buruknya karena sebelumnya ia mendengar bahwa PT BPNW cukup bonafid.
"Saya sudah keluar uang banyak, koq pelayanannya seperti ini, " keluhnya, seraya menambahkan bahwa ia harus menanggung malu jika sampai gagal tidak bisa meneruskan ibadah hajinya. Barang-barang di bagasi milik sebagian jemaah itu juga tidak terangkut dan masih tertinggal di Jakarta, padahal ada yang menaruh uangnya di koper-koper yang tertinggal itu, juga pakaian ihram yang harus mereka kenakan ketika menuju Mekah. Sampai berita ini diurunkan, ke-25 calhaj tersebut masih menunggu kepastian untuk diberangkatkan ke Mekah (sekitar 70-Km dari Jeddah), sementara tidak seorangpun staf dari PT BPNW muncul. (ant)